Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Hari-hari Luar Biasa di Bulan Ramadhan

Gairah, spirit, atau semangat yang menjadikan manusia tetap bergerak melanjutkan asa dalam kehidupan

Editor: bakri
hand over dokumen pribadi
Iskandar Usman Al-Farlaky, S.HI 

Oleh Iskandar Usman Al-Farlaky, S.HI

Gairah, spirit, atau semangat yang menjadikan manusia tetap bergerak melanjutkan asa dalam kehidupan. Dan seharusnya letupan gairah seorang Muslim membara maksimal kala bulan suci Ramadhan tiba. Di bulan Ramadhan, kita disyariatkan berpuasa, yang memilki definisi menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya sebagaimana sudah diatur oleh ketentuan fiqh sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.

Konsep menahan diri di sini ada dalam dua model. Model pertama sifatnya lahiriah dan konkret seperti menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami-istri. Sementara model kedua sifatnya bathiniah seperti menahan diri dari ucapan-ucapan provokatif serta pikiran negatif yang dapat meruntuhkan nilai-nilai atau hikmah ibadah puasa.

Sejatinya, untuk menuju kesempurnaan ibadah puasa Ramadhan, seseorang harus memperhatikan kedua komponen tersebut. Selain berpuasa di siang hari, Ramadhan di malam harinya juga sudah menawarkan kita kenikmatan shalat Tarawih berjamaah. Shalat yang hanya ada di bulan suci dan syiarnya begitu memesona sampai mampu mendisiplinkan siapa saja yang tergerak ke arahnya.

Di bulan suci Ramadhan, ada momen-momen khusus yang tidak terdapat di bulan dan waktu lain. Kekhususan ini bertujuan mendidik seorang Muslim untuk fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan untuk menggapai kekhususan momentum tersebut. Seperti halnya momen malam Lailatul Qadar, malam yang mana Allah menyebutnya dengan malam yang lebih baik dari 1.000 bulan.

Bayangkan saja, satu malam kita sempat beribadah di malam Qadar tersebut, maka sama halnya kita seperti sudah beribadah selama 83 tahun 4 bulan. Kiranya siapa yang dapat memastikan manusia ini hidup dan mampu beribadah dalam waktu selama itu?

Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri dalam literasi sejarah yang mutawattir menyebutkan bahwa di malam Lailatul Qadar pula Allah menurunkan Alquran, yang sering diperingati sebagai hari besar Islam dengan peringatan Nuzulul Quran, malam turunnya Alquran. Sebagaimana dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr ayat 1-5).

Malam Nuzulul Quran, dalam adat dan budaya masyarakat Aceh adalah momentum yang luar biasa diperingati di bulan suci Ramadhan. Jika di bulan lainnya ada kenduri Maulidir Rasul, menyambut tahun baru Hijriah, Israk dan Mikraj, hari raya Idul fitri dan Idul Adha, maka Nuzulul Quran juga merupakan momen yang tidak kalah pentingnya.

Bahkan, masjid-masjid dan meunasah-meunasah membuat kegiatan khusus menyambut malam Nuzulul Quran, baik dengan buka puasa bersama dan santunan anak yatim, ceramah akbar seusai Tarawih, khataman Quran, dan berbagai seremonial lainnya.

Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran memiliki makna filosofis bagi Aceh yang digelari sebagai negeri Serambi Makkah berazas syariat Islam. Gema bacaan Alquran yang dilantunkan setiap malam mulai awal sampai akhir Ramadhan menunjukkan bahwa Alquran merupakan ‘oksigen’ bagi setiap Muslim yang rindu akan kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan dunia akhirat. Alquran merupakan menara cahaya yang menerangi hati para hamba yang dipenuhi akan cinta. Cinta terhadap sesama manusia, cinta terhadap Rabb-Nya, serta cinta terhadap segala kebaikan, keadilan, dan kemakmuran.

Ramadhan tahun ini begitu spesial dan istimewa bagi semua rakyat Aceh, karena kita menjalaninya masih dalam musibah pandemi Covid-19, tapi tidak menyurutkan langkah kita untuk berpuasa dan shalat Tarawih.

Mari, mempersiapakan diri, menata hati, serta menggelorakan spiritualitas dan mentalitas kita untuk saling membersamai dalam menyambut segala momen spesial dalam bulan suci Ramadhan dengan mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi. Siapa tahu, Ramadhan ini dapat menjadi momentum pembawa perubahan besar bagi pribadi kita, bagi bangsa, dan tanah endatu kita Aceh tercinta.

* Penulis adalah Sekretaris Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Email: is.farlaky@gmail.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved