Breaking News:

Salam

Serangan Virus Makin Parah, Patuhilah Anjuran Pemerintah

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, saat ini sudah ada 16 kasus Covid-19 di Indonesia yang disebabkan penularan

For Serambinews.com
Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, bersama Forkopimda mengikuti vidcon rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 dengan Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan,  Menteri Perhubungan , Menteri Agama  dan Kepala BNPB/Kasatgas Covid 19 secara virtual di Pendopo Gubernur Aceh, Banda Aceh, Senin (3/5/2021) 

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, saat ini sudah ada 16 kasus Covid-19 di Indonesia yang disebabkan penularan mutasi baru dari Inggris, India, dan Afrika Selatan. “Ada dua insiden (penularan dari India) yang sudah kita lihat dua-duanya di Jakarta dan satu insiden dari Afrika Selatan itu ada di Bali," lapor Budi ke Presiden Jokowi.

Sebelumnya sudah ditemukan 13 kasus mutasi dari Inggris. Budi tidak mengungkapkan secara detail apakah yang dimaksud adalah mutasi B.1.1.7, B.1.617 atau mutasi lainnya. Hanya saja, dia menekankan bahwa 16 kasus penularan dari mutasi-mutasi tersebut masuk sebagai kategori varian of concern atau mutasi yang memang sangat diperhatikan organisasi kesehatan dunia (WHO). Yang sangat menakutkan dan harus menjadi perhatian kita semua adalah, sifat virus varian baru ini sangat cepat penularannya. Inilah yang harus kita jaga. Mumpung masih sedikit karena mereka pasti akan segera menyebar karena penularannya relatif lebih tinggi dibandingkan yang lain.

Pertanyaannya, apa yang dilakukan pemerintah serta apa yang dapat dilakukan masyarakat dalam rangka mencegah semua varian virus berbahaya itu? Dari banyak kalangan kita mendapat sejumlah tips untuk itu. Misalnya, ada yang mengatakan, "Pencegahannya bisa dengan contact tracing, karantina, isolasi, menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, serta dengan iman, aman, dan imun."

Pelacakan kontak atau contact tracing merupakan proses mengidentifikasi, menilai, dan mengelola orang-orang yang telah terpapar suatu penyakit untuk mencegah penularan lebih lanjut. Adapun orang-orang ini adalah mereka yang termasuk kontak erat. WHO mendefinisikan "kontak" adalah setiap orang yang bersentuhan langsung atau berada dalam jarak satu meter selama setidaknya 15 menit dengan seseorang yang terinfeksi Covid-19, meski tidak bergejala. "Kontak" harus tetap dalam karantina mandiri selama periode pemantauan 14 hari untuk membatasi kemungkinan orang lain terinfeksi berjaga-jaga jika kontak tersebut sakit.

Menurut WHO ketika diterapkan secara sistematis, pelacakan kontak akan memutus mata rantai penularan, yang artinya penularan virus dapat dihentikan. Untuk fokus pelacakan dilakukan pada kontak yang rentan, antara lain kontak rumah tangga, petugas kesehatan, tempat tertutup yang berisiko tinggi (seperti asrama, panti, rumah perawatan, dan fasilitas berjangka panjang lainnya).

Kalangan ahli mengingatkan, orang berusia lanjut cenderung rentan terhadap infeksi Covid-19. Sebab, sistem kekebalan tubuh bekerja maksimal ketika kita berada di usia produktif dan menurun seiring bertambahnya usia. Diketahui, usia imunologis beberapa orang berbeda-beda.

Beberapa orang memiliki sistem kekebalan tubuh yang serupa dengan kelompok usia mereka, tetapi ada pula yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang berbeda dengan kelompok usianya. Kendati demikian, ada beberapa orang positif Covid-19 yang masih berusia muda mengalami komplikasi lebih serius dari mereka yang lansia. Bagi masyarakat, ada beberapa cara untuk mencegah tertular virus Corona termasuk yang sudah bermutasi. Antara lain menjalani pola hidup sehat dengan memberi asupan makan yang sehat dan sempurna. Lalu, istirahat cukup dan WHO mengimbau perokok untuk berhenti merokok.

Kemudian, hindarilah berlama-lama di keramaian seperti di pasar yang sedang sangat membludak menjelang lebaran ini. Selalulah cuci tangan usai ke tempat umum atau menyentuh alat-alat publik karena berpotensi mengandung virus yang disentuh pengidap virus Corona. Yang tak boleh ada lupakan ada;ah selalu pakai masker saat berada di ruang publik. "Lalu bagi yang sakit flu dan batuk, tanamkan etika batuk. Jadi ketika batuk, mulut ditutup dengan tisu. Lalu jangan meludah sembarangan, buang dahak sembarangan, juga hindari kerumunan dan lekas periksa ke dokter. Itu tips penting buat masyarakat." kata seorang dokter. Nah?!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved