Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Visi Malam Seribu Bulan

Alquran menginformasikan bahwa ayat pertama diturunkan pada suatu malam yang dinamakan laylat al qadr. Malam tersebut dipandang

Editor: hasyim
Visi Malam Seribu Bulan
IST
DR. MUNAWAR A. DJALIL, MA Pegiat Dakwah, Tinggal di Blang Beringin Gampong Cot Masjid, Banda Aceh

Oleh Dr. Munawar A. Djalil, MA

Alquran menginformasikan bahwa ayat pertama diturunkan pada suatu malam yang dinamakan laylat al qadr. Malam tersebut dipandang sebagai malam yang penuh keberkahan dan kemuliaan, lebih mulia dari seribu bulan. Maka, berbahagialah orang yang menemukannya. Untuk mencari keberkahan dan kemuliaan di malam itu, Rasullullah menganjurkan agar umat Islam mempersiapkan diri menyambutnya secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu dua puluh hari Ramadhan.

Sampai di sini, yang menjadi permasalahan adalah apakah laylat al qadr itu hanya menjanjikan sejumlah rahmat bagi manusia berupa rezeki, doa dikabulkan, dan dosanya diampuni? Atau malam tersebut jika diperoleh akan memiliki dampak perubahan dan orientasi dan kualitas hidup bagi mereka yang menmukannya.

Untuk meruntutkan jalur analisis ini, berikut akan dijelaskan rekaman singkat tradisi pemahaman laylat al qadr di kalangan sebagian umat Islam. Ada yang memahami berdasarkan nash bahwa laylat al qadr adalah malam penuh berkah dan rahmat sehingga ia peru dicari dan ditemukan. Bahkan, ada yang berusaha menunggunya dengan berjaga sepanjang malam pada bulan Ramadhan sembari berpikir di benaknya bahwa di antara tanda-tanda laylat al qadr itu antara lain "hujan rintik-rintik", "suasana malam yang dingin", dan lain sebagainya.

Ditemukan pula suatu riwayat yang berkembang di kalangan umat Islam bahwa pada suatu malam di masa lampau seseorang mengikat tali kudanya pada pohon kelapa yang sedang tumbang. Tapi, pada pagi hari ia terperanjat melihat kudanya sudah tergantung pada pohon kelapa yang berdiri dengan kukuh. Sebab, pada malamnya pohon kelapa itu tumbang (bersujud ke tanah) dalam rangka menghormati laylat al qadr yang sedang berlangsung.

Di tengah tradisi pemahaman tersebut, yang sangat menarik perhatian adalah tak seorang pun di antara umat ini yang dapat berkata bahwa ia sudah menemukan atau memperoleh malam yang berkah itu. Sehingga timbul kesan bahwa hanya ustaz dan ulama sajalah yang dapat memperolehnya. Namun, ketika kita memeprtanyakan kepada ulama dan ustaz, tak satu pun di antara mereka yang dapat berkata bahwa malam berkah itu pernah ditemukannya.

Kalau demikian halnya, dimana sebetulnya laylat al qadr, mungkinkah ia misterius? Atau pemahaman kita yang tidak tepat mengenalnya? Menjawab asumsi tersebut, di kalangan umat Islam terdapat paling kurang tiga visi mengenai laylat al qadr.

Pertama, laylat al qadr diartikan sebagai penetapan dan pengaturan yaitu penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Demikian juga momentum turunnya Alquran penetapan strategi baru bagi Nabi Muhammad SAW untuk mengubah arah sejarah manusia.

Kedua, laylat al qadr diartikan sebagai kemuliaan. Jadi malam tersebut adalah malam yang mulia yang tiada taranya merupakan titik tolak untuk memperoleh segala kemuliaan yang dapat diraih. Dan yang paling mengesankan di sini adalah isyarat Allah bahwa bagi siapa saja yang ingin memperoleh kemuliaan darinya hendaknya diusahakan dengan gemar dan banyak membaca Alquran.

Ketiga, laylat al qadr sebagai "sempit" karena banyaknaya malaikat yang turun ke bumi membawa keselamatan dan kebahagiaan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved