Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Kedamaian di Bulan Suci

Ramadhan merupakan bulan suci yang di dalamnya diturunkan Alquran. Kitab suci Alquran di dalamnya termaktub ajaran para Nabi

Editor: hasyim
Kedamaian di Bulan Suci
IST
Dr. Abdul Rani Usman, M.Si, Wakil Bidang Perencanaan Baitul Mal Aceh

Oleh Dr. Abdul Rani Usman, M.Si

Ramadhan merupakan bulan suci yang di dalamnya diturunkan Alquran. Kitab suci Alquran di dalamnya termaktub ajaran para Nabi sebelumnya seperti Nabi Daud, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad SAW. Islam sebagai subtansi ajarannya mengabdi kepada Allah serta menjadi manusia yang saleh, sehingga komunikasi dengan Allah dan manusia berjalan harmonis. Islam sebagai agama rahmat bagi semua manusia bukan saja bagi manusia termasuk makhluk lainnya. Ajaran yang disyariatkan di antaranya puasa.

Puasa disyariatkan dalam Al-Baqarah 183. Puasa telah diwajibkan kepada para Nabi yang lain, agar manusia itu bertakwa. Roh puasa menciptakan manusia bertakwa. Artinya, perintah melaksanakan puasa itu menjadi subtansi jika dihubungkan dengan perintah Allah. Namun, merasakan lapar dan dahaga di siang hari menjadi cerminan kesabaran dan keimanan seseorang. Seorang beriman selalu mengerjakan apa yang diperintahkan Allah.

Akan tetapi, seorang intelektual yang beriman perintah berpuasa mempunyai logika agar kita dapat merasakan bagaimana laparnya seorang miskin yang tidak punyai beras misalnya sehingga ia tidak dapat makan sehari tiga kali. Sedangkan seorang dokter menganalisa perintah berpuasa erat kaitannya dengan metabolisme yang harus istirahat setelah berkerja selama satu tahun (tidak pernah berhenti).

Sedangkan seorang ulul albab memaknai puasa dalam berbagai dimensi. Artinya puasa sebagai kewajiban sekaligus bermanfaat bagi kesehatan badan. Ulul albab memaknai puasa sebagai kewajiban sekaligus dapat bermanfaat bagi kesahatan manusia juga puasa menjadi model ketakwaan manusia yang diujicobakan di bidang kesehatan serta dalam keharmonisan dalam menjaga kesenjangan antara si miskin dan si kaya bagaimana jika tidak makan selama satu hari.

Memaknai puasa dalam kedamaian menjadi simbol keharmonisan, menjaga kehormatan di dalam masyarakat yang plural. Kedamaian di bulan puasa dapat dilihat dari fenomena masyarakat di Aceh. Semua masyarakat begitu senang menyambut puasa dan menjalankan ibadah lainnya seperti shalat Tarawih.

Shalat Tarawih terlihat damai di masyarakat dan damai dalam hati orang yang menjalankan ibadah puasa plus shalat Tarawih serta mengaji di malam hari. Shalat Tarawih dilaksanakan beragam yakni 8 atau 20 rakaat. Fenomena tersebut terlihat di satu masjid yang sebagian melaksanakan 8 rakaat dan sebagian lainnya melaksanakan 20 rakaat.

Kedamaaian terlihat adanya kesepahamaan di antara masyarakat bahwa subtansinya adalah menunaikan ibadah puasa dengan shalat Tarawihnya. Namun, sedikit perlu pencerahan ulul albab kepada jamaah yang menginginkan semua kita harus melaksanakan Tarawih seragam atau sama rakaatnya.

Seorang ulul albab diharapkan menjelaskan dalil tentang syariat shalat Tarawih. Pencerahan ulul albab menjadi terbuka untuk mendalami syiar shalat Tarawih. Masyarakat awam haus akan dalil kongkrit tentang pelaksanaan shalat Tarawih. Di pihak lain, ulul albab juga harus menjadi mata hati guna menjelaskan mana dalil dan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Islam sesudah Nabi dan saat ini.

Kedamaian lain dirasakan terutama di Banda Aceh teramati di pasar atau di sore hari, penjual kue yang menjual bekal berbuka puasa dilakukan oleh orang-orang yang belum beriman kepada kewajiban berpuasa. Kebahagian terlihat dari wajah mereka jika jualannya habis dibeli oleh mereka yang berpuasa.

Artinya, kedamaian hati didapatkan oleh manusia bukan saja orang yang beriman akan tetapi juga dirasakan oleh orang yang belum beriman. Kedamaian di bulan suci sedikit terpublikasi oleh pihak media dari kebahagian orang yang belum beriman.

Pengkajian yang berulang tentang dalil disyariatkan shalat malam perlu dicerahkan ulul albab kepada kaum Muslim setiap saat dan konteks zaman dan dalam konteks tradisi. Sedangkan kedamaian kaum bagi kaum belum beriman memerlukan kajian psikologis antropologi guna puasa menjadi media ketakwaan dan kedamian haki bagi semua orang. Aamiin

* Penulis adalah Wakil Bidang Perencanaan Baitul Mal Aceh dan Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: araniusman@yahoo.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved