Breaking News:

Muslim Uighur

PBB akan Bahas Isu Muslim Uighur, Cina marah dan Desak Negara Lainnya Tidak Hadir

Tujuan dari acara tersebut adalah untuk membahas bagaimana sistem PBB, negara anggota dan masyarakat sipil dapat mendukung dan mengadvokasi hak asasi

Editor: Eddy Fitriadi
AFP/Mahmoud ZAYYAT
Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (UNIFIL) berpatroli desa Mais el Jabal, sepanjang perbatasan selatan Lebanon dengan Israel pada 26 Agustus 2020. 

SERAMBINEWS.COM - Cina mendesak negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk tidak menghadiri acara yang direncanakan minggu depan oleh Jerman, Amerika Serikat (AS), dan Inggris.

Acara itu membahas tentang penindasan terhadap Muslim Uighur dan minoritas lainnya di Xinjiang.

"Ini adalah acara bermotivasi politik," tulis misi PBB di Cina dalam catatan tertanggal Kamis (6/5/2021) yang dilihat Reuters. "Kami meminta misi Anda untuk TIDAK berpartisipasi dalam acara anti-Cina ini."

Cina menuduh penyelenggara acara tersebut, yang juga mencakup beberapa negara Eropa lainnya bersama dengan Australia dan Kanada, menggunakan masalah hak asasi manusia sebagai alat politik untuk mencampuri urusan dalam negeri Cina.

Salah satunya terkait Xinjiang, untuk menciptakan perpecahan dan turbulensi serta mengganggu pembangunan Cina.

"Mereka terobsesi untuk memprovokasi konfrontasi dengan Cina," tulis catatan itu. Peristiwa provokatif hanya dapat menyebabkan lebih banyak konfrontasi.

Misi Cina untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak segera menanggapi permintaan komentar Reuters soal ini.

Duta besar Amerika Serikat, Jerman dan Inggris akan berpidato di acara virtual PBB pada Rabu pekan depan, bersama dengan Direktur Eksekutif Human Rights Watch Ken Roth dan Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnes Callamard.

Tujuan dari acara tersebut adalah untuk membahas bagaimana sistem PBB, negara anggota dan masyarakat sipil dapat mendukung dan mengadvokasi hak asasi manusia anggota komunitas etnis Turki di Xinjiang.

Negara Barat dan kelompok hak asasi menuduh pihak berwenang di Xinjiang menahan dan menyiksa orang Uighur di kamp-kamp, ​​yang oleh Amerika Serikat disebut sebagai genosida.

Pada bulan Januari 2021, Washington melarang impor kapas dan produk tomat dari Xinjiang atas tuduhan kerja paksa.

Beijing menyangkal tuduhan tersebut dan menggambarkan kamp tersebut sebagai pusat pelatihan kejuruan untuk memerangi ekstremisme agama.

"Beijing telah mencoba selama bertahun-tahun untuk menggertak pemerintah agar bungkam tetapi strategi itu telah gagal total, karena semakin banyak dan negara-negara maju untuk menyuarakan kengerian dan kebencian atas kejahatan Cina terhadap Uyghur dan Muslim Turki lainnya," kata Direktur Human Rights Watch PBB Louis Charbonneau, Jumat lalu.(*)

Artikel ini telah tayang di kontan.co.id dengan judul ‘China Marah Dengan Acara PBB yang Bakal Bahas Muslim Uighur’

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved