Selasa, 9 Juni 2026

Berita Internasional

Saman Getarkan Busan: Ketika Warisan Gayo Menjadi Bahasa Dunia

Indonesia diwakili Tari Saman dari Provinsi Aceh.  Menghadirkan sebuah pertunjukan yang lahir dari pegunungan Gayo. 

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Penampilan Tim Saman Gayo Provinsi Aceh di Busan 

SERAMBINEWS.COM, BUSAN - Senja di Pantai Haeundae, Busan. Angin berembus lembut, Sabtu, 6 Juni 2026. Di sebuah panggung terbuka dengan latar  laut,  delegasi seni dari 13 negara dengan latar budaya, dan bahasa yang berbeda tampil mengisi panggung itu. 

Indonesia diwakili Tari Saman dari Provinsi Aceh.  Menghadirkan sebuah pertunjukan yang lahir dari pegunungan Gayo. 

Ketika penyair Fikar W. Eda melangkah ke panggung mengenakan pakaian adat Gayo lengkap dengan Upuh Ulen-Ulen, suasana seketika berubah hening. Di lehernya menggantung canang, alat musik tradisional yang biasa dipakai sebagai "harie." Budaya "memberi kabar". 

Baca juga: Tari Saman Jadi Simbol Persatuan, Pemkab Gayo Lues Ajak Generasi Muda Lestarikan Warisan Dunia Itu

Denting canang berpadu dengan suara ombak yang berkejaran di pantai.

Lalu puisi "Seribu Saman" mulai mengalir diiringi gerak  menyerupai elang mengepakkan sayap, ia berputar mengitari panggung. Kata-kata, bunyi, dan gerak menjelma menjadi satu kesatuan artistik yang memikat perhatian penonton.

Tidak sedikit yang mengangkat telepon genggam mereka, merekam setiap detik pembukaan yang terasa magis itu.

Namun kejutan sesungguhnya baru dimulai. Dari sisi panggung, tiga belas pemain Saman memasuki arena pertunjukan. Mereka duduk berjejer rapat. Lalu terdengar rengum, suara pembuka khas Tari Saman yang menggema di ruang terbuka.

Suara itu seolah membelah senja Busan.

Dalam hitungan detik, gerakan tangan para penari mulai bergerak serempak. Pelan. Teratur. Kemudian semakin cepat. Semakin rapat. Semakin memukau.

Baca juga: Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh

Penonton yang semula hanya menyaksikan, perlahan larut dalam irama.

Tepuk tangan pertama terdengar. Lalu tepuk tangan kedua. Kemudian tepuk tangan berikutnya datang berkali-kali sepanjang pertunjukan.

Setiap pergantian pola gerak selalu disambut decak kagum. Para penonton seperti tidak percaya melihat bagaimana para pemain yang sebagian besar masih duduk di bangku sekolah menengah itu mampu menampilkan kekompakan luar biasa. 

Tidak ada yang mendahului. Tidak ada yang terlambat. Semua bergerak dalam satu irama, satu napas, dan satu energi.

Di hadapan publik internasional, Saman tidak lagi sekadar tarian. Ia menjelma menjadi pertunjukan tentang disiplin, kebersamaan, dan kekuatan kolektif manusia.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, Tari Saman menghadirkan pesan yang sederhana namun kuat: tidak ada keindahan tanpa kebersamaan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved