Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Satukan Kiblat Shalat dengan Muamalat

Fukaha sepakat bahwa salah satu syarat sahnya shalat seseorang adalah menghadap kiblat di samping suci badan, pakaian, dan tempat dari najis

Editor: bakri
Satukan Kiblat Shalat dengan Muamalat
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Zaki Fuad, M.Ag

Oleh Dr. Zaki Fuad, M.Ag

Fukaha sepakat bahwa salah satu syarat sahnya shalat seseorang adalah menghadap kiblat di samping suci badan, pakaian, dan tempat dari najis, masuk waktu shalat, serta menutup aurat. Kiblat dari bahasa Arab, al-qiblah, berarti arah, yaitu menghadap ke suatu tempat. Bangunan Ka'bah atau arah yang dituju kaum muslimin dalam melaksanakan sebagian ibadah.

Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 144dan150, "Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya." Di hadis riwayat ibnu Majah dan al-Tirmizi Nabi bersabda "arah antara timur dan barat adalah kiblat." Berdasarkan nash ini kiblat bagi umat Islam merupakan hal penting agar pelaksanaan sebagian ibadah memenuhi syarat dan sah hukumnya agar diterima Allah SWT.

Bagi seorang Muslim yang beriman kepada Allah secara ikhlas, setiap pelaksanaan ibadah wajib ataun sunnah maka yang dicari adalah bagaimana mempersembahkan ibadah itu agar diterima Allah dan mendapat ganjaran pahalanya karena mencari ridha-Nya. Wujud dari pengabdian itu dalam ajaran Islam ada yang bersifat pribadi (fardiyah) dan bersama-sama (jam'iyah) agar sebuah perintah itu tuntas pelaksanaannya sesuai syariat.

Dalam kehidupan seorang Muslim pelaksanaan ibadah fardiyah (fardhu a'in) seperti shalat dan puasa tidaklah mungkin terputus atau selesai dengan ibadah ini saja, tapi ia berkaitan dengan ibadah muamalah yang bersifat umum dalam kehidupan sehari-hari. Karena secara naluriah komunitas itu berasal dari himpunan pribadi dalam sebuah kelompok.

Bila dianalogikan seorang Muslim yang taat malaksanakan shalat tetapi secara sosial kurang berdampak bagi masyarakat karena perilaku sosial muamalahnya tidak seuai dengan Islam, maka pelaku shalat tersebut masih saja belum sempurna ibadah pribadi dan sosialnya. Islam membedakan keduanya, namun yang dituntut adalah bagaimana seseorang yang secara individual shalih dapat berdampak pada kesalihan sosial agar kekaffahan pelaksanaan ibadahnya berdampak positif bagi lingkungan di mana ia berada dan merupakan sebuah perwujudan pelaksanaan syariat Islam sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT.

Realitas menunjukkan masih banyak di antara umat Islam yang masih mendua dalam pelaksanaan syariat Islam, di Aceh sebagai sampel, satu sisi ia begitu taat shalatnya, tapi muamalahnya masih mengingkari kesempurnaan syariat Islam. Padahal, ketika seseorang shalat disaat membaca inna shalati wanusuki wa mahyaya wamamati lillahirabbil `alamin telah berjanji bahwa seluruh hidup dan kehidupannya dijalani sesuai kehendak Allah SWT.

Karena yang dikatakan beriman itu adalah amantu billah wabima qalallah dan amantu birrasul wabima qalarrasul, aku beriman kepada Allah dan apa yang dikatakan Allah di dalam Alquran dan aku beriman kepada Rasul dan apa yang disabdakannya di hadis. Pertanyannya kenapa masih mendua? Padahal arah kiblat kita satu (Islam) dan tujuan hidup kita satu memberikan pengabdian terbaik kepada Allah SWT di saat kita kembali kepada-Nya.

Allah SWT telah memberikan kepada manusia syariat yang dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Allah SWT sebagai pembuat syariat telah menetapkan sejumlah aturan yang harus dijalaninya, karena dengan aturan itulah manusia dapat hidup damai dan tenteram. Sebaliknya, jika manusia berpaling (dari syariat-Nya) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki dan melimpahkan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. (al-Maidah/49).

Ayat ini menegaskan bahwa syariat Allah dalam bidang ibadah dan muamalah merupakan satu kesatuan jalan lurus yang harus dipedomani manusia. Jika ia menyalahi aturan itu, niscaya dia akan jatuh ke dalam kesengsaraan hidup seperti kita alami selama ini ". Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat dhalim terhadap dirinya sendiri." (al-Talaq/1).

Allah SWT tidak menghendaki syariat Islam itu statis hanya tertulis dalam aturan hukum, tapi Dia menghendaki agar aturan itu dapat diterapkan dalam kehidupan praktis manusia. Untuk itulah, Allah SWT mengutus para Rasul yang mengajarkan manusia mempraktikkan syariatnya dalam kehidupan sehari-hari. Mari satukan kiblat shalat dan muamalat melalui pelaksanaan syariat Islam kaffah yang tersedia regulasinya, jangan hipokrit dengan perjanjian suci di setiap kita membaca doa iftitah dalam shalat.

* Penulis adalah Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry. Email: zakifuad691@gmail.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved