RAMADHAN MUBARAK
Ramadhan Bulan Kemenangan Umat Islam
Orang-orang yang menang akan merasa mudah untuk terus shalat wajib tepat waktu dan shalat sunnat, mudah untuk berpuasa, bersedekah, peduli terhadap se
Oleh Prof Dr Jarjani Usman, MSc. Guru Besar UIN Ar Raniry Banda Aceh
Bila diibaratkan dengan tamu, bulan suci Ramadhan adalah tamu agung yang sebulan penuh bersama kita dan kini akan pulang. Selama bersama kita, Ramadhan menawarkan banyak keberkahan (ampunan dosa, pahala berlipat ganda, kebahagiaan, pintu surga ar-Rayyan, perlindungan dari neraka, syafaat di akhirat, dan lain-lain).
Di bulan suci ini dibukakan pintu-pintu langit, yang siap menerima permohonan doa-doa kita. Harusnya, setiap diri kita menyadari hal ini dan berusaha sekuat tenaga untuk bangkit meraih semua itu sebagai kemenangan besar, yang belum tentu ada peluang itu pada tahun mendatang.
Meraih kemenangan
Ramadhan bukan perkara mahal, rumit, dan pandang kelas sosial. Siapapun yang beriman berpeluang meraihnya. Makanya begitu datangnya Ramadhan, orang-oang beriman langsung menyambutnya dengan hati gembira dengan melaksanakan shalat tarawih, berpuasa sebulan penuh, dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Tentunya shalat tarawih, berpuasa dan membaca ayat-ayatsuci Al-Qur’an bisa dilakukan siapa saja, tak pandang pangkat, jabatan, dan kaya.
Bila sukses berpuasa, kita bisa menang meraih pintu Ar-Rayyan di akhirat, sebuah pintu surga yang hanya disediakan untuk orang-orang berpuasa. Begitu juga, membaca Al-Qur’an, setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca dengan mengharapkan ridha-Nya diberikan pahala berkali lipat. Apalagi ditambah dengan bersedekah, yang pahalanya dilipatgandakan.
Bukan hanya itu, di bulan Ramadhan juga terdapat malam penuh berkah Lailatul Qadar. Barangsiapa beribadah padam malam itu sama dengan lebih dari beribadah 1.000 bulan (Al-Quran 97: 1-3) atau 83 tahun lebih. Tak mudah beribadah 83 tahun lebih bagi setiap hamba di zaman sekarang, karena rata-rata berumur sekitar 60 tahun.
Belum lagi dipotong masa bayi dan kanak-kanak. Makanya orang-orang beriman rela mengorbankan waktu tidurnya untuk menunggu dan mengharapkan malam Qadar dengan khusyuk beribadah. Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan pengharapan pahala, maka diampuni dosa masa lalunya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Banyak sekali ibadah lain dalam bulan suci Ramadhan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan pahala berlipat ganda. Yang berhasil menang di bulan suci Ramadhan akan terbentuk menjadi insan-insan yang bertakwa, yang istiqamah melanjutkan ibadah-ibadah tersebut sepanjang hidupnya.
Orang-orang yang menang akan merasa mudah untuk terus shalat wajib tepat waktu dan shalat sunnat, mudah untuk berpuasa, bersedekah, peduli terhadap sesama, dan lain-lain.
Besarnya pahala kemenangan di bulan Ramadhan sepatutnya disambut dengan suka cita.
Sebaliknya, yang gagal meraihnya sesungguhnya suatu penyesalan dahsyat. Betapa tidak, sebuah tawaran besar dan penuh makna bagi kehidupan seseorang di dunia dan akhirat, berlalu begitu tanpa mampu meraihnya. Bahkan Rasulullah pernah bersabda, “Celakalah hamba yang mendapati bulan Ramadhan dan kemudian Ramadhan berlalu, dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni,” (HR. Ahmad).
Karena itu, agar tidak terperosok ke jurang kegagalan, kita diingatkan untuk menjaga diri dari sejumlah perkara. Perkara-perkara yang bisa menggerogoti jalan-jalan menuju kemenangan besar itu. Di antaranya, melakukan perbuatan ghibah, korupsi, dan perbuatan keji lainnya. “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah justru melakukannya, maka Allah Taala tidak butuh terhadap rasa lapar dan haus yang dia tahan” (HR. Bukhari).
Memang tidak mudah meninggalkan sesuatu perbuatan yang sudah menjadi kebiasaan dalam hidup dan menawarkan banyak keuntungan duniawi. Inilah hidup di dunia yang singkat ini, yang ditawarkan kepada kita; kita diajak untuk pandai memilihnya.
Memilih dunia fana tetapi tidak memperolah apa-apa di akhirat, kecuali kehidupan yang penuh dengan dengan kesengsaraan yang dahsyat. Atau memilih akhirat, yang bukan hanya memperoleh kemenangan besar di akhirat, tetapi juga kebahagiaan dunia. Selamat merayakan kemenangan di bulan Ramadhan. Mari melengkapi kemenangan dengan mensucikan jiwa dengan mengeluarkan zakat fitrah.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Jarjani-Usman-MSc-MS-2025.jpg)