Ramadhan Mubarak

Bijak Berkomunikasi

DULU dikenal dengan istilah mulutmu harimaumu, tapi sekarang ditambah lagi dengan ungkapan jari-jarimu adalah harimaumu

Editor: hasyim
Marwan Nusuf Ilyas, B.HSc, MA, Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Aceh 

Oleh Marwan Nusuf, B.HSc, MA

DULU dikenal dengan istilah mulutmu harimaumu, tapi sekarang ditambah lagi dengan ungkapan jari-jarimu adalah harimaumu. Melalui telepon seluler atau smartphone kita dapat menebarkan berita secara mudah, demikian pula untuk mengakses berita yang disebarkan oleh orang lain.

Begitu mudahnya dalam lalu lintas informasi saat ini, tidak jarang terjadi dan terkadang kita lupa terhadap informasi baik yang diterima maupun yang disebarkan. Ternyata tidak semua informasi benar, bahkan ada yang menjurus kepada pembunuhan karakter atau merendahkan orang lain dengan dalih nasihat.

Imam Syafi'i berkata, "Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu".

Minimal ada dua elemen agar komunikasi itu dapat dinikmati. Pertama, berbicara yang baik atau diam. Allah Swt telah memberikan satu pedoman dalam Alquran, "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh". (QS. Al-A'raf: 199)

Terkadang kita dihadapkan pada perdebatan yang tanpa ada titik temu, bahkan ada perdebatan yang tidak ada korelasi substansi antara satu dengan lainnya.

Sebagai contoh, apabila ada seseorang mengatakan kepada kita 2+3=8, setelah kita jelaskan yang benar adalah 2+3=5, tapi orang tersebut tidak mau mengakui kekeliruannya, maka biarkan dan nikmati saja keadaan ini, jangan diperdebatkan lagi, apalagi dalam forum yang lebih luas. Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam". (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua, kedepankan rasional, bukan emosional. Rasulullah Saw bersabda, "Keselamatan manusia tergantung pada kemampuan menjaga lisan". (HR Bukhari)

Ada satu kisah lucu yang menggelitik terkait sepak terjang Abu Nawas yang tidak rasional dan berpotensi menimbulkan salah paham publik kalau tidak diantisipasi secara baik. Pada suatu hari Abu Nawas sedang melihat-lihat ke dalam topinya di tengah kerumunan orang ramai. Ada yang bertanya tentang apa yang dilihatnya, lalu Abu Nawas menjawab dia sedang melihat pemandangan di surga serta sejumlah bidadari di dalamnya.

Beberapa orang penasaran dan ingin melihat topi milik Abu Nawas. Singkatnya, Abu Nawas mengizinkan sejumlah orang melihat ke dalam topinya sambil berkata, "Apabila kalian melihat surga berarti kalian adalah orang beriman dan seandainya tidak kelihatan surga, kalian tidak termasuk ke dalam golongan orang beriman."

Sebenarnya semua orang tidak melihat surga di dalam topi Abu Nawas itu, tapi sebagian berpura-pura mengaku melihatnya, karena takut tidak termasuk ke dalam golongan orang beriman.

Kisah di atas adalah bentuk kebohongan dan jelas tidak rasional, tapi karena dikemas sedemikian rupa dan diulang-ulang aksinya dibarengi kepercayaan diri yang kuat kepada orang ramai, maka seolah-olah apa yang disampaikan adalah benar, padahal dalam hati kecilnya berbanding terbalik dengan apa yang disampaikan.

Kisah legitimasi kebohongan versi Abu Nawas dapat saja terjadi di sekitar kita, namun dalam konteks dan substansi yang berbeda. Berita bohong yang disebarkan secara beruntun menyebabkan publik bertanya tentang kebenarannya, bahkan lebih tragis lagi ada yang mempercayainya. Di sinilah perlu tabayyun (meneliti) seutuhnya dari sumber resmi.

Rasulullah Saw bersabda, "Sungguh ada seorang hamba berbicara dengan satu kata yang mengundang keridhaan Allah, meskipun dia tidak terlalu memperhatikannya, namun dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkan beberapa derajatnya. Dan sungguh ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang mengundang kemurkaan Allah, sementara dia tidak memperhatikannya, dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka jahannam". (HR Bukhari)

Ramadhan adalah bulan menahan diri. Momentum ini dapat dijadikan titik awal untuk mengubah perilaku berkomunikasi antarindividu, kelompok maupun golongan, baik secara langsung maupun melalui media termasuk media sosial, sehingga seusai Ramadhan nanti akan terbentuk kepribadian yang berintegritas dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa. Amiin.

* Penulis adalah Kepala Dinas Kominfo Aceh. Email: marwann71@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved