Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Wisata Halal Bangkitkan Ekonomi Aceh

Sebagai kawasan yang strategis--setidaknya jika dilihat secara geopolitik--Aceh sesungguhnya memiliki kesempatan yang cukup besar untuk menjadi pionir

Wisata Halal Bangkitkan Ekonomi Aceh
FOTO IST
Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman

Oleh H. Aminullah Usman, SE.Ak., MM

Sebagai kawasan yang strategis--setidaknya jika dilihat secara geopolitik--Aceh sesungguhnya memiliki kesempatan yang cukup besar untuk menjadi pionir dalam pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Banda Aceh sebagai kota yang peradaban Islamnya tertua di Asia Tenggara, memiliki tradisi dan kebudayaan tersendiri dengan entitas peradaban nan megah dalam lembaran sejarahnya, harus mampu menjadi daerah terdepan di Indonesia sebagai destinasi wisata halal, dan bahkan pusat wisata halal dunia.

Banda Aceh sebagai etalase Provinsi Aceh selama ini juga sudah mampu menampilkan dirinya sebagai kota pusaka yang kaya dengan peninggalan sejarah Islam masa lalu. Di antaranya, situs-situs sejarah islami dan tsunami, kuburan massal, pesantren, serta kuburan tokoh atau ulama kharismatik Aceh lain seperti Syech Abdurauf Al Singkili, Sultan Iskandar Muda,  dan lain-lain. Peninggalan-peninggalan tersebut layak dan banyak dikunjungi oleh wisatawan Muslim sebagai destinasi wisata ziarah dan spiritual.

Dalam Islam, tidak ada larangan bagi kaum muslimin untuk melakukan perjalanan wisata. Bahkan dalam kadar tertentu, Islam menganjurkan umatnya untuk berwisata. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah SWT Surat Al-Ankabut ayat 20: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Ayat ini merupakan bentuk anjuran agama untuk berwisata atau melakukan safar dalam rangka melihat berbagai keagungan Allah SWT dan menambah keimanan. Wisata berbasis syariah atau wisata halal merupakan konsep pariwisata yang dijalankan sesuai prinsip-prinsip Islam dengan tujuan memberi fasilitas serta layanan yang syar'i dan ramah terhadap wisatawan Muslim. Unsur penting yang harus diperhatikan dalam menyukseskan wisata halal adalah pemerintah dan warga kota agar dapat menyediakan pilihan aktivitas wisata, seni, dan budaya yang sarat dengan nilai-nilai Islam.

Setiap destinasi wisata harus menyediakan layanan ibadah seperti fasilitas shalat, adanya makanan dan minuman yang halal, fasilitas umum yang memadai seperti toilet dengan air bersih, suci, dan menyucikan, serta memiliki layanan maupun fasilitas khusus, terutama saat bulan Ramadhan seperti saat ini yaitu tersedianya kebutuhan sahur dan buka puasa. Hal yang tak kalah penting adalah ikut memberi layanan private yang sesuai syariah.

Penyedia jasa transportasi juga wajib memberi kemudahan bagi wisatawan Muslim dalam pelaksanaan ibadah selama perjalanan. Kemudahan ini bisa berupa penyediaan tempat shalat di dalam pesawat, pemberitahuan berupa pengumuman atau azan jika sudah masuk waktu shalat. Dengan terbangunnya brand wisata halal, Aceh dapat dikenal oleh negara-negara Islam di Asia maupun Timur Tengah.

Dengan demikian, isu wisata halal yang kini sedang jadi tren bagi warga dunia, harus dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Aceh. Apalagi, sejak tahun 2015, Kementerian Pariwisata RI sudah menjadikan Aceh sebagai satu dari tiga destinasi wisata halal dunia di Indonesia bersama Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sumatera Barat.

Mengapa Aceh terpilih menjadi salah satu destinasi wisata halal di Indonesia dan diharapkan dapat menarik minat wisatawan Muslim dari seluruh dunia? Jawabannya,  karena Aceh memiliki sejarah, budaya, dan kultur Islam yang begitu mengakar. Aceh juga mempunyai panorama alam yang memikat dan tak terbantahkan. Dua hal ini merupakan modal yang tidak dimiliki oleh daerah manapun di Indonesia.

Aceh memiliki segalanya untuk menjadi salah satu pusat wisata halal dunia. Bila konsep wisata halal benar-benar dipedomani dan disambut dengan penuh kesadaran oleh seluruh elemen masyarakat Aceh, niscaya ekonomi Aceh akan bangkit. Saat ini, pariwisata sudah menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia, dan bahkan dunia.

Jika pariwisata suatu daerah sudah maju dan berkembang, maka daerah tersebut dapat mengatasi pengangguran, lahirnya ekonomi kreatif, pendapatan masyarakat meningkat, dan berbagai dampak positif lainnya. Karena itu, dengan budaya dan syariat Islam yang terus melekat sebagai identitas, Aceh diharapkan dapat menyambut ledakan wisatawan muslim yang akan terjadi begitu pandemi berakhir.

Ini sejalan dengan data yang dikeluarkan Global Muslim Travel Index, bahwa dari tahun 2000 hingga 2022, jumlah wisatawan Muslim dunia terus tumbuh 27 persen per tahun, dan diprediksikan akan mencapai 158 juta orang dengan total belanja 3.080 triliun per tahun. Angka pertumbuhan ini jauh melampaui pertumbuhan wisatawan dunia yang hanya 6,4 persen per tahun. Semoga Allah SWT meridhainya.

* Penulis adalah Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Aceh (MES) dan Wali Kota Banda Aceh. Email: aminullahusman1958@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved