Selasa, 12 Mei 2026

Internasional

Milisi Houthi Bersumpah, Serang Sekutu Arab Saudi, Balas Sanksi AS

Milisi Houthi di Yaman kembali bersumpah untuk menyerang negara-negara koalisi pimpinan Arab Saudi.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP
Milisi Houthi luncurkan rudal ke wilayah Arab Saudi dari sebuah wilayah di Yaman. 

SERAMBINEWS.COM, AL-MUKALLA - Milisi Houthi di Yaman kembali bersumpah untuk menyerang negara-negara koalisi pimpinan Arab Saudi.

Houthi mengancam akan melakukan lebih banyak Serangan drone dan Serangan rudal di lokasi yang tak terduga di negara-negara koalisi Arab.

Mereka beralasna sebagai tanggapan atas sanksi terbaru terhadap para pemimpinya oleh Amerika Serikat.

Mohammed Ali Al-Houthis, Presiden Komite Revolusioner Tertinggi Houthi mengatakan gerakannya akan meningkatkan serangan terhadap negara-negara agresor.

Dilansir ArabNews, Minggu (23/5/2021), jika AS terus memberikan sanksi kepada para pemimpin militer dan politik.

"Sanksi tidak membuat takut para mujahidin," cuitnya.

Baca juga: AS Jatuhkan Sanksi ke Dua Pejabat Militer Milisi Houthi di Yaman, Memimpin Pasukan Merebut Marib

Pekan lalu, AS menjatuhkan sanksi pada dua pemimpin milisi Houthi yang memerintahkan serangan ke pusat kota Marib.

Padaha, sudah ada seruan dari PBB, AS, dan negara-negara lain agar kelompok itu menghentikan serangannya dan terlibat secara positif dengan inisiatif perdamaian Arab Saudi.

Meskipun banyak korban jiwa dan gagal membuat kemajuan besar di Provinsi Marib, milisi Houthi terus maju.

Bahkan, erus menyerang daerah yang dikendalikan pemerintah di luar kota Marib, kata pejabat militer.

Beberapa analis percaya AS menggunakan daftar hitam para pemimpin milisi Houthi untuk memaksa pemberontak merangkul upaya utusan khusus AS untuk mengakhiri perang.

"Desakan milisi Houthi untuk menguasai Marib telah mempermalukan Amerika Serikat," tweet Maged Al-Madhaji, direktur eksekutif Sanaa Center for Strategic Studies.

Karena telah mengganggu keinginan mereka dalam jalur politik damai untuk mengakhiri perang berdarah ini, ujarnya.

Dia memperkirakan akan ada tindakan lebih keras dari AS, jika milisi Houthi terus mengabaikan seruan untuk perdamaian.

Baca juga: OKI Sebut Milisi Houthi Sebagai Penjahat Perang, Hujani Drone dan Rudal ke Arab Saudi Tanpa Henti

Yang lainnya, seperti Najeeb Ghallab, Wakil Menteri di Kementerian Informasi Yaman, berpendapat sanksi terhadap pemberontak tidak akan mendorong gerakan tersebut untuk mengubah prilakunya.

"Ya, itu adalah pesan yang jelas dari Amerika Serikat, lebih banyak sanksi akan dijatuhkan di masa depan," kata Ghallab,

Dia mengatakan pejabat yang menjadi sasaran sanksi AS tidak memiliki rekening bank di luar negeri dan jarang bepergian ke luar negeri.

“Tapi sanksi itu tidak akan berdampak apa-apa di lapangan," jelasnya.

"AS harus mencari para pemimpin Houthi aktif yang memasok senjata dan uang," tambahnya.

Disebutakn, keputusan menunjuk Houthi sebagai organisasi teroris benar.

Karena Houthi sebagai organisasi yang terintegrasi dan mengambil tindakan terhadap individu tidak akan berdampak apapun.

Selama briefing telepon khusus pada 20 Mei 2021, Utusan Khusus AS untuk Yaman, Timothy Lenderking mengatakan kepada wartawan, pemerintahnya akan terus memantau prilaku Houthi.

Bahkan akan mengambil tindakan hukuman yang sesuai, jika seruan perdamaian terus diabaikan.

Baca juga: Arab Saudi Bersihkan 3.154 Ranjau Darat di Yaman, Milisi Houthi Kembali Serang Dengan Drone

"Kami secara konstan dan terus menerus menilai perilaku Houthi dan tindakannya," jelasnya.

"Kami bersiap untuk mengambil langkah apapun yang sesuai dalam menanggapi prilaku Houthi," katanya.

“Dan izinkan saya juga mengatakan, kesediaan Houthi untuk dengan utusan PBB, dengan menunjukkan komitmen terhadap perdamaian, akan akan ditanggapi secara positif oleh AS," harapnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved