Jumat, 5 Juni 2026

Sosok Naftali Bennett

Ini Naftali Bennett, Calon Perdana Menteri Israel yang Menyebut Negara Palestina Tidak Pernah Ada

Dia mempunyai ideologi yang sama Netanyahu, dan sempat menjabat di sejumlah tugas di pemerintahan pemimpin Likud....

Tayang:
Editor: Eddy Fitriadi
Jerusalem Post/ tangkapan layar
Naftali Bennett. 

Pada 2013, dia menyebut Palestina sebagai teroris. “Teroris Palestina harus dibunuh, bukan dibebaskan,” katanya waktu itu.

Dia bahkan telah menimbulkan kontroversi dalam beberapa kesempatan. Seperti pernyataannya bahwa Tepi Barat tidak sedang diduduki karena "tidak pernah ada negara Palestina di sini".

Ia juga mengatakan, “konflik Israel-Palestina tidak dapat diselesaikan tetapi harus dipertahankan.”

Selain pernah menjadi memegang portofolio pertahanan, Bennett pernah menjabat sebagai menteri ekonomi dan menteri pendidikan Netanyahu.

Dia mengganti nama partai Rumah Yahudi sebagai Yamina (Kanan) pada tahun 2018, dan merupakan bagian dari koalisi Netanyahu yang gagal pada tahun yang sama.

Namun Netanyahu tidak mengajaknya bergabung dalam pemerintahannya Mei tahun lalu. Hal ini dilihat pengamat sebagai bentuk ketidaksukaan Netanyahu terhadap Bennett, meski ideologi mereka sama.

Selama pandemi virus Corona, Bennett menunjukkan oposisinya dengan memfokuskan retorika sayap kanannya ats krisis kesehatan, dan meningkatkan upayanya pada

Bertentangan dan dengan pandemi virus korona yang mengamuk pada tahun 2020, Bennett mengurangi retorika sayap kanannya untuk fokus pada krisis kesehatan, dan meningkatkan seruannya tentang rencana mengatasi Covid-19 dan bantuan ekonomi.

Tidak mudah

Partai Lapid, dengan 17 kursinya sendiri, telah mengumpulkan total 51 suara dukungan dari partai sayap kiri, tengah, dan kanan sebelum Bennett bergabung dengannya.

Blok Yamina ("Kanan") Bennett memiliki 7 kursi, tetapi seorang anggota parlemen bersumpah dia tidak akan bekerja sama dengan kubu anti-Netanyahu.

Untuk memenangkan dukungan 4 anggota parlemen lagi dari 61 kursi yang dibutuhkan, Lapid mengandalkan partai-partai yang mewakili warga Arab Israel, yang belum mengumumkan niat mereka.

Mereka harus mendukung koalisi termasuk Bennett, meskipun dia sebelumnya telah mengarahkan Dewan Yesha yang mewakili pemukim Yahudi di Tepi Barat yang diduduki.

"Kiri membuat kompromi jauh lebih mudah," kata Bennett pada Minggu (30/5/2021).

Menurut media Israel, perjanjian koalisi akan memungkinkan Bennett memimpin pemerintahan selama dua tahun pertama, diikuti oleh Lapid.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved