Sabtu, 9 Mei 2026

Potret ‘Pelabuhan Terapung’ Sisa Peradaban Singkil Masa Lalu

Lampung di sungai belakang pemukiman penduduk Desa Tanah Merah, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, tetap bertahan. Walau semua konstruksi bangunan

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBI/DEDE ROSADI
Seorang warga berjalan menuju pelabuhan terapung di sungai belakang Desa Tanah Merah, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, Kamis (3/6/2020). 

SINGKIL - Lampung di sungai belakang pemukiman penduduk Desa Tanah Merah, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, tetap bertahan. Walau semua konstruksi bangunan sudah lapuk termakan zaman, kondisi lampung ketika Serambi datang kali kedua, Kamis (3/6/2021), tidak mengalami perubahan.

Hanya posisinya saja yang bergeser ke arah hilir sungai sekitar 200 meter dari lokasi tahun 2019 lalu, saat Serambi berkunjung pertama kali. Warga Aceh Singkil menyebutnya lampung, untuk warisan budaya Singkil masa lalu itu.  Jika ditilik fungsinya, lampung lebih mirip warung terapung dengan tambahan fungsi layak pelabuhan. Dahulu saat transportasi masih menggunakan sungai banyak tersedia lampung.

Seiring perkembangan zaman, ketika transportasi berpindah ke darat tinggal lampung milik Abdul Karim di sungai belakang pemukiman penduduk Tanah Merah, yang tersisa.

Nelayan sungai menjadi lampung sebagi tempat tambatan perahu sebelum berangkat maupun pulang menangkap ikan. Di lampung itu nelayan menjual hasil tangkapan ikan sungai pada pagi hari.

Sementara sorenya nelayan membeli kebutuhan selama berada di sungai, seperti bahan bakar mesin perahu, es, rokok dan kopi yang disediakan pemilik lampung. Lampung mengapung di atas sungai menggunakan pelambung belasan batang kayu sebesar drum.

Kayu-kayu itu disatukan sebagai tumpuan papan dan tiang layaknya sebuah rumah hanya saja dibangun di atas sungai.

Agar tidak hanyut terbawa arus sungai tali sebesar jempol ibu kaki mengikat lampung ke patok yang dipasang di tepian sungai.  Bangunan lampung berukuran kira-kira 10x25 meter. Semua kontruksi terbuat dari kayu dengan atap rumbia.

Bagian dalam lampung dibagi menjadi beberapa ruangan. Ruang utama tempat minum kopi, istirahat, tungku api kayu untuk memasak air serta makan bokom (mi instan rebus).

Bokom merupakan makanan khas yang tak diketahui kapan sebutan itu mulai populer. Bokom berupa mi instan dimasak hanya disiram air panas dicampur irisan bawang merah dan cabai rawit mentah ditambah air jeruk nipis.

Ruang lain tempat jualan. Bagian belakang berisi perlengkapan pemilik lampung. Di sekeliling lampung merupakan tempat tambatan perahu. Nelayan gratis dan aman menambatkan perahu ke lampung sepanjang waktu.

Abdul Karim, merupakan generasi ketiga dari pengelola lampung sebelumnya. "Dulu lampung banyak. Sekarang tinggal ini yang ada," kata Khairil warga yang ditemui di lampung milik Abdul Karim.

Pada masa jayanya lampung juga berfungsi sebagai tempat menginap, persinggahan warga dan pedagang. Ketika singgah pedagang maka, seketika lampung berubah menjadi pasar dadakan.

Sayang lampung sisa peradaban Singkil masa lalu itu terus lapuk dimakan usia. Sang pemilik tidak sanggup membiayai perbaikan. Sementara itu ketika berada di Lampung sesekali terasa bergoyang. Ini akibat gelombang kecil dari lalu lalang perahu nelayan.(dede rosadi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved