Breaking News:

Beras Organik Tamiang Diakui Nasional

Beras organik yang dikembangkan Aceh Tamiang berhasil diakui nasional menyusul terbitnya sertifikasi dari LSO Indonesian Organic Farming Certification

Editor: bakri
SERAMBINEWS/RAHMAD WIGUNA      
Kadistanbunak Aceh Tamiang, Yunus menunjukkan desain kemasan karung beras organik yang telah tersertifikasi 

KUALASIMPANG – Beras organik yang dikembangkan Aceh Tamiang berhasil diakui nasional menyusul terbitnya sertifikasi dari LSO Indonesian Organic Farming Certification (Inofice).

Sertifikasi tersebut diberikan lembaga yang berkedudukan di Bogor, Jawa Barat kepada lahan yang dikelola kelompok tani Serasi di Kampung Pahlawan, Kecamatan Karangbaru, Tamiang.

Kadis Pertanian, Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang, Yunus menjelaskan, sertifikasi tanaman padi organik ini merupakan yang pertama di Aceh. Dia pun mendorong petani lain menerapkan pola tanam serupa karena memberikan keuntungan yang lebih besar.

“Untuk Aceh, kita yang pertama mendapatkan sertifikasi ini. Jelas ini peluang bagi petani kita untuk lebih serius mengembangkan tanaman organik,” kata Yunus, Kamis (10/6/2021).

Yunus menjelaskan, usulan sertifikasi ini sudah diajukan sejak awal tahun 2021. Setelah melalui verifikasi, produksi padi yang dikelola Poktan Serasi dinilai sudah memenuhi SNI 6279/2016 dan Permentan Nomor 64/2016 yang menjadi rujukan penilaian. “Sertifikasi ini melalui verifikasi panjang, sangat banyak persyaratannya, termasuk verifikasi faktual dengan meninjau langsung lahan dan hasil produksinya,” ujarnya.

Yunus menjelaskan, sejak setahun terakhir pihaknya memang terus mengembangkan tanaman padi organik. Poktan Serasi sendiri melakukan uji coba di atas lahan 2,3 hektare dari total areal 9 hektare yang dimiliki sejak Maret 2021.

“Tanam Maret dan akhir Mei sudah panen, artinya masa tanam padi organik dengan non organik sama tiga bulan, hanya saja keuntungan yang diraih lebih besar,” ungkapnya.

Keuntungan ini, kata dia, bukan hanya hasil produksi yang lebih besar, tapi juga harga jual yang jauh lebih tinggi. Dibandingkan padi semi organik yang menghasilkan 5,5 ton per hektare, padi organik mampu memproduksi 6,8 ton .

“Harganya juga jelas lebih tinggi, di pasaran harga gabah kering (HGK) organik Rp 6.500 per kilogram, sementara semi organik paling tinggi hanya Rp 4.500 per kilogram,” jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan Poktan Serasi telah mendorong petani lain untuk mengembangkan tanaman serupa pada musim tanam gaduh yang jatuh pada Juni ini. Untuk memotivasi petani, Yunus meminta petani tidak memusingkan pangsa pasar karena sudah diurus oleh Koperasi Organik Tamiang Jaya. “Tugas petani hanya menanam padi organik, urusan menjualnya sudah ada yang menjalankannya,” kata Yunus.

Beras organik hasil produksi petani Aceh Tamiang akan dijual dengan merek dagang Beras Organik Tamiang. Kadistanbunak Tamiang, Yunus menjelaskan, beras organik ini merupakan produk premium yang memiliki pangsa pasar masyarakat ekonomi menengah ke atas. "Desain kemasannya sudah siap, dalam waktu dekat akan segera dilaunching oleh pak bupati," kata Yunus, Kamis (10/6/2021).

Keberhasilan Poktan Serasi dalam mengembangkan padi organik ini, diakuinya, telah memotivasi petani lain untuk ikut mengembangkannya. Setidaknya sudah ada lima kelompok tani yang akan memanfaatkan 30 haktare lahan untuk ditanami padi organik. "Petugas penyuluh kami siap membantu, syaratnya lahan harus satu hamparan agar tidak terkontaminasi dengan tanaman lain," sarannya. (mad)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved