Breaking News:

Internasional

Pemerintahan Baru Israel Menghadapi Tantangan Berat, Kaum Nasionalis Berpawai di Jerusalem

Pemerintahan baru Israel menghadapi tantangan berat atas pawai kaum nasionalis Yaudi di Jerusalem, Selasa (15/6/2021).

Editor: M Nur Pakar
AFP
Kaum nasionalis Yahudi melaksanakan pawai di Jerusalem, Selasa (15/6/2021). 

SERAMBINEWS.COM JERUSALEM - Pemerintahan baru Israel menghadapi tantangan berat atas pawai kaum nasionalis Yaudi di Jerusalem, Selasa (15/6/2021).

Jerusalem telah menjadi pemicu bentrokan mematikan 11 hari, Hamas dan Israel.

Tetapi, kelompok kaum nasional ingin melakukan pawai di Jerusalem, seusai ditolak oleh Hamas dan Fatah.

Hamas menegaskan, jika itu dilakukan, maka akan memicu perang baru lagi.

Belum lagi ancaman dari Benjamin Netanyahu seusai menyerahkan kekuasaan kepada Perdana Menteri baru Naftali Bennett pada Senin (14/6/2021).

Baca juga: Parlemen Israel, Knesset Setujui Koalisi Baru, Netanyahu Disingkirkan, Partai Likud Jadi Oposisi

Netanyahu tetap menentang ketika pemerintah tambal sulam menghadapi ketegangan dengan Palestina atas rencana pawai nasionalis Yahudi.

Beberapa menit setelah bertemu Bennett, Netanyahu mengulangi janji untuk menggulingkan pemerintah baru yang disetujui pada Minggu (13/6/2021) dengan pemungutan suara 60-59 di parlemen.

“Itu akan terjadi lebih cepat dari yang Anda pikirkan,” kata Netanyahu (71).

Dia menghabiskan rekor 12 tahun berturut-turut di kantor, mengatakan dalam sambutan publik kepada legislator dari partai sayap kanannya, Likud.

Pembentukan aliansi sayap kanan, tengah, sayap kiri dan partai-partai Arab, dengan sedikit kesamaan selain keinginan untuk menggulingkan Netanyahu.

Juga membatasi upaya pembangunan koalisi setelah pemilihan 23 Maret, pemilihan keempat Israel dalam dua tahun.

Alih-alih bersulang tradisional menandai masuknya Bennett ke kantor perdana menteri, Netanyahu mengadakan pertemuan sederhana di sana dengan mantan kepala pertahanan.

Dia mengepalai partai nasionalis Yamina, untuk menjelaskan kepadanya tentang bisnis pemerintah.

“Muka masam, pemarah, tidak megah, seperti Trump sampai saat-saat terakhir,” kata Yossi Verter, seorang komentator urusan politik, menulis di surat kabar Haaretz yang berhaluan kiri, Selasa (15/6/2021).

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved