Breaking News:

UNHCR Temui Nelayan Penjemput Rohingya di Lapas

Petugas dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), Jumat (18/6/2021), menemui tiga nelayan yang menjemput para pengungsi Rohingya

Editor: bakri
UNHCR Temui Nelayan Penjemput Rohingya di Lapas
SERAMBINEWS.COM/ SENI HENDRI
Pihak imigrasi Langsa dan IOM, UNHCR, melakukan pemeriksaan Identitas para Rohingya di lokasi terdampar di Desa Kuala Simpang Ulim, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, Sabtu (5/6/2021).

LHOKSUKON – Petugas dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), Jumat (18/6/2021), menemui tiga nelayan yang menjemput para pengungsi Rohingya di tengah laut pada Juni 2020 lalu. Ketiga nelayan tersebut saat ini ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lhoksukon, Aceh Utara.

Diberitakan sebelumnya, ketiga nelayan dimaksud telah divonis masing-masing lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon, Aceh Utara, Senin (14/6/2021). Dalam sidang pamungkas yang berlangsung secara virtual itu, Majelis Hakim menyatakan para terdakwa melanggar Pasal 120 ayat (1) Undang-undang Nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian JunctoPasal 55 KUHPidana.

Selain hukuman masing-masing 5 tahun penjara, ketiga nelayan itu juga dijatuhi denda Rp 500 juta, subsidair satu bulan kurungan. Mereka adalah, Afrizal (26) warga Desa Ulee Rubek Barat Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Abdul Aziz (31) warga Desa Gampong Aceh Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur, dan Faisal Afrizal (43) Desa Matang Bayu Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.

Selain menemui ketiga nelayan itu, petugas UNHCR juga menemui, Shahad Deen asal Medan, Sumatera Utara, yang terlibat menyuruh tiga terdakwa lainnya untuk menjemput Rohingya. Pria itu juga dihukum lima tahun penjara dalam kasus tersebut.

“Benar memang tadi sekitar pukul 16.00 WIB, ada dua orang dari UNHCR menemui Faisal bersama kawan-kawannya,” ujar Kepala Lapas Kelas IIB Lhoksukon, Aceh Utara, Yusnaidi SH, kepada Serambinews.com, Jumat (18/6/2021).

Disebutkan, keduanya berada di Lapas sekitar satu jam atau sampai sekitar pukul 17.00 WIB. “Informasi saya dengar, kedatangan mereka untuk menyediakan bantuan hukum kepada para tervonis yang akan mengajukan banding,” ujar Yusnaidi.

Untuk diketahui, kasus ini bermula ketika sejumlah warga Aceh Utara nekat menjemput para pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di laut perairan Aceh Utara. Setelah sempat berdebat dengan aparat, warga kemudian menurunkan imigran Rohingya dari kapal yang ada di perairan tepi Pantai Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Kamis (25/6/2020) sekitar pukul 16.00 WIB. 

Diwarnai hujan dan petir, warga menurunkan satu-persatu imigran Rohingya dengan mendahulukan anak-anak, wanita, dilanjutkan laki-laki dewasa. Aksi heroik ini disambut haru para imigran Rohingya yang sedang menjemput maut di tengah lautan. 

Aksi warga ini dilakukan setelah sebelumnya kapal yang ditumpangi imigran sempat ditarik menjauh dari tepi pantai oleh petugas. Keputusan itu sempat diprotes bahkan beberapa warga menangis, kasihan melihat kondisi imigran. 

Dari Pantai Lancok, para imigran Rohingya ini kemudian dipindahkan ke bekas kantor Imigrasi Lhokseumawe, di Kawasan Punteut, Kecamatan Bang Mangat, Lhokseumawe. Hasil pendataan yang dilakukan setelah berada di daratan, diketahui jumlah total para imigran ini adalah 98 jiwa. 

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved