Selasa, 9 Juni 2026

Wawancara Khusus

‘Pendidikan Aceh belum Lebih Baik’

SALAH satu tolak ukur mutu atau kualitas pendidikan setiap provinsi bisa dilihat dari hasil evaluasi Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng, Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) 

SALAH satu tolak ukur mutu atau kualitas pendidikan setiap provinsi bisa dilihat dari hasil evaluasi Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK SBMPTN) setiap tahun, yang diikuti oleh para lulusan SMA.

Biasanya, hasil evaluasi ini dirilis oleh lembaga resmi, semisal Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng membeberkan, tahun 2021 Aceh bertengger pada rangking 24 untuk siswa dari jalur saintek (sains dan teknologi) dengan rata-rata nilai yang diperoleh dalam ujian sebesar 486,67.

Sedangkan untuk siswa yang memilih jalur sosial dan humaniora (soshum) berada di peringkat 26 dengan perolehan nilai rata-rata siswa dalam ujian 472,86. Aceh berada di bawah Bengkulu yang berada di peringkat 18 untuk nilai rata-rata siswa, baik saintek dan soshum. Aceh juga 'kalah' dari Provinsi Papua Barat yang berhasil menempatkan siswa mereka berada di urutan 22.

Hasil evaluasi ini menunjukkan mutu kualitas pendidikan Aceh masih rendah. Jika benar, lantas apa penyebabnya dan apa pula solusinya? Berikut petikan wawancara khusus wartawan Harian Serambi Indonesia, Subur Dani dan videografer Serambi On Tv, Hendri, bersama Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng:

Selama pandemi, USK menerapkan belajar daring. Nah, secara persentase nasional, lebih banyak mahasiswa Aceh atau luar Aceh belajar di USK sekarang?

Sebenarnya kalau secara umum, secara kuantitas itu banyak mahasiswa kita (Aceh). Sekarang mahasiswa Aceh itu 85 persen, tetapi prodi tertentu itu lebih banyak mahasiswa luar. Aceh yang kuliah di prodi-prodi favorit itu yang lulus melalui jalur SBMPTN. Prodi-prodi favorit lebih banyak mahasiswa luar Aceh.

Benarkah tidak banyak lulusan SMA di Aceh yang mampu bersaing secara nasional? Jika iya, apa penyebabnya?

Iya itu betul. Kalau kita lihat evaluasi UTBK SBMPTN, itu anak-anak Aceh masih berada di rangking 24 untuk saintek dan rangking 26 di soshum. Ini tidak naik-naik, paling berubah jadi 25 atau 26, sudah lebih dari 10 tahun rangking kita tidak pernah naik. Itu hasil Tes Potensi Skolastik (TPS), kalau 2020 hanya tes satu, tahun ini lengkap tesnya, sama seperti 2019. Itu tes potensi akademik namanya. Tesnya ada saintek ada soshum, sehingga kita bisa lihat nilai rata-rata mereka.

Tapi kalau kuantitas, jumlah anak Aceh yang lulus perguruan tinggi negeri yang ada di Aceh, itu betul banyak, dari jumlah persentase yang mengikuti ujian. Tapi kualitas yang diterima itu seperti apa? Ini yang harus kita pahami bersama. Kualitasnya masih jauh. Seperti yang saya sampaikan, nilai rata-rata untuk lulus Fakultas Kedokteran 667, itu yang lulus anak-anak luar. Anak Aceh yang lulus hanya beberapa SMA, tidak lebih dari sebelah tangan saya yang lulus, salah satu SMA Modal Bangsa, itu menjadi rangking teratas di Aceh, itu tahun lalu.

Benarkah kualitas dan mutu pendidikan di Aceh saat ini semakin buruk?

Tidak berubah, kata-kata bagusnya tidak berubah. Atau lebih tepat lagi tidak lebih baik. Mutu kualitas pendidikan anak-anak kita di SMA tidak lebih baik, rangkingnya 24, tiga tahun lalu juga 24.

Pada posisi berapa saat ini rangking pendidikan Aceh?

Rangking 24 dan 26, secara hasil nasional, itu hasil evaluasi penilaian rata-rata Tes Potensi Skolastik (TPS) siswa SMA yang UTBK SBMPTN. Saya tidak tahu untuk SD dan SMP, tapi yang kita dapatkan berdasarkan hasil tes kita berada di rangking 24 dan 26.

Apa penyebab mutu dan kualitas pendidikan rendah?

Kualitas pendidikan tergantung dari orang yang mengajar (guru), ini dasarnya. Rekrutmen guru seperti apa? Guru itu pernah dilatih tidak? Kalau guru tidak pernah dilatih dan tidak diupgrade ilmunya, mungkin sudah ada ilmu baru, sekarang dengan IT, revolusi industri 4,0 dia ya nggak dapat apa-apa.

Kalau yang didapat 20 atau 30 tahun yang lalu dan ngajar itu-itu saja, ya sudah. Padahal jumlah planet saja sudah berubah. Apalagi perubahan selama pandemi ini, perubahan digitalisasi, berubah begitu cepat. Ini yang tidak tahu oleh guru, sehingga kalau masyarakat tidak tahu terhadap informasi yang betul, percaya hoaks, itu kan akibat dari pengetahuan, karena tidak ingin membaca, daya baca kita juga sangat lemah di Aceh.

Itu yang membuat guru kualitasnya demikian, akibatnya apa yang didapatkan oleh murid dengan guru yang pengetahuan terbatas, hanya yang dia tahu yang dia transfer ke murid.

Kita juga tes guru, rangking kita juga jelek, tiga puluhan, nilainya rata-rata di bawah nasional, 45. Kalau seorang guru dengan kualitas yang tidak bagus  bagaimana bisa dia mengajar lebih baik? Memang ada guru-guru yang bagus, tapi adanya di kota. Kita bisa lihat mutu guru tidak bagus, saya tidak salahkan guru kalau mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan yang baik.

Oh dibilang Aceh menjadi hebat karena ada slogan Aceh Hebat, ngaji saja nggak bagus. Kita daerah istimewa di bidang agama, iya betul. Tapi apa yang kita dapatkan? Anak-anak yang kita terima di USK yang 85 persen anak Aceh, itu yang bisa mengaji sampai Iqra 6 tidak lebih dari 25 persen, yang masuk ke USK. Itu kita tes, setiap mahasiswa yang masuk ke sini itu dites ngaji, setelah lulus dia akan diterima lagi oleh UP3AI.

Tidak lebih dari 25 persen yang bisa mengaji, 23, 24 setiap tahun. Artinya apa? Ada yang salah dalam sistem mulai proses gurunya, rekrutmen gurunya, sesudah itu guru tidak pernah diberi pelatihan, padahal guru harus mengajar dengan baik.

Apa yang harus dievaluasi atau dibenahi untuk memperbaiki pendidikan di Aceh?

Mendudukkan orang yang mengerti tentang pendidikan di tempatnya. Sehingga dia bisa membuat master plan yang betul untuk pendidikan Aceh ke depan, kalau itu nggak ada, semuanya akan bias. Dinas Pendidikan Aceh, anggarannya lebih banyak dari APBD Provinsi Bengkulu, tapi kualitas pendidikan Bengkulu lebih baik dari Aceh. Mereka di rangking 18, kita di rangking 24, ini ada yang salah. Apa? Karena tidak menempatkan orang yang sesuai di tempatnya. Tunggulah kehancurannya kalau menempatkan orang-orang yang tak sesuai di tempatnya, karena tidak bisa membuat.

Terus guru tidak pernah dilatih. Kalau mau pendidikan Aceh lebih baik, latih guru. Tanya apa yang dia tak tahu, yang dia tidak bisa mengajar dengan baik untuk mata pelajarannya sendiri. Kalau ada materi mata pelajarannya tidak mengerti bagaimana mau diajarkan kepada murid? Begitu murid dites, murid tidak bisa menjawab, karena dia tidak pernah mendapat materi itu. Sistem ini yang harus diperbaiki. Guru adalah ujung tombak untuk memperbaiki pendidikan di Aceh.

Apa yang dilakukan USK untuk menggenjot agar mutu dan kualitas pendidikan di Aceh bagus?

Kami ya tetap bertanggung jawab, karena USK ada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Di sana kita ingin memberi pembelajarannya, kurikulumnya kita perbaiki setiap dua tahun sekali. Sehingga yang dulunya ada akreditasi C sekarang berubah menjadi B dan A. Itu salah satu untuk meningkatkan mutu dari segi lulusan, sekarang lagi kita kejar semua agar akreditasi A. Kita tidak tahu apakah nanti lulusan ini akan menjadi guru di Aceh atau di luar Aceh, yang penting kita ingin memperbaiki mutu pendidikan.

USK dengan universitas-universitas yang lain akan terus memperbaiki ini, mau pendidikan di Aceh lebih baik? Ya perbaiki kualitas pendidikan guru. Itu yang kita lakukan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, tidak ada kata lain. Jika ditanya siapa yang paling bertanggung jawab terhadap kondisi pendidikan Aceh saat ini? Ada tiga, Gubernur, Dinas Pendidikan, dan Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved