Breaking News:

Realisasi KUR di Aceh Capai Rp 834 M, Hingga Juni 2021

Tercatat hingga 25 Juni 2021, realisasi dana KUR di Aceh mencapai Rp 834 Miliar. Penyaluran menyasar mulai sektor perdagangan, pertanian,

Editor: bakri
For Serambinews.com
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Aceh, Syafriadi saat memberi keterangan dalam media meeting, Selasa (15/6) di Gedung Keuangan, Banda Aceh. 

BANDA ACEH - Tercatat hingga 25 Juni 2021, realisasi dana KUR di Aceh mencapai Rp 834 Miliar. Penyaluran menyasar mulai sektor perdagangan, pertanian, hingga hiburan. Sejumlah pihak terkait pun terus mengenjot agar realisasi KUR terus naik dan dirasakan manfaatnya. Hal itu disampaikan oleh Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Aceh, Syafriadi dalam siaran pers kepada Serami, Jumat (25/6). Katanya, saat ini pemerintah kembali memberi relaksasi untuk program KUR. Dengan kebijakan itu diharapkan masyarakat bia memanfaatkannya program modal usaha itu sebaik mungkin.

Syafriadi menjelaskan, Margin pembiayaan program KUR yang disubsidi oleh pemerintah mencapai 5,5% sampai dengan 14%, tergantung skema KUR yang digunakan. Oleh karena itu, katanya, margin pembiayaan KUR bagi calon debitur paling tinggi 6%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan pembiayaan perbankan pada umumnya. Untuk mendorong ketepatan sasaran, program KUR didukung sistem aplikasi yang disebut dengan Sistem Informasi Kredit Program (SIKP).

Sistem yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan ini, menjadi basis data UMKM yang valid dan dapat dijadikan rujukan bagi perbankan untuk penyaluran pembiayaan yang efektif. Katanya, pada 2021 ini, pemerintah melalui Permenko Bidang Perekonomian Nomor 2 Tahun 2021 kembali memberikan kemudahan. Kemudahan itu di antaranya agunan tambahan tidak dipersyaratkan bagi KUR super mikro, KUR mikro, KUR kecil sampai dengan Rp 100 juta dan KUR penempatan tenaga kerja Indonesia.

Selain itu, lanjut Syafriadi, pemerintah juga memberikan relaksasi bagi pelaku usaha yang terdampak pandemi Covid-19 melalui Permenko Bidang Perekonomian Nomor 3 Tahun 2021, yaitu perpanjangan kebijakan tambahan subsidi margin KUR yang sebelumnya sebesar 3% sampai dengan 30 Juni 2021, diperpanjang menjadi sampai dengan 31 Desember 2021. Serta tambahan subsidi margin KUR bagi penerima KUR dengan akad kredit sampai dengan 31 Desember 2021. “Pemerintah banyak memberikan kemudahan dan relaksasi di program KUR ini.

Sayang jika program ini tidak dimanfaatkan oleh pelaku usaha terutama UMKM di Aceh” tambah Syafriadi. Syafriadi merincikan, untuk Aceh, sampai dengan 25 Juni 2021, realisasi pembiayaan KUR mencapai Rp 834,56 miliar dengan 19.458 debitur. Kota Banda Aceh menjadi daerah yang paling besar penyalurannya, yaitu sebesar Rp 86,42 miliar atau 10,4%, diikuti dengan Aceh Utara sebesar Rp 74,06 miliar atau 8,9% dan Aceh Besar sebesar Rp 70,04 miliar atau 8,4% dari total penyaluran.

Katanya, Sektor Perdagangan Besar dan Eceran menjadi sektor yang mendominasi pembiayaan KUR dengan nilai penyaluran mencapai Rp 404,68 miliar atau 48,5%, diikuti Sektor Pertanian, Perburuan dan Kehutanan sebesar Rp 248,26 miliar atau 29,7% dan Sektor Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, Hiburan Dan Perorangan Lainnya sebesar Rp 62,15 miliar atau 7,4% dari total penyaluran.

“Di semester satu ini, Kanwil DJPb Provinsi Aceh telah melaksanakan kegiatan monev salah satunya adalah melakukan survei sampling terhadap para debitur penerima pembiayaan KUR,” ujar Syafriadi.

“Survei ini bertujuan untuk mengukur dampak pembiayaan KUR terhadap omset dan profit, penyerapan tenaga kerja, besaran margin pembiayaan per tahun dan tingkat kepuasan debitur terhadap pelaksanaan program KUR” jelas Syafriadi. Pemerintah telah memberikan relaksasi pembiayaan KUR di antaranya tambahan subsidi margin, penundaan angsuran pokok paling lama 6 bulan dan penambahan limit plafon pembiayaan.

Program KUR merupakan pembiayaan murah oleh perbankan yang ditujukan dalam rangka meningkatkan dan memperluas akses pembiayaan kepada usaha produktif. KEPALA Kanwil DJPb Provinsi Aceh, Syafriadi mengatakan, di masa pandemi ini, dengan margin yang rendah ditambah berbagai kebijakan relaksasi yang diberikan Pemerintah, pembiayaan KUR telah berkontribusi positif bagi para debitur.

Hal ini terlihat dari nilai omset dan profit serta penyerapan tenaga kerja yang menunjukkan pertumbuhan positif. Pembiayaan KUR telah mampu memperkuat para pelaku UMKM untuk dapat bertahan walaupun berada di masa pandemi Covid-19. Hasil survei juga menyebutkan bahwa keberadaan KUR sangat diharapkan untuk terus dipertahankan dalam upaya mendukung tumbuh-kembangnya UMKM di Aceh.

“Kami punya harapan yang tinggi bahwa program pembiayaan KUR ini dapat dinikmati oleh lebih banyak pelaku UMKM di Aceh. Nilai penyalurannya dapat terus meningkat dari waktu ke waktu sehingga akan memberikan dampak terhadap perkembangan dan kemajuan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat di Aceh” tutup Syafriadi.(mun)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved