Selasa, 19 Mei 2026

Internasional

China Siap Ubah Afghanistan Jadi Gudang Mesiu dan Gudang Terorisme, Seusai Penarikan Pasukan AS

Pemerintah China mulai mempertimbangkan risiko dari Afghanistan, seusai penarikan pasukan AS. Ditambah, pawai Taliban yang tampaknya tak terbendung

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP
Masyarakat menyaksikan pawai Taliban di Afghanistan. 

SERAMBINEWS,COM, BEIJING - Pemerintah China mulai mempertimbangkan risiko dari Afghanistan, seusai penarikan pasukan AS.

Ditambah, pawai Taliban yang tampaknya tak terbendung membuka pintu strategis ke China yang sarat dengan risiko dan peluang.

China membenci kekosongan kekuasaan, terutama di perbatasannya, dan menjaga stabilitas setelah beberapa dekade perang di tetangga baratnya akan menjadi pertimbangan utama Beijing.

Tetapi jika stabilitas membutuhkan pemerintah yang didominasi Taliban, perhatian yang sama adalah dukungan yang mungkin diberikan oleh pemerintah seperti itu kepada separatis Muslim di wilayah Xinjiang China.

Para pemimpin Partai Komunis di Beijing dan fundamentalis Taliban memiliki sedikit kesamaan ideologis.

Tetapi para analis mengatakan pragmatisme bersama dapat melihat kepentingan pribadi mengalahkan perbedaan sensitif.

“Untuk China, risikonya tidak datang dari siapa yang memegang kekuasaan di Afghanistan," kata Fan Hongda, spesialis Timur Tengah di Shanghai International Studies University, kepada AFP, Kamis (15/7/2021).

"Tetapi dari risiko ketidakstabilan yang terus-menerus,” tambahnya.

Baca juga: AS Peringatkan Beijing: Jangan Coba-coba Serang Filipina di Laut China Selatan

Afghanistan hanya berbagi perbatasan kecil sepanjang 76 kilometer dengan China, di dataran tinggi dan tanpa titik persimpangan jalan.

Tetapi perbatasan menjadi perhatian besar karena berbatasan dengan Xinjiang.

Beijing khawatir tetangganya akan digunakan sebagai tempat pementasan bagi separatis Uighur dari wilayah sensitif.

“China dapat menangani Taliban, tetapi mereka masih menganggap agenda dan motivasi keagamaan Taliban secara inheren tidak menyenangkan,” kata Andrew Small, penulis The China-Pakistan Axis.

“Mereka tidak pernah yakin seberapa besar kemauan atau kemampuan Taliban untuk menegakkan kesepakatan tentang isu-isu seperti menyembunyikan militan Uighur," jelasnya.

Bagi Beijing, pemerintahan yang stabil dan kooperatif di Kabul akan membuka jalan bagi perluasan Inisiatif Sabuk dan Jalan ke Afghanistan dan melalui republik-republik Asia Tengah.

Sementara itu Taliban akan menganggap China sebagai sumber investasi dan dukungan ekonomi yang penting.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved