Sabtu, 16 Mei 2026

Luar Negeri

Vaksin Covid-19 BioNTech Hasilkan Antibodi 10 Kali Lebih Banyak dari Sinovac

Para peneliti mengatakan, antibodi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan vaksin dalam memerangi penyakit tertentu.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
DW INDONESIA
Tampilan vaksin corona yang dikembangkan perusahaan farmasi asal Cina, Sinovac.(DW INDONESIA) 

SERAMBINEWS.COM, HONG KONG - Orang yang menerima vaksin virus corona BioNTech, memiliki sepuluh kali lipat jumlah antibodi daripada yang diberikan Sinovac China.

Dilansir AFP, hal ini dikonfirmasi sebuah penelitian di Hong Kong yang mengkaji efektivitas vaksin.

Kajian Universitas Hong Kong (HKU) ini, didapat berdasarkan penelitian terhadap 1.442 petugas kesehatan.

Penelitian ini sudah diterbitkan di Lancet Microbe pada Kamis (15/7/2021).

Para peneliti mengatakan, antibodi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan vaksin dalam memerangi penyakit tertentu.

Tetapi mereka memperingatkan bahwa perbedaan konsentrasi antibodi penetralisir yang diidentifikasi dalam penelitian, dapat diterjemahkan menjadi "perbedaan substansial dalam efektivitas vaksin".

Mereka yang menerima Sinovac, memiliki tingkat antibodi yang "mirip atau lebih rendah" dengan pasien yang tertular dan berhasil sembuh dari Covid-19.

Studi ini menambah semakin banyak bukti bahwa vaksin yang menggunakan teknologi mRNA perintis, seperti BioNTech dan Moderna lebih efektif.

Jenis vaksin ini menawarkan perlindungan yang lebih baik terhadap virus corona dan variannya, daripada yang dikembangkan dengan metode yang lebih tradisional, seperti menggunakan bagian virus yang tidak aktif.

Meski begitu, vaksin tradisional lebih murah untuk diproduksi dan tidak rumit untuk diangkut dan disimpan.

Menjadikannya alat penting untuk memerangi pandemi di negara-negara berkembang.

Ahli epidemiologi Ben Cowling, salah satu penulis laporan tersebut, mengatakan bahwa orang harus tetap mendapatkan vaksinasi dengan Sinovac jika tidak ada pilihan lain.

Ini karena beberapa perlindungan selalu lebih baik daripada tidak sama sekali.

"Jangan biarkan yang sempurna menjadi musuh yang baik," katanya.

"Jelas lebih baik pergi dan divaksinasi dengan vaksin apapu  daripada menunggu dan tidak divaksinasi."

"Banyak nyawa telah diselamatkan oleh vaksin," tambahnya.

Para peneliti selanjutnya menyarankan "strategi alternatif" seperti suntikan booster.

Ini mungkin diperlukan untuk meningkatkan perlindungan bagi mereka yang telah menerima Sinovac.

"Prioritasnya adalah booster untuk orang yang menerima Sinovac, sementara booster untuk orang yang awalnya menerima BioNTech, mungkin tidak begitu mendesak," katanya.

Baca juga: Malaysia Hentikan Penggunaan Vaksin Sinovac, Kini Fokus Gunakan Vaksin Pfizer

Baca juga: Cegah Penyebaran Covid-19, Gampong Hilir Laksanakan Vaksin Massal

Pfizer-BioNTech Akan Suplai 50 Juta Dosis Vaksin Covid-19 untuk Indonesia

PT Pfizer Indonesia dan BioNTech telah menyepakati perjanjian dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk menyediakan 50 juta dosis vaksin Covid-19 (BNT 162b2) sepanjang tahun 2021.

Walaupun nilai perjanjian bersifat rahasia, namun kesepakatan yang ada didasarkan pada waktu pengiriman dan volume dosis yang disepakati.

Demikian pengumuman Pfizer dan BioNTech, Rabu (14/7/2021).

 “Kami sangat bergembira dengan telah ditandatanganinya perjanjian ini dengan Pemerintah Indonesia, sebagai bagian dari komitmen bersama dalam mengatasi ancaman global ini," ujar Country Manager PT Pfizer Indonesia Stephen Leung dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

"Perjanjian ini merupakan sebuah langkah penting untuk menghadirkan vaksin COVID-19 untuk melindungi kesehatan masyarakat di Indonesia, memulihkan perekonomian dan mempercepat kembalinya kehidupan normal bagi masyarakat Indonesia,” lanjut dia.

 Menurut Leung, di tengah krisis kesehatan global ini, tujuan Pfizer ini adalah sebagai terobosan yang mengubah hidup pasien yang menjadi semakin relevan.

Sementara Chief Business and Chief Commercial Officer BioNTech Sean Marett menambahkan, pihaknya mengapresiasi  Pemerintah Indonesia atas vaksin Covid-19 yang dikembangkannya.

"Tujuan kami adalah menyediakan suplai vaksin Ccovid-19 yang dapat diterima dan efektif bagi banyak orang di seluruh dunia, secepat mungkin,” kata dia.

 Pfizer dan BioNTech menargetkan untuk memproduksi 3 miliar dosis vaksin Covid-19 secara global sampai dengan akhir tahun 2021, dengan asumsi pelabelan 6 dosis yang diperbarui, perbaikan proses secara terus-menerus, perluasan fasilitas produksi yang ada, serta melalui penambahan pemasok baru dan produsen kontrak.

Sebagai informasi, vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech, berbasis teknologi mRNA.

BioNTech merupakan pemegang izin edar di Uni Eropa, dan pemegang otorisasi penggunaan dalam kondisi darurat di Amerika Serikat (bersama dengan Pfizer), Kanada, dan negara-negara lain sebelum nantinya diajukan permohonan izin edar penuh.

Adapun, uji klinis BNT 162b2 Tahap 3, yang dikembangkan berdasarkan teknologi mRNA milik BioNTech, dimulai pada akhir bulan Juli 2020 dan pendaftaran atas produk vaksin ini diselesaikan pada bulan Januari 2021 dengan lebih dari 46.000 peserta.

Baca juga: 8 Napi Lapas Blangpidie Kabur, Begini Kronologisnya Hingga Tusuk Petugas Pakai Pecahan Kaca Jendela

Baca juga: Amerika Serikat Sesalkan Pengunduran Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri

Baca juga: Mahasiswa BBG Diundang ke Festival Internasional di Italia, Ini Tarian Aceh akan Mereka Tampilkan

 Kompas.com dengan judul "Studi Terbaru: Vaksin Covid-19 BioNTech Hasilkan Antibodi 10 Kali Lebih Banyak dari Sinovac",

BACA BERITA LAIN TERKAIT VAKSIN COVID-19

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved