Breaking News:

Salam

Semangat Berkurban Mestinya Meningkat di Tengah Pandemi

Sudah dua tahun, kita merayakan Idul Adha di tengah pandemi yang memaksa kita membatasi banyak aktivitas, termasuk silaturrahmi

Editor: bakri
Serambinews.com
Panitia penyembelihan hewan kurban menumpuk daging 

Sudah dua tahun, kita merayakan Idul Adha di tengah pandemi yang memaksa kita membatasi banyak aktivitas, termasuk silaturrahmi. Meski demikian, semangat hari raya yang kita sebut sebagai Idul Kurban ini tadak boleh mengendur. Sebab, dalam suasana apa pun, setiap hari raya Idul Adha seluruh umat Islam yang mampu akan melaksanakan ibadah kurban.

Pelaksanaan ibadah kurban, jika ditelisik secara mendalam, memiliki dimensi makna yang bersifat horizontal selain vertikal. Secara horizontal, kurban menuntut manusia untuk dapat memetik nilai-nilai luhur kepedulian terhadap sesama dan merealisasikan ke dalam kehidupan nyata. Ibadah kurban dalam makna dimensi vertikal tecermin pada keikhlasan orang yang berkurban dalam memberikan daging hewan kurban tanpa mengharap imbalan apapun di dunia.

Dalam dimensi horizontal pula, kurban mengajarkan manusia untuk saling berbagi, jangan sampai sifat-sifat buruk seperti pelit, kikir, tamak, serakah, dan loba terus menjadi sifat dalam berkehidupan sosial. Sifat-sifat tersebut harus diganti dengan sifat dermawan, peduli, saling menolong, dan berkasih sayang terhadap orang lain. Sifat-sifat rela berkurban untuk kelangsungan hidup bersama menjadi bagian penting dari pendidikan ibadah kurban.

Ibadah kurban mengajarkan kita untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. Karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa (lemah) dan mustadh afin (dilemahkan). Di sisi lain ibadah kurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai negeri ini, meski di tengah suasana pandemi.

Perintah berkurban bagi mereka yang diberi kelebihan rezeki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan penting bahwa kita bisa dekat dengan Allah SWT ketika kita bisa mendekati hamba-Nya yang membutuhkan. Semangat menyembelih hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fakir dan miskin, jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong-menolong antarumat. Yang kaya menolong yang miskin dan begitu juga sebaliknya. Sikap solidaritas ini diharapkan akan mengurangi kesenjangan sosial dan menciptakan suasana aman bagi pemberdayaan masyarakat.

Dalam konteks kekinian, substansi kurban dapat direalisasikan dengan memberikan bantuan kepada para korban, misalnya yang terkena kebijakan PPKM akibat serangan virus Corona.  Memberi sumbangan dalam bentuk apapun, sesuai dengan kemampuan masing-masing setiap kita, akan sangat besar manfaatnya bagi mereka yang sedang kesulitan. Selain itu, umat Islam perlu mengorbankan sebagian hartanya untuk para fakir dan miskin.

Kita sangat berharap dengan perayaan Idul Adha 1442 ini akan muncul semangat berkurban di masyarakat, apalagi pemerintah. Semangat berkurban ini sangat penting artinya dalam membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik dan lebih sejahtera. Makna utama ibadah kurban yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat menginspirasi bagaimana kita bisa saling berbagi dan memberdayakan sesama umat manusia, terutama mereka yang kurang beruntung. Pemaknaan seperti inilah yang akan menemukan relevansinya dengan kondisi bangsa kita yang sedang didera banyak derita bencana dan multikrisis di segala sektor, khususnya akibat pandemi.

Lalu, para penceramah Idul Adha juga sering melihat perlunya penumbuhan semangat berkurban dalam kehidupan politik. Para elite politik kita (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) hendaknya mau mengorbankan ambisi politik dan vested of interest untuk tidak menggunakan instrumen konstitusi sebagai legitimator gerakan politik kepentingan atau menggunakan kekuatan massa konstituen untuk dijadikan bamper politik demi ambisi pribadinya.

Para pejabat negara dan anggota dewan mestinya tidak mengorbankan hati nuraninya dengan mengubah lembaga tinggi negara itu menjadi semacam lembaga profesi, bisnis, ajang merebut kekuasaan, dan lembaga yang dianggap ‘aman’ untuk melakukan korupsi, suap, dan praktek haram lainnya. Para anggota dewan harusnya mau mengorbankan ambisinya untuk membangun gedung yang baru di saat sebagaian masyarakat kita masih hidup dalam kemiskinan.

Demikian juga para penegak hukum, termasuk KPK, mestinya berani mengorbankan dirinya untuk secara evolutif dan konsisten menegakkan the rule of law dan law enforcement terhadap pelaku extra-ordinary crime seperti korupsi dan suap, tidak tebang pilih. Nah?

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved