Selasa, 5 Mei 2026

Luar Negeri

Tunisia Memanas, Presiden Pecat Perdana Menteri dan Bekukan Parlemen, Dituding Kudeta, Militer Siaga

Setelah memecat perdana menteri, Saied menuturkan bahwa dia akan mengambil alih kekuasaan eksekutif dengan bantuan perdana menteri baru.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
AP PHOTO/HASSENE DRIDI
Petugas polisi Tunisia bentrok dengan pengunjuk rasa selama demonstrasi di Tunis, Tunisia, Minggu (25/7/2021). Demonstrasi disertai kekerasan pecah pada Minggu di beberapa kota Tunisia. Pengunjuk rasa menyatakan kemarahan pada memburuknya situasi kesehatan, ekonomi, dan sosial negara itu.(AP PHOTO/HASSENE DRIDI) 

SERAMBINEWS.COM, TUNISPresiden Tunisia Kais Saied membubarkan pemerintah yang dipimpin perdana menteri dan membekukan parlemen pada Minggu (25/7/2021).

Setelah memecat perdana menteri, Saied menuturkan bahwa dia akan mengambil alih kekuasaan eksekutif dengan bantuan perdana menteri baru.

Insiden tersebut merupakan tantangan terbaru bagi konstitusi demokratis yang membagi kekuasaan antara presiden, perdana menteri, dan parlemen di Tunisia sejak 2014 sebagaimana dilansir Reuters.

Massa dengan cepat membanjiri jalanan ibu kota Tunisia, Tunis, dengan berteriak dan membunyikan klakson mobil dalam adegan yang mengingatkan revolusi Tunisia pada 2011 ketika gelombang Arab Spring menyapu Timur Tengah.

Protes tersebut diserukan oleh para aktivis media sosial tetapi tidak didukung oleh satu pun partai politik besar di Tunisia.

Selain membanjiri jalanan, massa juga meluapkan kemarahan mereka pada partai Islam moderat yang terbesar di parlemen, Ennahda.

Namun, masih belum jelas sebesar dukungan yang didapatkan Saied dalam melawan pemerintah yang rapuh dan parlemen yang terpecah.

Saied memperingatkan agar langkah pemecatan perdana menteri dan pembekuan parlemen tersebut tidak dilawan dengan kekerasan dalam bentuk apa pun.

"Saya memperingatkan siapa pun yang berpikir untuk menggunakan senjata, dan siapa pun yang menembakkan peluru, angkatan bersenjata akan merespons dengan peluru," kata Saied.

Sebelum Saied membuat langkah terbaru tersebut, Tunisia diguncang aksi demonstrasi yang memprotes korupsi, penurunan pelayanan negara, dan meningkatnya pengangguran.

Ennahda merupakan partai terlarang sebelum revolusi Tunisia.

Setelah 2011, Ennahda menjadi partai yang paling sukses di parlemen.

Pemimpin Ennahda Rached Ghannouchi, yang juga ketua parlemen Tunisia, menyebut keputusan Saied tersebut sebagai kudeta terhadap revolusi dan konstitusi.

"Kami menganggap institusi masih berdiri, dan pendukung Ennahda serta rakyat Tunisia akan membela revolusi," ujar Ghannouchi.

Baca juga: Tunisia Catat Angka Kematian Tertinggi Virus Corona di Afrika dan Arab

Baca juga: Arab Saudi Kirim Bantuan Medis ke Tunisia, Atasi Wabah Virus Corona

Perselisihan

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved