Jumat, 5 Juni 2026

Wawancara Khusus

Ingin Apriyani Jadi Pelatih Bulutangkis

Amirudin, ayah pebulutangkis Apriyani Rahayu memiliki mimpi besar terhadap anaknya di masa depan. Ia ingin sekali agar Apriyani menjadi pelatih

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
AMIRUDDIN, Ayah Apriyani Rahayu 

Amirudin, ayah pebulutangkis Apriyani Rahayu memiliki mimpi besar terhadap anaknya di masa depan. Ia ingin sekali agar Apriyani menjadi pelatih bulutangkis andal untuk melahirkan bibit-bibit atlet baru.

"Satu-satunya harapan ke depan kalau dia sudah gantung raket supaya dia bisa balik membina anak-anak putra putri daerah di bidang olahraga bulutangkis," pinta Amirudin saat wawancara khusus oleh Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, dan News Manager Tribun Network, Rachmat Hidayat, Sabtu (7/8/2021).

Amirudin mengaku sangat bangga atas raihan medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 bersama Greysia Polii.Menurutnya, Apriyani sosok yang tekun, gigih, dan konsisten dalam menjalankan rutinitas berlatih. "Hari-harinya Apri sangat memerhatikan latihan, kebetulan dari rumah ke tempat latihan sejauh 9 kilometer. Terpaksa kami orang tua turun tangan mengantar. Latihannya setiap hari pagi, siang, dan malam," ucap Amirudin.

Amirudin menjelaskan Apriyani juga memiliki sikap santun terhadap orang yang berusia lebih tua.Hal itu terlihat dari kebiasaan Apriyani mencium tangan pasangan mainnya Greysia Polii kala bertanding.

Menurut Amirudin hal itu sudah menjadi tradisi dari tempatnya berasal Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Konawe Kelurahan Lawulo. "Pertama memang kebiasaan dia khususnya orang Sulawesi Tenggara selalu menghormati yang tua. Sudah tradisinya bagi kami masyarakat Konawe," imbuhnya. Berikut wawancara khusus Tribun Network bersama Ayah Apriyani Rahayu, Amirudin:

Bagaimana perasaan Anda ketika tahu Apriyani meraih medali emas?

Saya sangat berbahagia dan bangga sekali karena putri saya dapat medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Alhamdulillah. Dan saya berterimakasih seluruh masyarakat Indonesia khususnya di Provinsi Sulawesi Tenggara Kabupaten Konawe Kelurahan Lawulo yang telah mendoakan anak saya sehat dan bisa meraih emas.

Waktu Apriyani mendapat medali emas Anda sampai meneteskan air mata, apa penyebabnya?

Putri saya sudah beberapa tahun selalu juara bulutangkis namun suasana Olimpiade ini berbeda tentu kita ada rasa terharu. Ditambah saya juga mengingat almarhum mamahnya yang selalu mengantar kemana-mana. Itulah sehingga meneteskan air mata. Kalau masalah juara yang baru-baru ini di Spanyol dia juara satu, alhamdulilah di Perancis, India, Thailand empat kali juara satu. Orang tua kewajibannya tinggal berdoa dan bisa dia aktif latihan terus sesuai program di pelatnas.

Selepas naik podium apakah Apriyani sempat telepon, dan apa yang dia sampaikan?

Iya, dia langsung menghubungi saya sambil menangis lalu bilang Alhamdulilah tercapai cita-cita piala dunia. Dan doakan lagi ke depannya supaya dapat terus mumpung masih ada waktu.

Ada yang menarik putri Anda selalu mencium tangan dari pasangan mainnya, bisa diceritakan apakah hal ini menjadi kebiasaan menghormati orang yang lebih tua?

Memang kebiasaan dia khususnya orang Sulawesi Tenggara selalu menghormati yang tua. Sudah tradisinya bagi kami masyarakat Konawe.

Menjadi atlet ada batas usianya sebenarnya apa harapan besar untuk putri Anda ke depan?

Alhamdulillah saat ini putri saya sudah menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Satu-satunya harapan ke depan kalau dia sudah gantung raket supaya dia bisa balik membina anak-anak putra putri daerah di bidang bulutangkis (menjadi pelatih).

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved