Jumat, 10 April 2026

Internasional

Arab Saudi Dukung Perjuangan Rakyat Lebanon, Melawan Krisis Ekonomi

Kerajaan Arab Saudi mendukung rakyat Lebanon yang sedang berjuang melawan Krisis Ekonomi. Kerajaan mengatakan bantuan apapun kepada pemerintah saat

Editor: M Nur Pakar
AP
Para demonstran membawa foto keluarganya yang menjadi korban tewas ledakan pelabuhan Beirut, Lebanon untuk menuntut keadilan dan para pejabat yang bertanggungjawab harus segera diadili, Minggu (8/8/2021). 

SERAMBINEWS.COM, RIYADH - Kerajaan Arab Saudi mendukung rakyat Lebanon yang sedang berjuang melawan Krisis Ekonomi.

Kerajaan mengatakan bantuan apapun kepada pemerintah saat ini atau di masa depan bergantung pada pelaksanaan reformasi yang serius dan nyata.

Dilansir ArabNews, Rabu (11/8/2021), harus memastikan bantuan menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

Mata uang Lebanon telah kehilangan lebih dari 90% nilainya dalam waktu kurang dari dua tahun.

Sehingga, menyebabkan terjadinya krisis bahan bakar, listrik dan obat-obatan.

Kebakaran Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020 dipicu tumpukan besar amonium nitrat.

Menyebabkan salah satu ledakan masa damai terbesar dalam sejarah, memicu kemarahan elit politik di negara itu.

Baca juga: Pengendara Membludak di SPBU Lebanon, Keributan Meletus, Tiga Orang Tewas

Amonium nitrat, pupuk yang sangat eksplosif, telah disimpan selama bertahun-tahun di pelabuhan tanpa tindakan pencegahan keamanan, menurut pemerintah sendiri.

Ledakan itu melukai 6.500 orang dan menyebabkan kerugian miliaran dolar AS.

Pada 10 Agustus 2020, Perdana Menteri Hassan Diab berbicara kepada orang-orang Lebanon lima hari setelah ledakan.

Dia mengatakan telah memutuskan untuk berhenti karena sistem korupsi lebih besar daripada negara.

Sejak itu, Diab telah menjadi perdana menteri sementara pemerintah yang tidak dapat membuat keputusan di negara yang semakin hari semakin terpuruk ke dalam jurang maut.

Ini adalah periode terlama bagi pemerintah dalam sejarah politik Lebanon.

Tiga Perdana Menteri telah sia-sia ditugaskan untuk membentuk pemerintahan baru.

Perdana Menteri yang ditunjuk Najib Mikati mengatakan sudah ada kemajuan, meskipun berjalan lambat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved