BM Diah, Putra Aceh Penyelamat Naskah Asli Teks Proklamasi
BM Diah kemudian menyerahkan naskah proklamasi tulisan tangan tersebut kepada Presiden Soeharto pada 1995
* HUT Kemerdekaan RI
Teks itu dikantongi dan disimpannya lebih dari 40 tahun. BM Diah kemudian menyerahkan naskah proklamasi tulisan tangan tersebut kepada Presiden Soeharto pada 1995. Pada tahun yang sama, naskah asli teks proklamasi tersebut disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia hingga saat ini.
Naskah asli teks Proklamasi kembali dihadirkan dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (17/8/2021). Naskah asli tersebut berisi tulisan tangan Soekarno di atas secarik kertas.Tahun ini merupakan tahun kedua arsip bersejarah ini dihadirkan di Istana Merdeka, bersandingan dengan teks proklamasi yang diketik oleh Sayuti Melik dan Bendera Pusaka.
Tapi tahukah Anda, naskah asli tersebut mungkin tidak akan pernah ditampilkan tanpa adanya peran dan jasa dari BM Diah? Publik mungkin lebih mengenal BM Diah sebagai tokoh pers, pejuang kemerdekaan, diplomat, dan pengusaha Indonesia. Tapi, tak banyak yang tahu bahwa BM Diah merupakan satu dari segelintir tokoh yang menjadi saksi perumusan naskah proklamasi di kediaman Laksamana Maeda.
Juga tak banyak yang tahu bahwa BM Diah ternyata merupakan putra asli Aceh, orang yang menyelamatkan naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dia juga merupakan orang pertama yang menyebarkan kabar tentang kemerdekaan Indonesia ke media massa sehingga diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, sebagaimana dilansir Kompas.com, naskah proklamasi awalnya ditulis pada selembar kertas berwarna putih dari blocknote. Kertas tersebut berukuran panjang 25,8 sentimeter, lebar 21,3 sentimeter dan tebal 0,5 milimeter.
Naskah Proklamasi ditulis oleh Soekarno pada dini hari, Jumat 17 Agustus 1945, di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Meiji Dori (sekarang Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat). Ada tiga orang yang terlibat merumuskan naskah Proklamasi yaitu Soekarno, Moh Hatta, dan Achmad Soebardjo.
Paragraf pertama naskah proklamasi adalah usulan Achmad Soebardjo. Paragraf kedua naskah proklamasi adalah usulah Moh Hatta. Selanjutnya naskah proklamasi dimintakan persetujuan sidang yang seluruhnya berjumlah sekitar 40 orang. Segera setelah teks proklamasi disusun, Sayuti Melik mengetik teks tersebut. Ada beberapa perubahan yang dibuat oleh Sayuti Melik saat mengetik teks proklamasi.
Perubahan tersebut antara lain:
Tempoh yang diubah menjadi tempo.
Wakil-wakil bangsa Indonesia menjadi atas nama bangsa Indonesia.
Tambahan nama Soekarno-Hatta.
Djakarta, 17-8-05 menjadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05.
Usai diketik, karena dianggap tak diperlukan lagi, naskah tulisan tangan Soekarno itu sempat dibuang di keranjang sampah. Untungnya, naskah tersebut diambil dan disimpan oleh BM Diah sebagai dokumen pribadi setelah rapat perumusan naskah proklamasi berakhir pada 17 Agustus 1945. Dia segera saja menuju kantor stasiun radio untuk menyiarkan kabar berita tersebut. Di belakang teks tersebut diberi catatan tulisan tangan BM Diah:
“Berita istimewa, berita istimewa. Pada hari ini, tanggal 17 bulan 8, 1945 di Djakarta telah dioemoemkan proklamasi kemerdekaan Indonesia jang boenjinya: Proklamasi, Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan, kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dllnja, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnya. Djakarta, 17-8-1945".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bm-diah-dan-naskah-teks-proklamasi.jpg)