Kamis, 7 Mei 2026

Luar Negeri

Pria Yahudi Terakhir di Afghanistan Tolak Dievakuasi Meski Taliban Berkuasa

Berdasarkan laporan sejumlah media, Simentov awalnya tinggal di Herat dan membuka restoran serta menjual karpet.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
AFP via Daily Mail
Zebulon Simentov saat berada di sinagoge. Simentov menjadi Yahudi terakhir di Afghanistan, dan bersiap untuk pergi jika Taliban berkuasa kembali.(AFP via Daily Mail) 

SERAMBINEWS.COM, KABUL - Yahudi terakhir di Afghanistan dilaporkan memutuskan tinggal, meski Taliban kembali ke pucuk kekuasaan.

Zebulon Simentov sudah tinggal di negara itu sepanjang hidupnya, dan menghuni sinagoga terakhir di ibu kota Kabul.

Berdasarkan laporan sejumlah media, Simentov awalnya tinggal di Herat dan membuka restoran serta menjual karpet.

Tim penyelamat yang dikelola pengusaha AS-Israel Moti Kahana mengungkapkan, Simentov sebenarnya sudah siap dievakuasi pada Selasa (17/8/2021).

Saat itu, jalanan di ibu kota begitu kacau karena penduduknya berusaha menyelamatkan diri ketika Taliban masuk.

"Saya berurusan dengan banyak orang gila, dan dia masuk ke daftar teratas," kata Kahana kepada New York Post Sabtu (21/8/2021).

Pria yang mengelola perusahaan keamanan swasta itu menceritakan, awalnya timnya sudah sampai di rumah Simentov.

Pria berusia 62 tahun itu tiba-tiba meminta uang 50.000 dollar AS (Rp 722,7 juta), dan mengacaukan upaya penyelamatan.

"Saya tidak membayar orang supaya hidup mereka selamat," kata Kahana, yang menyesalkan awalnya Simentov berniat ikut.

Mendy Chitrik, Ketua Aliansi Rabbi di Negara Islam menuturkan, Simentov berubah pikiran dan memutuskan tetap tinggal.

"Jika seseorang memutuskan tidak berangkat. Dia tak menjelaskan alasannya, tapi nampaknya dia cukup nyaman di sana," papar Chitrik.

Dia menuturkan selama bertahun-tahun, mereka berkontak dengan Yahudi terakhir di Afghanistan tersebut.

Selama itu pula, organisasi yang berbasis di Turki tersebut menyediakan Matzo dan kebutuhan peribadatan lainnya.

Sebelumnya pada April, Simentov sempat mengatakan dia berniat menyelamatkan diri jika Taliban kembali menguasai Afghanistan.

Pria yang tinggal sejak invasi Uni Soviet di periode 1970-an tersebut kembali mengulangi niatnya kepada Voice of America di Juni.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved