Selasa, 14 April 2026

Luar Negeri

Taliban Diduga Berikan Tempat Perlindungan kepada Al Qaeda

Jika laporannya terbukti benar, tentu bakal memunculkan pertanyaan mengapa Biden terburu-buru menarik militer.

Editor: Faisal Zamzami
AFP
Sejumlah pejuang Taliban bersenjata berpatroli di Kabul, Afghanistan 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON DC - Kelompok Taliban diyakini sudah memberikan tempat perlindungan kepada Al Qaeda, demikian laporan lembaga pengawas Pentagon.

Pemberontak menawarkannya sehari setelah Presiden Joe Biden menyatakan perang di Afghanistan sukses membuat negara itu takkan menjadi sarang teroris.

Jika laporannya terbukti benar, tentu bakal memunculkan pertanyaan mengapa Biden terburu-buru menarik militer.

Selain itu jika pasukan dan diplomat ditarik, siapa yang bakal memberikan informasi mengenai ancaman teroris di Afghanistan?

Laporan dari Lead Inspektur Jenderal untuk Operation Freedom's Sentinel menyebut, ISIS juga mulai menunjukkan gerak-geriknya.

Menurut lembaga pengawas itu, ISIS bergerak memanfatkan instabilitas politik dan restrukturisasi Pentagon di luar Afghanistan.

 "Mereka menyerang sekte minoritas dan infrastruktur untuk menebar ketakutan dan menunjukkan pemerintah Afghanistan tak mampu menyediakan keamanan warganya."

"Sebagai tambahan, Taliban diketahui tetap mempertahankan hubungannya dengan Al Qaeda.

Bahkan menyediakan perlindungan bagi teroris," lanjut lembaga itu.

Baca juga: Pejuang Mujahidin Beri Perlawanan ke Taliban, Tiga Daerah Direbut Kembali

Baca juga: Melihat Lebih Dekat Situasi Afghanistan di Kabul, Ribuan Warga Putus Asa tak Bisa Lari dari Taliban

Pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, menjadi buruan dunia setelah melancarkan serangan pada 11 September 2001, yang membunuh hampir 3.000 orang.

Aksi teror tersebut membuat AS melancarkan invasi ke Afghanistan, dan menggulingkan Taliban yang kala itu berkuasa.

Pada akhirnya, Osama bin Laden ditemukan dan tewas ditembak oleh Navy SEALs, unit elite militer AS, di Pakistan pada 2011.

Merusak jaringan yang ditinggalkan Bin Laden merupakan misi utama "Negeri Uncle Sam" dan NATO selama di Afghanistan.

Namun dengan kembalinya Taliban ke pucuk kekuasaan, para analis mulai mengalkulasi apa dampaknya bagi keamanan AS.

Berdasarkan kesepakatan di Doha, Qatar tahun lalu, Taliban harus memastikan Afghanistan tidak menjadi tempat bersembunyi.

Meski begitu, para petingginya merupakan orang-orang yang termasuk ke dalam daftar buruan Kementerian Luar Negeri AS.

Seperti contoh Sirajuddin Haqqani, wakil pemimpin yang merupakan salah satu pendiri kelompok teroris Jaringan Haqqani.

Dilansir Daily Mail, beberapa pakar menyoroti klaim pemerintahan Biden bahwa pemberontak tidak lagi bekerja sama dengan Al Qaeda.

"Narasi seperti dikalahkan, dikurangi. Pilih saja satu huruf yang akan mereka pakai, delusional," sindir Bill Roggio, editor Long War Journal.

Roggio menjelaskan kedua kelompok tersebut terus bersama, sehingga narasi yang disampaikan Washington tidak masuk akal.

Dia mengatakan, penilaian Pentagon penuh fiksi karena menempatkan Al Qaeda hanya diisi oleh sekitar 50-100 anggota.

Meski setiap tahunnya terdapat laporan 40-80 dibunuh. "Intelijen mereka bisa jadi tidak tahu atau malah bohong," kata dia.

Roggio memaparkan penarikan pasukan hingga warga AS akan membuat mereka kehilangan kemampuan mengumpulkan data intelijen.

Saat disinggung mengenai laporan itu, Pentagon menolak berkomentar dan memilih mengarahkannya ke Gedung Putih.

Baca juga: 5 Fakta Batalyon Badri 313, Pasukan Elite Taliban yang Miliki Kemampuan Bertempur di atas Rata-rata

Baca juga: Akhirnya Bisa Menang, Persiraja 0 vs 2 PON Aceh

Baca juga: Penkum Kejati Aceh Bantu Modal Usaha Warga

 Kompas.com dengan judul "Taliban Diduga Sudah Tawarkan Tempat Perlindungan kepada Al Qaeda"

BACA BERITA TALIBAN LAINNYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved