Ekspor Batubara
Ekspor Batubara Aceh Kembali Bergairah Menyusul Harga Jual Batubara Dunia Naik
Dari delapan perusahaan tersebut, baru dua perusahaan yang sudah melakukan penggalian dan penjualan batubara di dalam negeri dan luar negeri, yaitu PT
Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Herianto I Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Setelah beberapa tahun lalu kegiatan ekspor batubara dari Aceh ke luar negeri mengalami kelesuan, namun sejak tahun 2020-2021 ini kembali bergairah.
Kondisi ini dipicu kenaikan harga batubara dunia dari rata-rata 20 dolar/ton menjadi 32-33 dolar AS/ton sampai 36-37 dolar AS/ton, ekspor batubara dari Aceh ke luar negeri
“Menurut data dari BI Aceh dan Kantor Bea dan Cukai Aceh, volume ekspor batubara Aceh dari Januari sampai Juli 2021 sudah mencapai 5,3 juta ton, dengan nilai ekspor sekitar Rp 1,9 trilliun," kata Kadis ESDM Aceh Ir Mahdinur kepada Serambinews.com, Senin (6/9/2021) di Banda Aceh.
Mahdinur menjelaskan, di Aceh ada delapan perusahaan batubara yang telah mengantongi izin usaha pertambangan (IUP).
• Anggota DPRD Batubara Dituding Selingkuhi Istri Keponakannya, Isi Chatnya Bikin Keluarga Meradang
Dari delapan perusahaan tersebut, baru dua perusahaan yang sudah melakukan penggalian dan penjualan batubara di dalam negeri dan luar negeri, yaitu PT Bara Energi Lestari dan PT Mifa Bersaudara.
PT Mifa Bersaudara miliki areal tambang batu bara seluas 3.134 hektare terletak di Wilayah Kabupaten Aceh Barat sedangkan PT Bara Energi Lestari miliki areal tambang batu baranya seluas 1.495 hektare, terletak di Nagan Raya.
Sedangkan enam perusahaan lagi yang juga berada di wilayah Aceh Barat dan Nagan Raya, kata Mahdinur, sampai tahun ini, belum ada laporan apakah mereka telah berproduksi atau belum.
"Kepada enam perusahaan yang sudah mendapat IUP Batubara itu, kita surati kembali, untuk mempertanyakan, kenapa sampai kini mereka belum memberikan laporan terkait kelanjutan IUP yang sudah diberikan. Kalau memang mereka tidak bisa melanjutkan kegiatan IUP nya, maka harus dilaporkan kembali kepada Pemerintah Aceh, begitu juga sebaliknya bila ingin berproduksi," ujarnya.
• Panglima Laot Minta Perusahaan Serius Tangani Limbah Batubara di Perairan Aceh Barat
Sampai saat ini, kata Mahdinur, menurut informasi dari Perwakilan BI Aceh dan Kantor Bea Cukai Aceh, pangsa pasar terbesar batubara dari Aceh di luar negeri adalah India mencapai 78,62 persen, setelah itu baru Thailand sebesar 7,52 persen dan Vietnam 0,92 persen.
Potensi bahan baku batubara di Aceh, menurut Mahdinur cukup besar, buktinya sudah ada delapan perusahaan yang mengantongi IUP batu bara.
Namun baru dua perusahaan yang telah melakukan penggalian dan penjualan.
Karena potensi deposit batu bara di Aceh, terutama wilayah Aceh Barat dan Nagan Raya cukup besar, telah mendorong investor dalam bidang kelistrikan menambah investasinya di Aceh.
Empat tahun lalu, ungkap Mahdinur, kita ketahui ada pembangunan proyek PLTU I dan II kapasitas 2 x 100 MW, di Aceh Barat dan Nagan Raya. Proyek PLTU I dan II miliknya PT PLN, berbahan bakar batu bara itu, kini sudah beroperasi dan daya listriknya sudah dinikmati masyarakat sekitar pantai barat - selatan Aceh sampai Pidie, Aceh Besar dan Banda Aceh.
• Eks Mensos Juliari Batubara Divonis 12 Tahun, Wajib Ganti Rp 14,5 Miliar dan Dicabut Hak Politik
Sejarah pembangunan PLTU I dan II berbahan bakar batu bara itu, dilakukan, kata Mahdinur, didasari oleh hasil penelitian potensi bahan tambang batu bara di dekat lokasi proyek PLTU I dan II itu, sangat besar.
Kesukesan pembangunan PLTU I dan II oleh PLN, kini investor dari dalam dan luar negeri , telah memrogramkan pembangunan proyek PLTU III dan IV yang didasari oleh sumber potensi batu bara, yang akan dijadikan bahan bakar PLTU mencapai puluhan tahun lamanya.
Deposit potensi bahan tambang batubara yang ada di wilayah Aceh Barat dan Nagan Raya, kata Mahdinur, sangat besar, makanya investor lainnya tertarik untuk membangun PLTU III dan IV, berkapasitas 2 x 200 MW.
Aceh, kata Mahdinur, sangat terbantu, setelah ada perusahaan batu bara yang menggali dan menjual bahan tambang batu baranya.
Dampak positif dari kegiatan penambangan batu bara tersebut, di Aceh Barat dan Nagan Raya, sudah hadir dua proyek PLTU, yaitu PLTU I dan II, yang produksi listriknya sudah dinikmati masyarakat. Sekarang, akan muncul lagi proyek PLTU III dan IV.
Kehadiran kedua proyek PLTU tersebut, setidaknya sudah menyerap tenaga kerja ratusan orang dari masyarakat lokal dan daerah Aceh lainnya.
Kemudian, di wilyah pantai barat dan selatan Aceh, sudah tidak lagi mengalami krisis daya listrik.
Setelah proyek PLTU III dan IV nanti beroperasi, kata Mahdinur, daerah ini akan menjadi pensuplai arus listrik untuk kebutuhan pulau sumatera, karena jaringan listrik dari Aceh sudah tersambung ke jaringan listrik tegangan tinggi yang ada di Pulau Sumatera.
Kenapa investor nasional dan luar negeri mau melanjutkan proyek PLTU di Aceh Barat dan Nagan Raya, menurut Mahdinur, ada beberapa faktor pendukung. Pertama deposit bahan tambang batu bara yang ada di Aceh Barat dan Nagan raya, cukup besar.
Kedua karena harga batu bara di dalam negeri, dikontrol pemerintah dan ditetapkan 20 dolar AS/ton.
“Harga batu bara senilai itu, dinilai investor sangat ekonomis, untuk membangun proyek PLTU, yang produksi listriknya nanti, sudah ada yang tampung membelinya, yaitu PLN,”ujar Mahdinur.(*)
Baca juga: VIDEO - Puluhan Rumah Warga Pidie Ambruk Terkikis Aliran Sungai Krueng Baro
Baca juga: Gerai Vaksin Keliling Satlantas Polres Aceh Singkil Sambangi Sekolah
Baca juga: Sepuluh Ribu Nakes Disuntik Moderna, 311 Pasien Covid-19 Sembuh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mahdinur.jpg)