Jumat, 15 Mei 2026

Luar Negeri

Puluhan Juta Warga Afghanistan Mulai Kelaparan, Taliban Minta Bantuan Negara Lain

Kami menginginkan ini untuk rakyat kami, karena rakyat kami, mereka telah banyak menderita karena 20 tahun terakhir dan ini adalah waktu kritis,” kata

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
AFP/Hoshang Hashimi
Para wanita meneriakkan slogan-slogan selama demonstrasi anti-Pakistan, dekat Kedutaan Besar Pakistan di Kabul, Afghanistan, Selasa (7/9/2021). 

SERAMBINEWS.COM, KABUL - Juru bicara Kelompok Taliban, Suhail Shaheen mengakui saat ini Afghanistan membutuhkan bantuan kemanusiaan dari negara-negara tetanga dan negara-negara di kawasan regional.

Saat ini ada sekitar 30–50 juta warga Afghanistan tengah kelaparan dan membutuhkan bantuan.

“Mereka sangat membutuhkan makanan dan bantuan sesegera mungkin. Orang-orang Afghanistan.

Mereka hidup di bawah garis kemiskinan, jadi ini adalah tantangan dan prioritas bagi kami," ujarnya  dalam sebuah wawancara yang dikutip dari APTN pada Kamis (9/9/2021).

Shaheen menyebut selama 20 tahun belakangan, rakyat Afghanistan telah menderita.

“Kami tidak menginginkan bantuan ini untuk diri kami sendiri.

Kami menginginkan ini untuk rakyat kami, karena rakyat kami, mereka telah banyak menderita karena 20 tahun terakhir dan ini adalah waktu kritis,” katanya.

Selain membutuhkan bantuan kemanusiaan, Taliban juga membuka kerja sama dengan China dalam membangun Afghanistan.

Ia menyebut, menjalin hubungan baik dengan China adalah kebijakan dari Kelompk Taliban.

“Kebijakan kami adalah memiliki hubungan baik dengan China. Ini didasarkan pada kebijakan kami”, ungkah Shaheen .

Baca juga: Dianggap Tak Penting, Taliban Akan Larang Wanita Afghanistan Memainkan Permainan Olahraga

Baca juga: Tujuh Tokoh Kunci Taliban Masuk Kabinet Pemerintahan Baru Afghanistan

Pakistan Serukan Bantuan

Pakistan mendesak masyarakat internasional untuk mengadopsi tiga pendekatan untuk membantu Afghanistan setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban.

Tiga pendekatan tersebut yakni memberikan bantuan kepada 14 juta orang yang menghadapi krisis kelaparan di Afghanistan, mempromosikan pemerintahan yang inklusif, dan bekerja dengan Taliban untuk membasmi semua kelompok teroris di negara tersebut.

Duta Besar Pakistan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Munir Akram menekankan bantuan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama.

Pembekuan aset Afghanistan oleh Amerika Serikat (AS) disebutnya tidak membantu karena membuat Taliban tidak memiliki akses kepada dolar atau valuta asing lainnya untuk membeli makanan atau impor minyak.

“Akan terjadi inflasi. Harga di Afghanistan akan naik lebih lanjut. Tingkat kemiskinan akan meningkat,” Akram memperingatkan.

“Anda kemudian akan mengalami krisis pengungsi yang ditakuti oleh Barat,” ujarnya seperti dikutip dari The Associated Press, Jumat (3/9/2021) lalu.

Krisis Pangan

Afghanistan saat ini akan menghadapi krisis pangan, membuat 1 dari 3 orang kelaparan, dengan persediaan pangan PBB di sana habis bulan ini.

"Pada akhir September, stok (pangan) yang dimiliki Program Pangan Duni di negara itu akan habis," kata Ramiz Alakbarov, koordinator kemanusiaan PBB di Afghanistan, pada Rabu (1/9/2021), seperti yang dilansir dari Firstpost.

Padahal, lebih dari separuh anak-anak di negara itu sudah kesulitan untuk mendapatkan makanan. Dia menekankan bahwa kerawanan pangan "sangat jelas" di seluruh wilayah negara.

Al Jazeera melaporkan baru-baru ini harga makanan di Afghanistan sudah naik sekitar 50 persen, dan BBM sekitar 75 persen.

Dengan banyaknya bantuan internasional yang mandek, Alakbarov mengatakan layanan pemerintah tidak dapat berfungsi dan pegawai negeri tidak menerima gaji mereka.

Taliban belum membentuk pemerintahan baru, dan pengakuan internasional untuk mereka masih dipertanyakan, sehingga menjadi kendala dimulainya kembali bantuan asing untuk Afghanistan.

“Situasinya...cukup mengerikan sekarang. Bahkan sebelum krisis ini, banyak warga Afghanistan sudah hidup jauh di bawah garis kemiskinan,” kata Alex Zerden, mantan atase keuangan kementerian keuangan AS untuk Kabul, kepada Al Jazeera.

“Situasinya...secara langsung disebabkan oleh penarikan diri Taliban dari negosiasi damai...dan terlibat dalam pengambilalihan dengan kekerasan,” imbuh Zerden.

Kepala bank sentral yang ditunjuk Taliban, Haji Mohammad Idris, mencoba meyakinkan bank-bank di Afghanistan bahwa mereka menginginkan sistem keuangan yang berfungsi penuh.

Namun sejauh ini, Taliban hanya memberikan sedikit detail tentang bagaimana mereka akan memasok dana, kata para bankir yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters.

Sebelumnya pada Rabu (1/9/2021), kelompok itu melakukan arak-arakan beberapa perangkat keras militer di Kandahar, termasuk kendaraan lapis baja, yang mereka rebut selama pengambilalihan kekuasaan.

Di antaranya, helikopter Black Hawk, yang dilaporkan telah diterbangkan di Kandahar baru-baru ini, oleh seseorang dari mantan tentara Afghanistan, karena Taliban kekurangan pilot, menurut kantor berita AFP.

Sementara itu, sebuah penerbangan Qatar Airways telah mendarat di Kabul dengan membawa tim yang akan membantu menjalankan kembali bandara sebagai jalur penyelamat untuk bantuan.

Baca juga: Pengusaha Dahlan Tiro akan Kembangkan Umbi Porang di Pidie, Ini Lokasi dan Konsep Diterapkan

Baca juga: Masa Iddah Belum Selesai, Sudah Ada 159 Pria Mengajak Larissa Chou Menikah, Ini Kriteria Calon Suami

Baca juga: Disomasi Sentul City hingga Rumah Terancam Dibongkar, Kuasa Hukum: Rocky Gerung Sah Pemilik Lahan

Sumber: Kompas.TV/ATPN/AP/Reuters
 

Tribunnews.com dengan judul Taliban Akui Puluhan Juta Warga Afghanistan Mulai Kelaparan, Minta Bantuan Negara Lain

BACA BERITA TALIBAN LAINNYA

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved