Minggu, 12 April 2026

Napak Tilas Jalur Rempah di Samudera Pasai Diangkat dalam Film ‘Laguna Teluk Samawi’

Film dibuka dengan seni mop-mop berlatar pantai, mengisahkan syair tentang perjalanan rempah masa silam

Editor: bakri
FOTO KIRIMAN NYAKMAN LAMJAME
Crew melakukan syting film ‘Laguna Teluk Samawi’ di Lhokseumawe, beberapa waktu lalu. 

* Digarap Nyakman Lamjame dkk

Film ‘Laguna Teluk Samawi’ dikerjakan oleh anak-anak muda berbakat. Film dibuka dengan seni mop-mop berlatar pantai, mengisahkan syair tentang perjalanan rempah masa silam. Teluk Samawi sendiri konon adalah nama lain dari Lhokseumawe, yang kemudian dijadikan judul film tersebut.

Selang sepekan terakhir beredar luas di jaringan media sosial potongan film ‘Laguna Teluk Samawi.’ Film yang mengangkat tentang napak tilas jalur rempah di negeri Samudera Pasai ini dijadwalkan tayang di Indonesiana TV dan Kanal Budaya Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan Kemendikbud Ristek.

Film tersebut mengangkat dokumentasi tentang bandar pelabuhan dan ‘seuneubok lada’ yang di dalamnya terdapat lima pilar jalur rempah. Film ‘Laguna Teluk Samawi’ dikerjakan oleh anak-anak muda berbakat. Film dibuka dengan seni mop-mop berlatar pantai, mengisahkan syair tentang perjalanan rempah masa silam. Teluk Samawi sendiri konon adalah nama lain dari Lhokseumawe, yang kemudian dijadikan judul film tersebut.

Sutradara Nyakman Lamjame, script writer Sirajul Munir (wartawan Antero juga pengurus AJI  Lhokseumawe). Kemudian, ada Lina (produser),  Ichsan Nanda ( Kasi Cagar Budaya dan Museum Lhokseumawe), dan Asisten Sutradara (Astrada) Hendry Nourman. Dalam crew, juga ada mantan juara 1 FLS2N 2018 dari SMK 2 Lhokseumawe, alumni Sendratasik Unsyiah yang kerap disapa Alan Kiteng, yang juga peneliti Rapa-i Pulot Geurimpheng.

Seterusnya ada Ma'e alias Ismail, karyawan apoteker yang sudah melanglang buana di Jakarta selama 10 tahun lebih, namun kini mencoba berkiprah dalam dunia film. “Tim kita semua masih muda-muda,” kata Nyakman mengabarkan tentang tim Teluk Samawi.

Nyakman sendiri merupakan seniman produktif di Aceh. Ia menggeluti film, sastra, dan teater.  Lahir di Paloh Raya, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, pada 19 Maret 1987, Nyakman pernah menempuh pendidikan di Madrasah Ulumul Qur'an (MUQ) Bustanul Ulum Langsa. Ia juga alumni sekolah menulis Dokarim. Salah seorang  penulis Hikayat Ologi Aceh yang disupport oleh Embassy of The Kingdom of Netherlands terbitan Aneuk Mulieng Publishing, Banda Aceh.

Nyakman banyak berkiprah sebagai pegiat masyarakat adat dan manajer sekaligus sutradara mop mop, teater rakyat Aceh Utara. Ia mendirikan  Meurak Jeumpa Institut yang kemudian  dipercayakan oleh Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB )Aceh dan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek untuk  menggarap film dokumenter ‘Laguna Teluk Samawi’ ini.

“Kami mendapat pendampingan dari tokoh-tokoh film seperti Garin Nugroho untuk bidang penyutradaraan, Rina Damayanti untuk produser, serta pendamping dari Kemendikbud Ristek, Rama Suprapto,” ujar Nyakman.

Sebagai kurator ditunjuk Putra Gara yang hadir secara virtual sejak pra-produksi hingga kini. Kemudian, di barisan pembina ada  Razuardi Essex, Sulaiman Juned, dan Rasyidin Wig Maroe, yang juga  dewan pembina/penasehat Meurak Jeumpa Institut . “Kami mendapat banyak masukan dan pengarahan dari para senior-senior hebat ini,” kata Nyakman.

Dua tokoh dalam film yaitu Dara dan Mutia diperankan oleh gadis Aceh setelah melalui proses casting. Dara diperankan oleh Dea Nadhila (finalis Puteri Muslimah Indonesia 2018), sedangkan Mutia diperankan oleh Mutia Sari (pegiat medsos).

“Film ini sudah selesai tahap produksi dan sekarang memasuki post produksi yang nantinya akan tayang di Indonesiana TV dan Kanal Budaya Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek pada Oktober mendatang,” jelas Nyakman.

Nyakman bukan sosok baru dalam dunia film. Sebelumnya  ia terlibat sebagai kameramen film ‘Hutanku Istanaku’  Produksi JKMA  Aceh yang disupport ICCO.  Nyakman juga menjadi tim riset untuk film dokumenter “Beradat Berdaulat” produksi Prodeelat yang disupport oleh UNDEP. Ia juga terlibat penuh dalam pembuatan film dokumenter Rapai untuk Festival Aceh International Rapai di Lhokseumawe tahun 2018 oleh Kemenpar.

Pada 2008, Nyakman juga terlibat untuk Film Biogas yang disupport oleh Hivos Netherlands,  selain tentu banyak  membantu  para sineas. Satu film tentang thalasemia  “I Have A Name" dikerjakan Nyakman bersama Nuu Husein dan Yeri Hermanto, tapi  masih tertunda. Selanjutnya, ia juga sedang melakukan persiapan untuk menggarap film Cut Meutia. “Doakan kami ya bang, mudah-mudahan  bisa tercapai,” katanya menutup pembicaraan. (fikar w eda)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved