Selasa, 28 April 2026

Berita Banda Aceh

USK Peringati Dies Natalis Ke-60 Tanggal 29 September, Puan Maharani sebagai Dies Reader

"Ya, peringatan dies kita undur 27 hari agar sesuai dengan kesempatan waktu Ibu Puan Maharani untuk datang ke USK sebagai dies reader,"

Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Nurul Hayati
FOTO HUMAS UNSYIAH
Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng. 

"Ya, peringatan dies kita undur 27 hari agar sesuai dengan kesempatan waktu Ibu Puan Maharani untuk datang ke USK sebagai dies reader," kata Rektor USK, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng yang ditanyai Serambinews.com, Sabtu (25/9/2021) pagi.

Laporan Yarmen Dinamika l Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Tanggal 2 September 2021, Universitas Syiah Kuala (USK) genap berusia 60 tahun.

Namun, puncak peringatan dies natalis atau hari jadinya diperingati tanggal 29 September mendatang.

Pengunduran jadwal peringatan milad tersebut, disesuaikan dengan jadwal  kedatangan Puan Maharani ke Aceh.

Soalnya, Senat USK telah sepakat mengundang Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) itu sebagai pembaca orasi ilmiah atau 'dies reader' pada saat dies tanggal 29 September  itu.

"Ya, peringatan dies kita undur 27 hari agar sesuai dengan kesempatan waktu Ibu Puan Maharani untuk datang ke USK sebagai dies reader," kata Rektor USK, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng yang ditanyai Serambinews.com, Sabtu (25/9/2021) pagi.

Menurut Prof Samsul, ada beberapa kali USK memperingati puncak diesnya tidak persis pada tanggal 2 September.

Baca juga: Tim Unsyiah Beri Pelatihan Pengemasan Produk untuk Warga di Aneuk Galong

Pergeseran waktu itu, antara lain, karena disesuaikan dengan kesempatan dies reader yang sudah ditunjuk untuk datang dari tempat domisilinya di luar Aceh ke USK Darussalam, Banda Aceh.

Alasan kedua pergeseran jadwal kali ini, kata Samsul, karena di awal September lalu
Kota Banda Aceh berada dalam status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4.

"Ya, saat itu Banda Aceh sedang level 4, tidak memungkinkan untuk melaksanakan dies secara hibrid karena tidak mungkin mengundang secara luring lebih dari 25 orang. Sekarang Banda Aceh sudah level 3 sehingga dies bisa dilaksanakan secara luring dan daring," kata Prof Samsul Rizal.

Pergeseran jadwal itu, kata Samsul, tidak masalah sepanjang puncak peringatan diesnya tetap bisa dilaksanakan pada bulan yang sama, yakni September.

Tidak bergeser terlalu jauh ke bulan lain.

Sementara itu, Wakil Rektor II USK, Dr Ir Agussabti MSc menyebutkan, saat dies nanti Puan Maharani akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pembangunan Sumber Daya Unggul untuk Indonesia Maju.

Karena masih dalam suasana pandemi Covid-19, sebagaimana tahun lalu, dies tahun ini pun dilaksanakan secara hibrid, gabungan antara tatap muka dan virtual atau secara luring dan daring.

"Upacara diesnya kita mulai pukul 11.00 WIB. Undangan yang hadir secara luring terbatas, sedangkan yang lainnya akan berpartisipasi secara daring," kata Agussabti.

Baca juga: VIDEO Peneliti dari Unsyiah Tengggelamkan Terumbu Buatan di Pulau Amad Rhang manyang Aceh Besar

Siapa Puan?

Puan Maharani yang akan menjadi 'dies reader' USK kali ini merupakan putri dari Taufik Kiemas dan Megawati Soekarnoputri.

Lahir 6 September 1973, Puan mempunyai nama lengkap Puan Maharani Nakshatra Kusyala Devi.

Ia merupakan politisi PDI-P, partai peraih suara terbanyak pada Pemilu 2017 sehingga terpilih sebagai Ketua DPR RI.

Dalam kapasitas Ketua DPR RI inilah USK mengundang Puan Maharani untuk menyampaikan orasi ilmiah saat USK berusia 60 tahun.

Antara USK dengan keluarga besar Puan Maharani punya kaitan historisitas yang kuat.

Pada 2 September 1959, kakek Puan, yakni Ir Soekarno, datang ke Banda Aceh untuk meresmikan Kopelma Darussalam sekaligus meresmikan Fakultas Ekonomi Kutaradja (cikal bakal Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala) yang saat itu masih dititip di USU Medan.

Kopelma Darussalam yang diresmikan Ir Soekarno itu kelak menjadi tempat berdirinya Universitas Syiah Kuala, IAIN (kini UIN) Ar-Raniry, dan STIK Tgk Chik Pante Kulu.

Saat berada di Darussalam Kutaradja (kini Banda Aceh), Presiden pertama Republik Indonesia itu juga menuliskan sarakata yang terkenal hingga kini: Tekad bulat melahirkan perbuatan yang njata. Darussalam menuju kepada pelaksanaan tjita-tjita.

Soekarno menuliskan sarakata tersebut pakai kapur di papan tulis, lalu dipindah dan dipahatkan di atas sepotong marmer (pualam).

Kini marmer yang berbentuk prasasti itu diletakkan di Tugu Darussalam.

Baik Universitas Syiah Kuala maupun UIN Ar-Raniry sama-sama menjadikan Tugu Darussalam tersebut sebagai unsur utama dalam lambang (logo) institusinya. (*) 

Baca juga: VIDEO - Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng Sebut Kualitas Pendidikan di Aceh Rendah

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved