Breaking News:

Internasional

Utusan Afghanistan Mundur dari Debat Majelis Umum PBB, Taliban Kirim Nama Baru

Duta Besar Afghanistan untuk PBB menarik diri dari pidato di Majelis Umum pada Senin (27/9/2021) malam.

Editor: M Nur Pakar
AFP/TIMOTHY A. CLARY
Wakil Tetap Afghanistan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ghulam M. Isaczai berbicara dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang Afghanistan pada 16 Agustus 2021 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Duta Besar Afghanistan untuk PBB menarik diri dari pidato di Majelis Umum pada Senin (27/9/2021) malam.

Ghulam Isaczai, yang mewakili rezim presiden Ashraf Ghani yang digulingkan bulan lalu, akan menentang Taliban berpidato.

Tetapi namanya, tiba-tiba dihapus dari daftar pembicara pada Senin (27/9/2021) pagi.

"Negara menarik partisipasinya dalam debat umum," kata Monica Grayley, juru bicara presiden majelis, mengkonfirmasi kepada AFP.

Dia menambahkan misi Afghanistan untuk PBB tidak menyebutkan alasan penarikan tersebut.

Baca juga: Taliban Hadapi Perjuangan Berat Untuk Berbicara di Majelis Umum PBB

Taliban menulis surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pekan lalu meminta agar menteri luar negeri barunya, Amir Khan Muttaqi diizinkan untuk berpartisipasi.

Surat itu menegaskan Isaczai tidak lagi mewakili Afghanistan di badan global itu.

Surat itu mengatakan Taliban telah mencalonkan juru bicara mereka yang berbasis di Doha, Suhail Shaheen sebagai perwakilan tetap Afghanistan untuk PBB.

Catatan itu muncul setelah Guterres menerima surat terpisah dari Isaczai, tertanggal 15 September, yang berisi daftar delegasi Afghanistan untuk sesi tersebut.

Baca juga: Menteri Luar Negeri Pakistan Bongkar Rencana Pemerintahan Taliban di Afghanistan

Surat itu mencantumkan Isaczai sebagai wakil tetap Afghanistan.

PBB masih menganggap Isaczai sebagai kepala misi Afghanistan.

"Hanya misi yang bisa mundur dari berpidato di majelis," kata seorang pejabat PBB.

Misi Afghanistan tidak segera tersedia untuk dimintai komentar.

Sebuah komite kredensial sembilan anggota yang mencakup Amerika Serikat, Rusia dan China, harus menyetujui permintaan Taliban tetapi belum bertemu.(*)

Baca juga: Pengusaha Herat Keluhkan Kutipan Pajak Taliban dan Barang Menumpuk di Bea Cukai

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved