Rabu, 29 April 2026

Sering Dianggap Sama, Sosok ini Bongkar Perbedaan Syariat Islam di Afghanistan dan di Arab Saudi

Pangeran Faisal juga mencatat bahwa kontras dengan pemikiran seluruh dunia, Taliban tidak mengadopsi tafsir Saudi atas Syariat Islam.

Tayang:
Editor: Amirullah
AFP/Aamir QURESHI
Pasukan Taliban memperhatikan reruntuhan pangkalan CIA yang dihancurkan pasukan AS di pinggiran Kabul, Afghanistan, Selasa (7/9/2021). 

SERAMBINEWS.COM  - Inilah perbedaan ajaran syariat Islam yang dipegang Taliban dan syariat Islam di Arab Saudi.

Mantan Kepala Badan Intelijen Arab Saudi, Pangeran Turki al-Faisal berjanji dengan perhitungan yang pas, ia akan memberi jarak bagi Intelijennya dan Arab Saudi terhadap peran apapun terkait bangkitnya pergerakan Taliban di Afghanistan.

Ia memaparkan, ia sudah mengundurkan diri 10 hari sebelum kejadian September 2001.

Pangeran Faisal juga mencatat bahwa kontras dengan pemikiran seluruh dunia, Taliban tidak mengadopsi tafsir Saudi atas Syariat Islam.

Mengutip The Arab Weekly, mereka menggunakan tafsir Sufi Deobandi seperti disampaikan oleh Pangeran Faisal.

Ia menekankan bahwa ini artinya Taliban adalah ideologi agama yang cukup religius yang berbeda dari yang tafsir Muhammad ibn Abd al-Wahhab.

Pangeran Faisal berbicara pada 22 September, selama rapat Royal Society of Asian Affairs di London.

Rapat tersebut dilakukan guna menandai rilisnya buku "The Afghanistan File" karangannya, diedit oleh Michael Field.

Pernyataannya datang setelah Biro Investigasi Federal (FBI) membeberkan dokumen terkait pada serangan 9/11.

Foto mantan Kepala Intelijen Arab Saudi, Turki al-Faisal
Foto mantan Kepala Intelijen Arab Saudi, Turki al-Faisal (via intisari)

Pernyataannya juga datang kebetulan dengan meningkatnya tekanan pada Arab Saudi bersamaan dengan hubungan yang terus berlanjut antara Washington dengan kerajaan.

Pangeran Faisal mencatat visi agama Islam di Arab Saudi sangat berbeda dari Taliban dan al-Qaeda, dalam upayanya meluruskan salah paham yang mengklaim dua kelompok radikal tersebut telah terinspirasi oleh Wahabi yang digerakkan oleh Muhammad ibn Abd al-Wahhab.

Pengamat mengatakan kepada Arab Weekly jika Pangeran Faisal mencari cara menjauhkan kerajaan dari al-Qaeda dan kelompok ekstrimis lain.

Pangeran, dikatakan oleh pengamat, menyangkal peran Arab Saudi dalam kejadian September 2001, entah langsung atau tidak langsung, bahkan jika sebagian besar yang menyerang adalah warga kebangsaan Arab Saudi.

Ketiadaan hubungan apapun sebelumnya dengan Taliban akan memperbolehkan Arab Saudi berurusan lebih bebas dengan situasi baru di Afghanistan.

Dalam pernyataan sebelumnya, Pangeran Faisal telah mengatakan bahwa "Al-Qaeda menarget kerajaan dahulu sebelum siapapun lainnya," ungkapnya merujuk pada Arab Saudi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved