Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Wirid ala Tarim di Dayah Madani

Sabtu, 6 Muharam 1444 Hijriah pukul 16.00 WIB. Untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki

Tayang:
Editor: hasyim
IST
RIZKY RAMADHANA AR, Santri Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga asal Langsa dan pengelola majalah Umdah, melaporkan dari Samalanga, Bireuen 

Oleh. RIZKY RAMADHANA AR, S.Sos.,

Santri Dayah MUDI Mesra Samalanga dan Guru Dayah Madani Al-Aziziyah, berasal dari Kota Langsa, melaporkan dari Darul Imarah, Aceh Besar

Sabtu, 6 Muharam 1444 Hijriah pukul 16.00 WIB. Untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di bumi Madani Al-Aziziyah setelah empat jam bertolak dari Dayah MUDI Mesra Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Salah satu program Dayah MUDI dalam menyukseskan ‘beut-seumeubeut’ (urusan pengajian) adalah mengirimkan santri kelas tautiah ke dayah-dayah cabang, baik di Sumatera Utara maupun Aceh. Nantinya, kami akan menyeruput suasana baru dan menyelami lingkungan dayah yang sudah pasti seru.

Tiba di Dayah Madani kami disambut dengan ramah oleh Teungku Ari dan beberapa guru lainnya di bawah balai berukuran 1,5x4 meter. Kami duduk beralaskan bambu dan beratapkan daun rumbia. Sederhana, karena nyaman tidak harus mewah. Sajian kopi dan gorengan menemani pertemuan sore itu.

Dayah Madani berdiri pada Maret 2011, berlokasi di Jalan Teuku Imuem Hamzah, Gampong Lampeuneurut Ujong Blang, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. Pesantren ini dipimpin oleh Abiya Dr H Muhammad Hatta Lc MEd yang masyhur dengan sebutan Abiya Madani.

Beliau adalah alumnus Dayah MUDI sekaligus doktor di Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.

Selain aktif  beut-seumebuet, beliau sosok yang gemar menulis. Kitab “Talkhisul Mantiq dan Masail Faraidh” yang hari ini dipakai untuk muthalaa’ah oleh santri dayah di Aceh adalah buah pena beliau.

Nama Madani sendiri adalah tafa’ul dari Madinahnya Rasulullah saw, sebagai tanah yang berkah dan mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar. Diharapkan, Dayah Madani bisa mempersatukan umat. Asrama, tempat santri istirahat, juga dinamai dengan nama nama sahabat utama Rasulullah saw. Misalnya, Asrama Abu Bakar adalah asrama pertama, hijau dan sederhana. Kemudian, Asrama Umar, Asrama Ali, dan Asrama Utsman.

Pagi hari adalah waktu favorit saya naik ke lantai tiga Asrama Utsman. Tujuannya, mengontrol santri untuk bergegas naik ke balai masing-masing. Di sini saya menyaksikan mentari perlahan naik. Warna-warni kubah masjid sekitar dayah, bila langit cerah akan tampak Gunung Seulawah dari kejauhan. Juga terlihat bukit-bukit kecil lainnya yang mengelilingi Madani, tak terkecuali tampak Tribun Stadion Harapan Bangsa.

                                                     Rattibul Haddad dan Attas

Saya sempat bertanya-tanya perihal buku kecil yang selalu dibawa oleh santri Madani. Buku apa itu, apa isinya, dan mengapa selalu adik-adik itu bawa?  Ternyata itu adalah Khulasah Al-Maddad. Kumpulan wirid Nabawi yang disusun oleh Al-Habib Umar bin Hafidh, ulama besar asal Tarim, Yaman.

Selain konsep dayah Aceh pada umumnya, tahun 2018 seusai berziarah ke Tarim, Abiya Hatta mulai mengadopsi manhaj ala Ba’lawi di Dayah Madani. Beliau dan santrinya mengamalkan ratib-ratib yang familier dari keturunan Rasulullah dan memperbanyak membaca zikir-zikir ma’tsur.

Dayah Madani juga dayah yang sering kali disinggahi habaib dari Yaman, sebelum mereka melakukan safari dakwah di Aceh.

Rattib adalah kumpulan zikir dan doa yang dikumpulkan untuk mengingat Allah, memohon kebaikan, dan meminta perlindungan. Ratib juga sebagai jembatan bagi seseorang untuk makrifat kepada Allah. Rattibul Haddad disusun oleh Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad, salah seorang ulama Tarim, Yaman. Ratibul Hadad disusun pada tahun 1071 Hijriah, bermula ketika para pemuka Hadramaut merasa khawatir akan masuknya kelompok Syiah Zaidiyah di wilayah Hadramaut.

Sedangkan Ratibul Attas ditulis oleh Al Habib ‘Umar bin Abdurrahman al-Attas, pribadi yang khumul (tidak ingin populer), lahir pada tahun 992 Hijriah, dan sosok guru yang telah banyak mencetak kader ulama.

Sore hari tiba, Dayah Madani disesaki oleh ratusan santri yang mengenakan jubah putih. Santri berselawat dengan hadrah, kemudian membaca Yasin. Seusai ngaji kitab kuning dan shalat Isya di musala yang berada tepat di tengah dayah para santri membaca Rattibul Haddad.

Dari jantung Dayah Madani energi tasbih, tahmid, tahlil, dan doa-doa yang terangkum dalam Rattib menyebar luas. Andai manusia bisa melihat apa yang para malaikat lakukan saat mereka bermunajat kepada Allah sungguh sedikit pembicaraannya.

Malam merupakan detik-detik yang sangat mengagumkan. Madani tidak pernah sanggup menyembunyikan pesonanya. Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Maliabar menyebutkan, orang yang rajin membaca Rattibul Haddad maka Allah Swt akan menjaga negaranya dari cobaan, bertambahnya kekayaan, dan kebaikan di dalam rumahnya.

Orang yang kontinyu membaca Ratibul Haddad setiap hari, maka ia akan terpelihara dari racun dan terlindung dari bintang buas. Faedah yang lain adalah dia akan meninggal dengan husnul khatimah dan Allah akan memberikan pertolongan baginya untuk mengucapkan kalimat syahadat.

Sementara, dari atas Balai Faqih Muqaddam dan Azizi sekelompok santri Madani membaca Selawat Narriyah sebanyak 4.444 kali. Dengan membaca selawat tersebut mereka berharap kebaikan daripadanya, pemeliharaan, dan kemudahan dari urusan dan meraih keberkan dari selawat.

Menjelang fajar, santri bangun dari rehat malamnya. Shalat sunah tahajud, kemudian shalat sunah fajar. Inilah momen untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada bumi dan isinya.  Rattibul Attas dibaca selesai shalat Subuh. Setelah membaca tasbih, tahmid, dan takbir 33 kali.

Rasa kantuk menjadi tantangan sendiri. Tanpa ampun mata terpejam, jaga, dan terpejam lagi. Guru dari bagian ibadah mengontrol, membangunkan santri yang telanjur menyerah pada kantuknya. Lucu sekali eskpersi kantuk adik-adik ini. Demikianlah bahwa tarbiyah tidak selalu mudah.

Rattibul Attas diakhiri dengan membaca Suratul Waqi’ah. Bukan hanya wirid ala Tarim, Abiya Hatta juga memberikan nama-nama untuk balai di Dayah Madani dengan nama ulama-ulama terkemuka dari Kota Tarim.

Misalnya, ada Balai Faqqih Muqqdam, Balai Imam Haddad, Balai Imam Al-Attas, dan Balai Sayyid. Ini semua sebagai ikhtiar supaya para santri Madani termotivasi untuk mengulang kaji sejarah salafus shalih dan mencintai Muhammad saw, nabi akhir zaman. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved