Opini
Haji: Momentum Saling Menghargai Perbedaan
IBADAH haji bukan sekadar perjalanan spiritual menuju Tanah Suci, tetapi juga perjumpaan agung umat manusia dalam keberagaman yang nyata.
Tgk H Akmal Abzal SHI MH, Jamaah Haji Kloter BTJ 06/ 2024 dan Pimpinan LPI Al Anshar
IBADAH haji bukan sekadar perjalanan spiritual menuju Tanah Suci, tetapi juga perjumpaan agung umat manusia dalam keberagaman yang nyata. Di kota suci Mekkah, jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia berkumpul dalam satu waktu, satu tempat, satu tujuan, dan satu panggilan Ilahi. Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda, mazhab yang beragam, suku yang berwarna, bahasa yang beraneka, hingga karakter yang tidak seragam.Namun di tengah perbedaan itu, satu suara menggema dengan penuh haru Labbaikallahumma labbaik… Sebuah seruan penghambaan yang menyatukan hati manusia sebagai tamu Allah. Di sinilah haji menjadi lebih dari sekadar ritual. Haji adalah laboratorium kehidupan yang mengajarkan bagaimana Islam memandang perbedaan sebagai sesuatu yang harus dihargai, bukan dipertentangkan.
Allah SWT berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman adalah sunnatullah, ketetapan Allah yang tidak bisa dihindari. Maka, perbedaan bukanlah masalah, melainkan bagian dari desain Ilahi yang harus diterima dengan lapang dada.
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit jamaah haji yang justru diuji oleh perbedaan itu sendiri. Perbedaan mazhab dalam tata cara ibadah seringkali menimbulkan gesekan kecil. Ada yang merasa caranya paling benar, paling sah, sementara cara orang lain dianggap keliru, bahkan salah. Padahal, dalam khazanah Islam, perbedaan dalam hal furu’ (cabang) adalah sesuatu yang telah lama ada dan diakui oleh para ulama.
Ketika seseorang mengangkat tangan saat takbir sementara yang lain tidak, ketika ada yang membaca doa dengan suara keras dan yang lain pelan, atau ketika tata cara pelaksanaan ibadah sedikit berbeda, semua itu memiliki dasar dalam ijtihad para ulama. Perbedaan tersebut bukanlah bentuk penyimpangan, melainkan kekayaan dalam memahami syariat. Masalahnya bukan pada perbedaan itu sendiri, tetapi pada cara kita menyikapinya.
Haji mengajarkan bahwa yang dinilai oleh Allah bukanlah keseragaman gerakan, tetapi keikhlasan dan ketakwaan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Dalam lautan manusia di Mekkah, kita melihat betapa beragamnya umat ini. Ada yang datang dari Afrika, Asia, Eropa, dan berbagai belahan dunia lainnya dengan ciri khas masing-masing. Semua mengenakan pakaian ihram yang sama, seolah menghapus perbedaan status, kedudukan, dan latar belakang duniawi.
Namun, dibalik kesamaan pakaian itu, tetap ada perbedaan cara berinteraksi. Ada yang sabar, ada yang mudah marah, ada yang lembut, dan ada yang tegas. Semua ini menjadi bagian dari ujian dalam berhaji. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa menghargai perbedaan adalah bagian dari kesempurnaan ibadah. Ibadah haji bukan hanya tentang thawaf, sa’i, dan wukuf, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga hati dari prasangka, menjaga lisan dari penilaian, dan menjaga sikap dari kesombongan. Ketika seseorang merasa dirinya paling benar, di situlah potensi kerusakan ibadah mulai muncul.
Belajar rendah hati
Rasulullah saw dan para sahabat telah memberikan teladan dalam menyikapi perbedaan. Mereka pernah berbeda pendapat, tetapi tidak saling menyalahkan. Mereka memahami bahwa perbedaan adalah rahmat, selama berada dalam koridor syariat. Dalam konteks haji, sikap saling menghargai menjadi sangat penting. Di tengah jutaan manusia, tidak mungkin semua orang dipaksa mengikuti satu cara yang sama. Yang dibutuhkan adalah toleransi, kesabaran, dan kerendahan hati. Bayangkan jika setiap jamaah merasa paling benar, maka Mekkah tidak akan menjadi tempat ibadah yang nyaman dan damai, tetapi justru menjadi ruang perdebatan tanpa akhir. Padahal tujuan haji adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan memenangkan perbedaan.
Lebih dari itu, mengklaim ibadah orang lain tidak sah adalah sikap yang sangat berbahaya, karena penilaian terhadap sah atau tidaknya ibadah seseorang bukanlah hak manusia, melainkan otoritas Allah swt semata. Tugas kita hanyalah berusaha beribadah sebaik mungkin sesuai ilmu yang kita miliki. Haji seharusnya menjadi momentum untuk belajar rendah hati. Ketika melihat orang lain berbeda, kita diajak untuk berpikir. Mungkin ia memiliki dalil yang tidak kita ketahui, mungkin ia mengikuti ulama yang terpercaya, dan mungkin pula ibadahnya lebih ikhlas daripada kita. Kesadaran inilah yang akan melahirkan sikap saling menghormati dan menghadirkan ketenangan selama berada di Tanah Suci negeri penuh berkah tersebut.
Pada akhirnya, haji mengajarkan bahwa persatuan umat tidak harus dibangun di atas keseragaman, tetapi di atas kesamaan tujuan dan sikap saling menghargai. Kita semua menuju Allah, meskipun dalam beberapa hal cara kita berbeda. Karena itu, pulang dari haji seharusnya tidak hanya membawa gelar “haji”, tetapi juga membawa perubahan sikap. Menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih dewasa, dan lebih bijak dalam menyikapi perbedaan. Salah satu tanda kedewasaan iman adalah kemampuan untuk berkata “Aku berusaha benar, tetapi tidak menutup kemungkinan orang lain juga benar”.
Agar ibadah haji benar-benar bermakna, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, meluruskan niat. Kita berangkat ke Tanah Suci untuk beribadah, bukan untuk berdebat. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Niat yang lurus akan membuat kita fokus memperbaiki diri, bukan mengoreksi orang lain.
Kedua, memahami bahwa perbedaan mazhab adalah hal yang sah. Para ulama besar sejak dahulu telah berbeda pendapat dalam hal-hal cabang. Apa yang terlihat asing bagi kita, bisa jadi memiliki dasar yang kuat dalam mazhab lain. Maka sikap terbaik adalah menghormati, bukan menghakimi.
Ketiga, mengedepankan adab daripada merasa paling benar. Dalam Islam, adab memiliki nilai yang sangat tinggi. Kebenaran tanpa adab bisa melahirkan kesombongan, sedangkan adab menjaga hati tetap rendah. Imam Syafi’i pernah berkata: “Pendapatku benar, tetapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin benar.”
Pada akhirnya, yang Allah nilai bukan hanya benar atau tidaknya amalan kita, tetapi juga bagaimana sikap hati kita dalam menjalaninya. Semoga Allah menerima ibadah haji kita, melapangkan hati kita dalam perbedaan, dan menjadikan kita hamba yang lebih bijak dalam melihat sesama. Semoga kita kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur, yang tidak hanya tampak pada gelar, tetapi tercermin dalam akhlak dan sikap hidup kita. Selamat bagi warga Aceh yang memenuhi panggilan Ilahi ke Tanah Suci semoga kembali ke negeri dengan titel haji yang mabrur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Akmal-Abzal-OKE.jpg)