Senin, 4 Mei 2026

Internasional

Pandemi Covid-19 Hancurkan Anak-anak, UNICEF Sebut Mereka Butuh Bantuan Kesehatan Mental

Pemerintah harus menggelontorkan lebih banyak uang dan sumber daya untuk menjaga kesejahteraan mental anak-anak dan remaja.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AP/Christophe Ena/File
Seorang gadis muda yang mengalami gangguan mental melihat ke luar jendela kamarnya di unit pediatrik rumah sakit Robert Debre, di Paris, Prancis pada 2 Maret 2021. 

SERAMBINEWS.COM, PARIS - Pemerintah harus menggelontorkan lebih banyak uang dan sumber daya untuk menjaga kesejahteraan mental anak-anak dan remaja.

Desakan itu muncul dari badan perlindungan anak PBB (UNICEF) dalam sebuah laporan pada Selasa (5/10/2021).

UNICEF membunyikan alarm tentang pukulan terhadap kesehatan mental akibat pandemi Covid-19 yang menyerang anak-anak miskin dan rentan.

UNICEF mengatakan studi "State of the World's Children" adalah pandangan paling komprehensif terhadap kesehatan mental anak-anak dan remaja secara global.

Dikatakan, krisis virus Corona memaksa penutupan sekolah yang menjungkirbalikkan kehidupan anak-anak dan remaja.

Dilansir AP, hal itu telah memicu munculnya masalah kesehatan mental mereka ke permukaan.

UNICEF mengatakan mungkin perlu waktu bertahun-tahun untuk sepenuhnya mengukur sejauh mana dampak pandemi pada kesehatan mental anak muda.

Baca juga: WHO-Unicef Minta Indonesia Segera Gelar Belajar Tatap Muka

Psikiater dengan cepat melihat tanda-tanda kesusahan.

Karena anak-anak dan remaja mencari bantuan untuk pikiran bunuh diri, kecemasan dan gangguan makan.

Kesulitan lainnya karena penguncian dan beralih ke pembelajaran jarak jauh memisahkan mereka dari teman dan rutinitas.

Selain itu, Covid-19 telah membunuh orang tua dan kakek-nenek.

“Dengan penguncian nasional, anak-anak jauh dari keluarga, teman, ruang kelas, bermain, elemen kunci dari masa kanak-kanak itu sendiri,” kata Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore.

“Dampaknya signifikan, dan itu hanya puncak gunung es,” kata Fore.

“Bahkan sebelum pandemi, terlalu banyak anak yang terbebani oleh masalah kesehatan mental yang belum terselesaikan," jelasnya.

"Terlalu sedikit investasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan kritis ini," tambahnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved