Kamis, 14 Mei 2026

Internasional

Program Senjata Drone Iran Dapat Mengancam Stabilitas Timur Tengah dan Barat

Program senjata drone atau pesawat tak berawak Iran yang agresif telah menjadi ancaman bagi negara-negara Timur Tengah.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
Screenshoot/NCRI
Alireza Jafarzadeh, Wakil Direktur Kantor NCRI di Washington, AS 

SERAMBINEWS.COM, CHICAGO - Program senjata drone atau pesawat tak berawak Iran yang agresif telah menjadi ancaman bagi negara-negara Timur Tengah.

Termasuk Arab Saudi dan juga Barat, kata pejabat dari Dewan Nasional Perlawanan Iran (NCRI).

Alireza Jafarzadeh, Wakil Direktur Kantor NCRI di Washington, mengatakan program tersebut mencakup delapan lokasi produksi dan perakitan di seluruh Iran.

Tetapi, katanya, suku cadang dan material drone berasal dari luar negeri.

Selama briefing pada Rabu (/6/10/2021) yang dihadiri Arab News, dia mengatakan UAV, atau drone, digunakan untuk menyerang Barat di zona konflik.

Baca juga: Taliban Minta Amerika Serikat, Hentikan Serangan Drone di Wilayah Udara Afghanistan

Seperti Suriah dan Irak, serta Lebanon, terutama Arab Saudi yang dilakukan milisi Houthi dukungan Iran.

Teheran memasok milisi Houthi di Yaman dengan drone untuk menyerang Arab Saudi, kata Jafarzadeh.

"Drone dirakit di Yaman, tetapi banyak komponen penting berasal dari luar Iran," tambahnya.

“Program UAV hanya memiliki satu tujuan, mengacaukan kawasan dan menciptakan kekacauan,” kata Jafarzadeh.

Dia menambahkan delapan industri di Iran terlibat dalam menyamarkan produksi drone yang dipersenjatai.

“Rezim Iran telah benar-benar meningkatkan upaya dan uang serta sumber dayanya untuk program UAV untuk mengacaukan kawasan itu," katanya.

Dia mengatakan miliaran dolar AS telah dihabiskan untuk UAV dan rudal.

Bahkan, di bawah Presiden Iran Ebrahim Raisi, program ini akan menjadi lebih menonjol.

Jafarzadeh mengatakan program UAV bernilai miliaran dolar sebagai senjata utama rezim untuk terorisme.

Drone diarahkan oleh Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam.

Dia melanjutkan Iran memperluas teror dan upaya destabilisasi di kawasan, dan penindasan orang-orang di Iran.

"Kita harus meminta pertanggungjawaban Iran dan membuat mereka membayar harganya," harapnya.

"Kita perlu melihat ketegasan, ketegasan, dan peningkatan tekanan terhadap rezim Iran,” tambahnya.

Program UAV Iran akibat langsung dari negosiasi kontraproduktif dengan negara-negara Barat tentang pencabutan sanksi, kata Jafarzadeh.

Di mana Teheran mendukung dan memperluas program drona dan rudal.

Baca juga: Milisi Houthi Ingin Ganggu Perayaan Hari Nasional Arab Saudi, Lima Drone Diluncurkan

“Jelas, sanksi saja tidak akan menyelesaikan semua masalah ini,” tambahnya.

“Tetapi sanksi adalah alat, akan membuat Iran membayar harganya," ungkapnya.

“Jika rezim diizinkan melakukan operasi ekstensif tanpa konsekuensi apa pun, maka iran akan berbuat lebih banyak," klaimnya.

"Anda harus meminta pertanggungjawaban rezim itu sendiri," jelasnya.

Untuk mendukung argumennya, Jafarzadeh mempresentasikan gambar satelit dan grafik terperinci.

Dia mengaku mengungkapkan kompleksitas dan detail baru yang mengkhawatirkan dari program teror UAV Iran.

Baca juga: Milisi Houthi Lepaskan Tiga Drone ke Arab Saudi, Serangan Berhasil Dihancurkan

Informasi dikumpulkan di dalam Iran untuk NCRI oleh kelompok oposisi Mujahedin-e Khalq.

Selama dua dekade terakhir, NCRI telah mengungkap lusinan dari apa yang dikatakannya sebagai situs utama.

Bagian dari program senjata nuklir Teheran, rudal, dan jaringan terorisme yang berkembang di wilayah tersebut.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved