Breaking News:

Petani Gunakan Mikro Bakteri untuk Tingkatkan Hasil Panen

Mikro bakteri yang dipergunakan tersebut merupakan mikro bakteri Alfaafa (M-11) produksi SMK Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Saree, Aceh Besar

Editor: bakri
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Empat orang petugas Lab SMK PP Saree, Aceh Besar, memperlihat kan produk Mikro Bakteri Alfaafa M-11 nya, yang kini mulai diminati petani padi untuk penyubur lahan sawah, Kamis (7/10). 

BANDA ACEH - Sejumlah petani di Aceh mulai menggunakan mikro bakteri untuk meningkatkan hasil panen. Terakhir, penggunaan mikro bakteri itu dilakukan oleh Bank Indonesia melalui demplot padi di Gampong Ie Alang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, pada lahan tanam seluas 1 hektare. Hasilnya, lahan seluas itu mampu menghasilkan padi sebanyak 10.6 ton.

Mikro bakteri yang dipergunakan tersebut merupakan mikro bakteri Alfaafa  (M-11) produksi SMK Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Saree, Aceh Besar. Mikro bakteri itu digunakan sebagai decomposer atau bahan pengurai bakteri dalam tanah dan salah satu bahan campuran untuk pembuatan pupuk organik.

Kepala SMK-PP Saree, Muhammad Amri SP MP melalui Koordinator Labarotorium, Ria Jayanti ST menjelaskan, setelah launching pengggunaan produk M-11 Juni lalu, sudah ratusan anggota kelompok tani memanfaat mikro bakteri itu untuk menyuburkan lahan tanaman.

Hal itu disampaikannya saat tim monitoring Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh mengunjungi lab sekolah tersebut, Kamis (7/10/2021). “Produksi M-11 ini, diawali dari pelatihan pembuatan pupuk organik yang dilakukan Kantor BI Perwakilan Aceh, Maret 2021 lalu, dengan mendatangkan ahli pembutan pupuk organik Universitas Gajah Mada, Prof Dr Nugraha,” tuturnya.

Pada produksi pertama pada Juni lalu, jumlahnya mencapai 970 liter. Produksi mikro bakteri dalam bentuk cair. Untuk menarik penggunanya dikemas dalam botol ukuran 1 liter yang sudah diberikan lebel M-11. “Mikro bakteri yang sudah dikemas berukuran 1 liter,” ujar Ria Jayanti.

Cairan mikro bakteri yang diproduksi Lab SMK-PP Saree ini, katanya, belum diperjualbelikan, Produk itu hanya ada di Lab SMK-PP. Tapi bagi anggota kelompok tani di Aceh yang membutuh cairan decomposer tersebut, dengan cara membayar biaya produksi Rp 50.000/botol.

Sementara itu Kepala BI Perwakilan Aceh, Achris Sarwani menggatakan, cairan mikro bakteri yang diproduksi Lab SMK-PP Saree tidak hanya dibutuhkan untuk penggemburan dan penyuburan tanah secara alami, tapi juga bisa digunakan untuk pembuatan pupuk organik dan pakan organik bagi peternakan.

Dikatakan, BI melakukan pelatihan pemanfaat pupuk organik bagi peningkatan produksi pertanian, untuk mngembalikan pola pikir petani padi, kembali bercocok tanam menggunakan pupuk organik. “Untuk membuat cairan M-11, BI membantu peralatan laboratorium yang diletakkan di SMK-PP Saree. “Tujuannya agar lab itu terus digunakan dan bila ada petani ingin belajar membuat cairan mikro bakteri,” tandasnya.(her) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved