Breaking News:

RSIA Terapkan Operasi Metode ERACS

Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aceh, kurang lebih sudah sebulan menerapkan metode Enhanced Recovery After Cesarean Surgery

Editor: bakri
SERAMBI FM/ILHAM
Kepala Instalasi Anastesiologi dan Perawatan Intensif RSIA, dr Alfian SpAn dan Ketua Kelompok Staf Medik Obstetri dan Ginekologi RSIA, dr T Kharrif Indra Utama SpOG menjadi narasumber Talkshow bersama Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), dengan tema "Operasi Persalinan Minimal Nyeri, Mungkinkah?", di Radio Serambi FM 90.2, Jumat (8/10/2021). Talkshow dipandu host Tieya Andalusia. 

BANDA ACEH - Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aceh, kurang lebih sudah sebulan menerapkan metode Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) untuk proses operasi persalinan. ERACS merupakan metode baru yang diterapkan dalam tindakan operasi caesar pada ibu melahirkan dan metode itu dikembangkan lantaran dunia kesehatan berupaya memperpendek masa perawatan pasien di rumah sakit, terutama pascaoperasi.

Sehingga harapannya, para ibu tidak perlu menjalani perawatan di rumah sakit lebih dari 24 jam dan percepatan pemulihan ini juga harus dibarengi dengan protokol khusus dalam memastikan kondisi kesehatan ibu melahirkan tidak terancam.

Karena itu, dibutuhkan kerja sama berbagai pakar kesehatan termasuk dokter kandungan, anak hingga anestesi. Hal tersebut disampaikan dua dokter RSIA yang hadir sebagai narasumber di Program Talkshow Interaktif Bersama RSIA yang dipandu oleh host Tieya Andalusia di Radio Serambi FM, Jumat (8/10/2021) sore.

Kedua dokter itu, yakni  Kepala Instalasi Anestesiologi dan Perawatan Intensif RSIA, dr Alfian, SpAn dan Ketua Kelompok Staf Medik Obstetri dan Ginekologi RSIA, dr T Kharrif Indra Utama SpOG.

Selain disiarkan di Serambi FM, program talkshow interaktif yang mengangkat judul 'Operasi Persalinan Minimal Nyeri, Mungkinkan?' itu juga ditayangkan di website live.serambifm.com dan facebook.com/serambifm.

Kepala Instalasi Anestesiologi dan Perawatan Intensif RSIA, dr Alfian SpAn menyebutkan hilang dan terbebasnya rasa nyeri pada saat operasi itu tidak dapat dipastikan sepenuhnya. Tapi, menurutnya, membayangkan rasa nyeri atau sesuatu hal tersebut lebih kepada sebuah persepsi. Artinya, kata dr Alfian bagaimana pasien itu mempersepsikan rasa nyeri, maka rasa itu biasanya akan muncul. "Tergantung bagaimana pasien tersebut mempersepsikan. Misalnya, pasien itu mempersepsikan rasa sakit, maka akan terasa sakit. Jadi, mengungkapkan apa yang akan dirasakan saat operasi itu lebih kepada persepsi atau bisa disebut sugesti atau sudah terdoktrin dalam pikiran, sehingga terpola di dalam kepalanya," sebutnya.

Karena itu tambah dr T Kharrif Indra Utama, dengan untuk pasien yang akan menjalani operasi metode ERACS, maka tim dokter akan lebih mempersiapkan dengan terencana, perlu diedukasi  baik sebelum operasi, di saat operasi dan setelah operasi, sehingga diharapkan akan diperoleh hasil yang optimal. "Di RSIA kurang lebih sudah sebulan menerapkan operasi Metode ERACS dan sudah melakukan observasi terhadap 20 pasien dan hasilnya optimal," terang dr T Kharrir.

Ia menerangkan pasien-pasien yang masuk metode ERACS, misalnya kehamilan anak pertama yang absolut. Lalu pasien yang pinggulnya sempit, pasien yang berumur lanjut, minus mata tinggi.  Lalu pasien dengan bekas operasi, pungkas dr T Kharrir.(mir)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved