Rabu, 3 Juni 2026

Meriahnya Festival Likok Pulo 2021

Festival Likok Pulo 2021 yang dihelat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar Aceh), berakhir pada Minggu (10 Oktober 2021)

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Kabid Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah foto bersama dengan para juara Festival Likok Pulo 2021 di Ballroom Hotel Amel & Convention Banda Aceh 

BANDA ACEH - Festival Likok Pulo 2021 yang dihelat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar Aceh), berakhir pada Minggu (10 Oktober 2021) dini hari WIB.

Para pemenangnya pun diumumkan. Atraksi seni budaya Aceh ini berhasil menyapa masyarakat internasional melalui kanal Youtube Disbudpar Aceh dan beberapa platform media sosial lainnya. Kegiatan ini sebagai upaya merawat tradisi Indatu.

Selain itu, juga sebagai ajang memperkenalkan Tari Likok Pulo ke seluruh Aceh, nusantara dan dunia internasional. “Alhamdulillah, Festival Likok Pulo 2021 yang megangkat tema ‘Tajaga Peunulang Indatu’ berlangsung suskes. Kegiatan ini digelar secara virtual,” kata Kabid Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah saat menutup Festival Likok Pulo 2021 di Ballroom Hotel Amel & Convention Banda Aceh.

Nurlaila memaparkan, sebagai daerah yang kaya akan khazanah budaya dan seni, Aceh memang memiliki berbagai kesenian tradisional warisan indatu. Salah satu kesenian di Aceh yang hampir hilang keasliannya adalah Tari Likok Pulo dari Pulo Aceh, Aceh Besar.

“Pada festival tahun ini, ada 6 group Tari Likok Pulo yang berhasil masuk ke babak grand fi nal dan setiap group mampu menampilkan yang ter - baik. Kami mengucapakan selamat kepada para pemenang, dengan harapan Tari Likok Pulo bisa booming dan dikenal oleh khalayak ramai,” kata Nulaila.

Dalam perkembangannya, jelas Nurlaila, kesenian tersebut saat ini masih kurang dikenal dibandingkan dengan tari tradisi Aceh lainnya. “Jadi, dengan kondisi pandemi saat ini, ketika masyarakat banyak mengisi waktu luangnya menggunakan sosial media di rumah, menjadi momentum yang tepat untuk memperkenalkan kembali Tari Likok Pulo,” sebutnya.

Perlu diketahui juga, kata Nurlaila, Tari Likok Pulo sudah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai Warisan Budaya TakBenda Indonesia pada tahun 2016. “Oleh karenanya, tari ini perlu terus dipopulerkan ditengah- tengah masyarakat agar atribut tersebut dapat terus melekat dan dimiliki selamanya,” tegasnya.

Festival Tari Likok Pulo merupakan sebuah ajang perlombaan antar sanggar se-Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya. Melalui kegiatan ini juga diharapkan dapat mempererat dan meningkatkan tali silaturrahim antar seniman dan pelaku seni tradisi dalam kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.

Sebagai dewan juri, panitia menghadirkan Tokoh Seni Tari Likok Pulo, Pelaku Seni Tari Likok Pulo, Akademisi, dan Praktisi Seni. Mereka adalah Nurmairi (Syech Bit), Dani Orista Agud, M Fauzan, S.Sn, Salehuddin, dan Jamal Abdullah.

PARA PEMENANG

Salah sutu juri festival ini, Jamal Abdullah menjelaskan, ada beberapa kategori yang dinilai pihaknya yang disebut Rukun Lomba.

Adapun Rukunrukun yang harus ada dalam karya perlombaan, yaitu Salam Pembuka (I Hum Allah), Lagu (Si Nyak Tob Gapu), Lagu (Di Pulo Aceh KM 0), Lhok 1 (Ta Peugoet Lampoh) dan (Di Lingkang Talo). Kemudian Lagu Ekstra (Jak Lon Timang), Dayong- Dayong), (Meusilik), Lhok 2 (Kosong), Penutup (Syech Ahmad Baidehoen), dan Penilaian. “Katagori yang dinilai yakni Wiraga, Wirama, Wirasa, serta kreativitas dan penampilan secara keseluruhan, yang meliputi gerak, musik, lagu dan syair,” jelas Jamal.

Dewan juri kemudian menetapkan enam group sebagai juara. Juara pertama diraih Sanggar Tajul Alam, Juara 2: Sanggar Seni Lakuni, dan Juara 3 Sanggar Cit Ka Geunta. Kemudian Juara Harapan 1 diperoleh Sanggar Jeumpa Kuneng, Juara Harapan 2 Sanggar Seni Seulaweut, dan Juara Harapan 3 Sanggar Cahaya Fajar. Kegiatan Festival Tari Likok Pulo 2021 turut dimeriahkan oleh sejumlah talenta Aceh diantaranya. Special Performance, The Budhi Project, Isaka & Jamal Syarief, Fadlan Dance- Co, KamoNyo Project dan Kolaborasi Sanggar Baideihoen, NBC & Mozaik.

KILAS SEJARAH

Tari Liko Pulo diciptakan oleh Syech Ahmad Badrun pada tahun 1845 di Gampong Ulee Paya, Pulo Aceh. Ia seorang ulama Arab yang berdagang ke Aceh. Selama menempuh perjalanan menggunakan kapal layar dari Arab menuju pesisir Aceh yang memakan waktu berbulan- bulan, awak kapal merasa bosan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved