Breaking News:

Video

VIDEO Kejari Aceh Besar Tetapkan 3 Tersangka Pembangunan Jetty Kuala Krueng Lhoong

Tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Besar telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dugaan korupsi pembangunan jetty Kuala Krueng Lhoong.

Editor: Habibi

SERAMBINEWS.COM, KOTA JANTHO - Tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Besar telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dugaan korupsi pembangunan jetty Kuala Krueng Lhoong, Aceh Besar tahun 2019.

Adapun ketiga tersangka yakni inisial MZ (55) sebagai KPA merangkap PPK, TH (39) sebagai PPTK dan YR (41) sebagai Kontraktor Pelaksana (Direktur PT Bina Yusta Alzuhri).

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Aceh Besar, Rajendra D Wiratanaya SH didampingi Kepala Seksi (Kasi) Intelijen, Deddi Maryadi SH, kepada Serambinews.com, Jumat (8/10/2021) menjelaskan soal penanganan kasus ini.

Penyidik menyimpulkan dan menetapkan tiga orang sebagai tersangka atas dugaan penyalahgunaan keuangan negara dalam pekerjaan pembangunan Jetty Kuala Krueng Pudeng, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar tahun anggaran 2019 pada Dinas Pengairan Provinsi Aceh.

Pekerjaan proyek itu dengan nilai kontrak Pembangunan Jetty Kuala Krueng Pudeng, Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh Besar sampai selesai pelaksanaan sejumlah Rp 13.353.329.000.

Menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2.317.222.789,40 sebagaimana Laporan Hasil Audit perhitungan Kerugian Keuangan Negara (PKKN) yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh.

Tim Penyidik dapat menguraikan terkait modus operandi, para tersangka telah melakukan kecurangan (frund) yang dimulai dalam proses perencanaan pengadaan.

Dimana tersangka MZ dan tersangka TH melakukan manipulasi terhadap data-data yang dibuat seolah-olah
dan seakan-akan bahwa data-data tersebut ada dan telah dilakukan sesuai dengan ketentuan.

Namun berdasarkan fakta yang ada tidak dilakukan sesuai dengan ketentuan.

Sehingga dokumen yang dipakai untuk perencanaan kegiatan adalah dokumen yang dibuat tidak sebenarnya.

Selanjutnya ketika dalam proses pelaksanaan kegiatan dengan dokumen dan data yang dibuat tidak benar.

Tersangka YS dan TH telah membuat kekurangan volume pekerjaan batu lebih 1000 kg/unit, terjadi kekurangan sebesar 3.518,55 m3.

Untuk batu 250kg/unit, terjadi kekurangan sebesar 2.916,44 m3, sehingga terdapat selisih kelebihan
pembayaran, yaitu sebesar Rp. 2.317.222.789,40.

Karena selisih nilai kontrak dengan nilai riil tersebut didapat oleh para tersangka dengan perbuatan-perbuatan secara melawan hukum.

Maka selisih tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai keuntungan bagi pihak penyedia jasa melainkan adalah suatu kerugian keuangan negara.

Baca juga: Hasil Kualifikasi Piala Dunia Tadi Malam: Inggris, Polandia dan Denmark Pesta Gol

Baca juga: Hampir Setahun Tertahan di Timor Leste, Raul Lemos Tiba di Indonesia saat Hari Ulang Tahun Mertua

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved