Breaking News:

Ekspor CPO Hasilkan Dana Replanting Rp 103 M

Ekspor crude palm oil (CPO) sebanyak 32.000 metrik ton yang dilakukan PT Karya Tanah Subur (KTS) melalui Pelabuhan Krueng Geukuh

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Kapal pengangkut CPO di Pelabuhan Krueng Geukuh, sedang merapat di dermaga dan diawasi petugas Kantor Bea Cukai setempat. Foto direkam baru-baru ini. 

BANDA ACEH - Ekspor crude palm oil (CPO) sebanyak 32.000 metrik ton yang dilakukan PT Karya Tanah Subur (KTS) melalui Pelabuhan Krueng Geukuh, Lhokseumawe, menghasilan tiga pendapatan, yaitu bea cukai ekspor Rp 46,4 miliar, dana sawit Rp 103 miliar dan nilai ekspor untuk eksportir Rp 484,075 miliar.

Hal itu diungkapkan Kakanwil Bea Cukai Aceh, Dr Safuadi, Jumat (15/10/2021). “Itu baru satu perusahaan, yang kita data volume dan nilai ekspor CPO ke India dan Singapura yang dilakukan melalui pelabuhan lokal di Aceh. Sedangkan jumlah PKS di Aceh ada sekitar 35 unit,” ungkapnya.

Dijelaskan, dana sawit yang diambil dari kegiatan eskpor, akan dikembalikan ke Aceh dalam bentuk program replanting (peremajaan tanaman kelapa sawit). Dari satu perusahaan PKS yang melakukan ekspor CPO ke India dan Singapura, Aceh bisa mendapat dana pembinaan tanaman kelapa sawit senilai Rp 103 miliar. Kalau ada beberapa perusahaan lagi yang melakukan ekspor CPO nya melalui Pelabuhan di Aceh, maka nilai pengembalian dana pembinaan tanaman kelapa sawitnya menjadi lebih besar.

Dikatakan, permintaan CPO saat ini sangat tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri dijadikan campuran solar atau diberi nama biosolar, dijual di SPBU dengan harga Rp 5.150/liter. Di luar negeri, juga digunakan untuk hal yang sama, seperti minyak goreng curah serta berbagai produk industri lainnya.

Safuadi mengatakan, belum semua PKS di Aceh mengekspor CPO karena banyak juga yang mereka menjual ke pertamina untuk bahan camburan biosolar dan pabrik produksi minyak goreng curah di Sumut. Apalagi saat ini harga bahan baku minyak mentah mahal, maka salah satu alternatif untuk mengurangi impor bahan baku solar.

Tahun depan, kata Safuadi, Kantor Bea Cukai berharap PKS yang selama ini mengekspor CPO lewat Pelabuhan luar Aceh, bisa membangun tangki penimbunan di Pelabuhan Krueng Geukuh, Lhokseumawe seperti PT KTS. Karena, Pelabuhan Krueng Geukuh, sudah kondusif untuk pelaksanaan kegiatan ekspor CPO.

Kepala Perwakilan BI Aceh, Achris Sarwani mengatakan, selain PT KTS yang sudah melakukan ekspor CPO dari Pelabuhan lokal, masih ada satu perusahaan lagi yang mengekspor CPO dari pelabuhan Calang, Aceh Jaya, yaitu Sari Dumai Sejati ke India. Nilai ekspornya tahun ini menurun, hanya berkisar 176.693,53 dolar Amerika atau senilai Rp 2,5 miliar. Sementara pada tahun lalu mencapai 5.021261,17 dolar AX atau Rp 72,808 miliar.

Dia menyarankan  PKS yang memiliki kebun kelapa sawit di wilayah Aceh, hendaknya dalam melaksanakan kegiatan ekspor melalui pelabuhan lokal. Langkah itu agar dana pembinaan sawit dari kegiatan ekspor CPO dikembalikan ke Aceh.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Cut Huzaimah mengatakan, saat ini ada 35 unit pabrik kelapa sawit yang masih produktif dan beroperasi, tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Di Aceh Tamiang, ada tujuh PKS, Bireuen 2 PKS, Aceh Utara 2 PKS, Aceh Timur 3 PKS. Aceh Barat 2, Aceh Jaya 2, Nagan Raya 6 PKS, Abdya 2, Aceh Selatan 1 PKS, Aceh Singkil 6 PKS, dan Kota Subulussalam 1 PKS. “Dari 35 PKS yang beroperasi di Aceh, baru dua PKS yang melakukan ekspor CPO dari pelabuhan lokal,” tandasnya.(her)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved