Jumat, 1 Mei 2026

Berita Pidie

Tradisi Teut Leumang di Tangse Sambut Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Tradisi Teut Leumang bagi warga pedalaman Kabupaten Pidie, yaitu Kecamatan Tangse menjadi rutinitas saban tahun

Tayang:
Penulis: Idris Ismail | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL
Kepala Bidang (Kabid) Budaya Dinas Pendidikan dan Budaya (Disdikbud) Pidie, Jamaluddin SPd MM (jongkok) bersama warga Gampong Blang Dhot, Kecamatan Tangse, Pidie membakar ( teut) leumang guna di bagikan kepada tamu undangan kenduri maulid, Selasa (19/10/2021). 

Laporan Idris Ismail I Pidie

SERAMBINEWS.COM,  SIGLI - Tradisi Teut Leumang bagi warga pedalaman Kabupaten Pidie, yaitu Kecamatan Tangse menjadi rutinitas saban tahun.

Terutama saat dimulainya peringatan awal kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Sejarah Teut Leumang pada hakikatnya telah berjalan ratusan tahun dan hingga masih terus berlangsung menjadi yang terus dipertahankan meski digerus zaman.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pidie, Drs Ridwandi Abbas melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan,  Jamaluddin SPd Kepada Serambinews.com,  Selasa (19/10/2021) sebagai langkah awal tradisi teut leumang ini pada awal disebut berasal dari Provinsi Pattani, Thailand.

Namun, belum dapat di pastikan tradisi ini yang ada di Aceh lebih kental.

Baca juga: Kumpulan Ucapan Selamat Maulid Nabi 19 Oktober 2021, Ini Hikmah Merayakan Maulid

Apalagi budaya yang telah berjalan ratusan tahun ini masih di lakukan oleh warga Kecamatan Tangse, Pidie.

Maka pihak Dinas yang membawahi budaya ini dapat terus nempertahankan sampai akhir zaman nantinya.

"Maka tradisi sejarah ini patut dilestarikan sehingga dapat diketahui oleh lintas generasi sehingga generasi kedepan tidak menjadi tabu atau aneh jika dilakukan," sebut Jamaluddin SPd MM. 

Maka upaya-upaya Teut Leumang ini merupakan salah satu dari sejumlah tradisi yang patut di lindungi sehingga memberikan nuansa besar dalam melindungi khazanah budaya Aceh.

Karena sangat kental dengan nilai religi  terutama dalam mengenang sejarah lahirnya Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. 

"Maka peran besar tokoh agama dan adat sangatlah besar dalam melindungi budaya positif dengan nuansa regelius ini," jelasnya.

Baca juga: Kemenag Tegaskan Maulid Nabi Tetap 19 Oktober, Iqbal: Hanya Hari Libur Digeser ke 20 Oktober 2021

Tokoh adat Gampong Blang Dhot, Kecamatan Tangse, Pidie, Tgk Idris Bin Tgk Gadeng (80) kepada Serambinews.com,  Selasa (19/10/2021) mengatakan, tradisi Teut Leumang jauh sebelumnya atau ratusan tahun yaitu sejak masa kecil warga di Tangse telah menjadi tradisi adat pada setiap bulan Maulod (Maulid) dilakukan secara massal oleh masyarakat. 

"Beda dengan kecanatan-kecamatan lainnya di Pidie sepertihalnya kecamatan Mutiara atau kecamatan lainnya Teut Leumang dilakukan pada hari meugang dan pada puasa," ujarnya.

Namun, di Kecamatan Tangse, khususnya masyarakat melakukan teut leumang selama tiga bulan secara kontinyu dilakukan untuk merayakan maulid Nabi Besar Muhammad SAW. 

Memang jumlah lemang bagi mereka yang mampu 100 batang leumang dengan menghabiskan beras ketan hingga 30 aree atau bambu.

Ini dilakukan dengan patungan bagi keluarga drngan tiga kepala Keluarga (KK). 

Baca juga: Adakah Anjuran Khusus untuk Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW? Simak Penjelasan Buya Yahya

Menurut kakek tujuh cucu ini setiap tamu yang diundang untuk menghadiri kenduri maulid diberikan 'Buah tangan' atau oleh-oleh berupa satu batang leumang.

Sehingga setiap tamu yang menghadiri kenduri menjadi satu kebahagian dan bangga ketika mendapat leumang. 

"Inilah kepuasan jiwa yang tiada tara bagi warga luar Kecamatan Tangse yang menghadiri kenduri maulid sehingga Tradisi Teut Leumang ini terus dipertahankan sebagai amalan dalam meraih keberkahan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT khususnya dalam kenduri bagi Pang Ulee,  Nabi Muhammad SAW, " jelasnya.

Baca juga: Warga Aceh di Malaysia Gelar Maulid Akbar, Dipusatkan di Yan Kedah, Butuh Dana Rp 160 Juta

Ditambahkan Tgk Idris bin Tgk Gadeng, tradisi Teut Leumang  ini telah berdarah daging menjadi adat istiadat secara turun temurun dilakukan oleh para lintas generasi. 

Adapun bahan leumang santan, garam, batang bambu buluh dengan ukuran satu ruas 50 sampai 60 Cm.

"Kami selelalu mewarisi budaya Teut Leumang ini yang tak lekang digerus zaman," ungkapnya.(*)

Baca juga: DKPP Proses Komisioner KIP Aceh Soal Penundaan Pilkada 2022, Sidang 25 Oktober 2021

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved