Minggu, 3 Mei 2026

Jadi Negara Maju di ASEAN, Singapura Kini Terancam Krisis Energi

Dunia internasional kini tengah kelabakan dengan krisis energi yang melanda berbagai negara maju yang berimbas pada suplai listrik negara tersebut.

Tayang:
Editor: Amirullah
KOMPAS.com/ERICSSEN
Kelompok pesepeda berfoto ria bersama di depan ikon Singapura, Air Mancur Patung Merlion, di Marina Bay, Jumat pagi (19/06/2020). Hari Jumat ini adalah hari pertama Fase 2 Singapura menuju new normal hidup bersama dengan virus Covid-19. Pada Fase 2 roda perekonomian dan aktivitas kehidupan sehari-hari Singapura kembali pulih seperti sedia kala. (KOMPAS.com/ERICSSEN ) 

Tetapi, permintaan tersebut tidak didukung oleh pasokan energi untuk pembangkit listrik yang memadai sehingga harga listrik menjadi mahal.

Otoritas pasar energi di Singapura sendiri telah angkat bicara tentang sejumlah faktor yang menyebabkan harga listrik spot Singapura melonjak.

Mengutip kontan.co.id, salah satunya adalah karena pasokan gas dari Sumatra Selatan, Indonesia yang berkurang.

Rupanya, pasokan gas alam ke Singapura dari Indonesia belum sepenuhnya pulih dari gangguan pada Juli, kata seorang pejabat di regulator minyak dan gas Singapura SKK Migas kepada Reuters.

“Distribusi gas pada September sudah mulai membaik, dibandingkan Juli yang mengalami gangguan produksi, namun belum kembali normal seperti awal tahun ini,” kata Julius Wiratno, Deputi Operasi SKK Migas.

"Hal ini disebabkan penurunan laju produksi gas di salah satu lapangan," katanya.

"Kami sedang bekerja untuk mengembalikan kinerja sumur dan mudah-mudahan pada November nanti, produsen West Natuna Transportation System sudah bisa memasok gas sesuai dengan permintaan Singapura," jelasnya.

Wiratno mengatakan saat ini distribusi gas rata-rata mencapai 305 miliar British thermal unit per hari.

Gangguan pada bulan Juli terutama disebabkan oleh penghentian yang tidak direncanakan di lapangan Anoa dan pemeliharaan terencana di lapangan Gajah Baru, keduanya terletak di Natuna.

Produksi di Natuna turun 27,5% dari puncak sebelumnya menjadi 370 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), kata juru bicara SKK Migas Rinto Pudyantoro.

Output dari Sumatera sekitar 360 MMSCFD versus dataran tinggi pada 2018 sebesar 420 MMSCFD, kata Pudyantoro.

Sementara itu, dikutip Kompas.com (20/10/2021), langkah antisipasi untuk menjaga pasokan energi di Negeri Singa diambil Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA), termasuk menyiapkan fasilitas bahan bakar siaga untuk digunakan oleh perusahaan pembangkit guna menghasilkan listrik jika diperlukan.

Disebut, langkah-langkah itu “luar biasa tetapi perlu”. EMA juga menyatakan, akan terus memantau perkembangan dan melakukan langkah-langkah lebih lanjut jika diperlukan.

(*)

Artikel ini telah tayang di Sosok.id dengan judul Sesumbar Lebih Modern Ketimbang Indonesia, Negara Tetangga RI Ini Kini Kelabakan Gegara Kehabisan Energi, Tiap Malam Gelap Gulita?

Baca juga: Cinta Terlarang Paman dan Keponakan Berujung Maut, AK Tewas di Bawah Pohon Jati

Baca juga: Cerita Pilu Dimas Jalan Kaki dari Aceh ke Semarang, di Tengah Perjalanan Hampir Diterkam Harimau

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved