WALHI Tolak Rencana Ekspor Batubara, Melalui Pelabuhan di Calang

Ekspor tersebut akan dilaksanakan pada akhir Oktober 2021 dengan jumlah material yang diekspor mencapai 50.000 ton

Editor: bakri
hand over dokumen pribadi
Direktur Eksekutif WALHI Aceh, Muhammad Nur 

CALANG - Pelabuhan kelas III Kabupaten Aceh Jaya disebut-sebut akan melakukan ekspor batubara ke India. Ekspor tersebut akan dilaksanakan pada akhir Oktober 2021 dengan jumlah material yang diekspor mencapai 50.000 ton. Namun, WALHI Aceh menolak rencana ekspor tersebut, karena akan merusak lingkungan sekitar. 

Di sisi lain, sejumlah elemen masyarakat di kabupaten tersebut menyambut baik wacana menjadikan Pelabuhan Aceh Jaya sebagai jalur ekspor batubara.

Direktur Eksekutif WALHI Aceh M Nur yang ditanyai Serambi, Senin /10/2021), mengatakan, dirinya tidak mendukung karena hingga saat ini tidak ada kejelasan kajian rencana  eskpor batubara yang akan dilakukan tersebut.

"Kami tidak mendukung ya recana kegiatan tersebut disebabkan belum ada kajian detail terkait wacana itu. Terlalu dini untuk kita katakan mendukung suatu kegiatan yang belum jelas," ungkapnya. Saat ditanya kembali sikapnya, M Nur mengaku menolak. “Secara umum ya menolaklah, mana ada keuntungan buat masyarakat. Yang sudah pasti lingkungan rusak, seperti yang sudah-sudah,” katanya.

Ia menjelaskan, kajian yang ia maksud adalah bagaimana dampak positif dan negatif dengan adanya ekspor batubara melalui pelabuhan di Kabupaten Aceh Jaya. "Banyak hal yang perlu dikaji untuk hal ini, mulai dari pelabuhan nanti itu bagaimana, kondisi jalan bagaimana," ungkapnya.

M Nur  membenarkan bahwa aktivitas ekspor batubara tersebut memang akan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Namun, masyarakat juga perlu menyadari bahwa serapan tenaga kerja yang akan dilakukan tidak akan mampu menutupi efek buruk yang ditimbulkan.

Dirinya juga meminta  masyarakat untuk melihat dengan kacamata yang penuh dan tidak hanya lantaran faktor ekonomi semata. "Jangan nanti kita kaya cepat, miskin terlalu lama, masyarakat harus melihat ini secara keseluruhan. Jangan hanya untuk sesaat," ungkap M Nur.

Selain itu, menjadikan pelabuhan ekspor batubara juga tidak semudah membuat kajian pembangunan TPI, lantaran kelasnya berbeda. Untuk pelabuhan sendiri, nantinya yang akan masuk adalah kapal tongkang, bukan kapal kontainer atau kapal lainnya.

M Nur juga menyarankan masyarakat untuk melihat kabupaten tetangga dimana sudah beberapa kali insiden tumpahnya batubara dari kapal tongkang ke laut, hingga menyebabkan ekosistem laut terganggu."Berapa banyak sudah batubara yang tumpah ke laut di Meulaboh. Bagaimana dengan kondisi saat ini, apakah sudah dipulihkan atau belum? Untuk di Aceh Jaya juga tinggi potensi tumpahnya batubara, karena kondisi laut kita tidak sama dengan laut daerah  lain," tuturnya.

Dikatakan, kalau ekspor jadi, maka  untuk mengangkut batubara tersebut juga akan dibuat akses  jalur ke laut. Hal ini tentu akan mengganggu terumbu karang dan ikan di laut. "Jadi habitat laut itu akan mengalami perubahan ketika kapal lalu-lalang, ketika batubara tumpah, jadi harus benar benar-benar melakukan kajian tersebut," tuturnya.(c52)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved