Selasa, 5 Mei 2026

Internasional

WHO Sebut Eropa Menjadi Pusat Global Kasus Covid-19 Sekali Lagi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Eropa kembali menjadi pusat global Covid-19. Eropa disebut, sekali lagi menjadi pusat pandemi virus Corona.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AP/Michael Probst
Seorang wanita berjalan melewati pusat tes virus Corona yang terbengkalai di Frankfurt, Jerman, Selasa (2/11/2021). 

Beberapa negara sudah bertindak untuk memperkenalkan kembali langkah-langkah pengendalian.

Di Hungaria, pemerintah telah memperkenalkan vaksin wajib.

Sedangkan di Belanda, Rumania, Republik Ceko, Slovakia, dan Polandia memiliki aturan yang diperketat, termasuk penggunaan masker.

Saat ini, Eropa timur sedang sangat terpukul oleh kombinasi varian delta yang sangat menular.

Karena mencabut pembatasan terlalu cepat dan tingkat vaksinasi yang rendah.

Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), hanya 22 persen orang di Bulgaria dan 32 persen di Rumania yang memiliki dua suntikan virus Corona.

“Tingkat rawat inap di negara-negara dengan serapan vaksin rendah secara nyata lebih tinggi," jelasnya.

"tetapi, meningkat lebih cepat daripada di negara-negara dengan serapan vaksin lebih tinggi,” kata Dr Kluge.

“Kebanyakan orang yang dirawat di rumah sakit dan meninggal karena Covid-19 ini, tidak sepenuhnya divaksinasi," ungkapnya.

Dr Catherine Smallwood, petugas darurat senior di WHO Eropa, menambahkan Eropa timur tidak mendorong lonjakan keseluruhan kasus di seluruh benua.

“Saya pikir, kita harus sangat jelas di sini,” katanya pada pengarahan.

“Penularan tinggi di banyak negara di kawasan Eropa, keberadaan virus di seluruh kawasan saat ini sangat tinggi, tidak hanya di satu negara,” jelasnya.

Baca juga: Kasus Covid-19 Terus Menanjak Dalam Lima Pekan Berturut-turut di Eropa

Pada konferensi pers, Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan 50.000 orang meninggal akibat Covid secara global setiap minggu.

Dia juga mengulangi seruan bagi negara-negara untuk berhenti memberikan vaksin booster.

Dia mengatakan suntikan tidak boleh dikirim ke negara-negara yang telah memvaksinasi lebih dari 40 persen populasi mereka.

Dia mengaskan harus diberikan kepada yang membutuhkan, terutama negara-negara berkembang.(*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved