Kamis, 7 Mei 2026

Internasional

Partai Penguasa China Memperkuat Cengkeraman Xi Jinping Untuk Periode Ketiga Sebagai Presiden

Partai penguasa China akan memperkuat cengkeraman Xi Jinping dalam pemerintahan. Xi Jinping tetap pemimpin negara terpadat di dunia yang tidak

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AP
Presiden China Xi Jinping memberi aplaus saat meresmikan berakhinya kemiskinan ekstrem di Balai Besar Rakyat Beijing, Kamis (25/2/2021). 

Konten belum dipublikasikan, tetapi waktu penyelesaian menjadi kuncinya, seperti halnya dua resolusi sebelumnya.

Yang pertama, disahkan di bawah Mao pada tahun 1945.

Membantunya memperkuat otoritasnya atas Partai Komunis empat tahun sebelum merebut kekuasaan.

Yang kedua, diadopsi di bawah Deng Xiaoping pada tahun 1981.

Dimana, rezim mengadopsi reformasi ekonomi dan mengakui kesalahan cara-cara Mao.

Tidak seperti dua sebelumnya, resolusi Xi tidak akan menandai putusnya masa lalu, kata Anthony Saich dari Universitas Harvard kepada AFP, Minggu (7/11/2021).

Baca juga: Belasan Pejabat Daerah di China Dicopot karena Dinilai Gagal Tangani Wabah Covid-19 

"Sebaliknya, dimaksudkan untuk menunjukkan Xi adalah pewaris alami dari sebuah proses sejak berdirinya partai," ujarnya.

"Membuatnya memenuhi syarat untuk memimpin di era baru ini," jelas Saich, pakar politik China.

"Tujuannya untuk mengkonsolidasikan Xi sebagai pewaris alami dari sejarah mulia PKC," tambahnya, merujuk pada Partai Komunis China.

Saich juga mengatakan resolusi itu kemungkinan menandai langkah mundur dari teks Deng yang akan mengurangi kritik terhadap era Mao dari 1949 hingga 1976.

Di bawah cengkeraman Mao, puluhan juta orang kelaparan saat rezim berusaha memaksa negara itu menjadi komunis.

Dalam dekade menjelang kematiannya, ia melepaskan Revolusi Kebudayaan, era kekerasan yang melukai jiwa nasional.

Di bawah Deng, partai melihat upaya menghindari pengulangan kultus kepribadian Mao, jika hanya untuk memastikan kelangsungan kekuasaannya.

Menurut sarjana politik pembangkang Wu Qiang otoritas Xi Jinping tidak terbantahkan lagi.

Wu kehilangan pekerjaannya sebagai dosen di Universitas Tsinghua di Beijing karena penelitiannya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved