Pakar Perikanan Bahas Populasi Depik
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh menggelar pertemuan Forum Pakar Multi Spesies Sumberdaya Perikanan Aceh
BANDA ACEH - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh menggelar pertemuan Forum Pakar Multi Spesies Sumberdaya Perikanan Aceh. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel The Pade, Aceh Besar, Senin (15/11/2021), itu untuk menyusun rencana aksi pengelolaan perikanan budidaya dan tangkap.
Pertemuan dihadiri 40 peserta, dari lingkup Pemerintah Aceh, akademisi, NGO kelautan dan perikanan, stakeholder di wilayah provinsi Aceh. Hadir sebagai narasumber, diantaranya Direktur Pengelolaan Sumberdaya Ikan Kementerian Keluatan dan Perikanan (KKP), Syahril Abdul, Kepala Pusat Riset Perikanan KKP, Yayan Hikmayani, Pakar Perikanan UTU, Unimal, Abulyatama, USK, yaitu Prof Dr M Ali Sarong MSi, Adrian Damora, Firman M Nur SSi MSi, Rianjuanda MSi, mantan Kepala DKP Aceh, Ir T Diauddin, mantan Kabid Tangkap DKP Aceh, Ir Endin.
Kepala DKP Aceh yang menjadi keynote speaker, Ir Aliman MSi mengatakan, pertemuan ini dilaksanakan untuk mencari jawaban konkret pembangunan keluatan dan perikanan Aceh, baik budidaya maupun tangkap.
Dikatakan, sejumlah pakar perikanan yang hadir dalam pertemuan ini juga membahas penurunan populasai ikan Depik, yang terdapat di Danau Laut Tawar, Aceh Tengah. Ikan Depik, merupakan salah satu spesies ikan air tawar yang hanya hidup di Danau Laut Tawar. “Karena itu populasinya perlu terus dilestarikan dan dijaga agar tidak sampai punah,” terangnya.
Untuk mengetahi terjadinya penurunan populasi Depik, kata Aliman, perlu dilakukan riset atau penelitian oleh pihak perguruan tinggi bersama para pakar perikanan. “Setelah itu baru dibuat strategi dan metode serta upaya untuk membudidayakannya secara khusus, setelah itu baru dilepas ke Danau Laut Tawar,” ujarnya.
Aliman menjelaskan, program pembangunan perikanan Aceh untuk lima tahun, sudah ada dalam dokumen RPJM dan Renstra, yang diimplementasikan setiap tahun dalam RAPBA/APBA. Dikatakan, dalam penyusunan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kelauatan dan perikanan Aceh, DKP Aceh melibatkan banyak pihak, seperti akademisi, NGO, LSM, pers, dan pihak terkait lainnya.
Ke depan, katanya, DKP Aceh terus melakukan pembinaan industri pengolahan perikanan yang ada dalam Kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaradja Lampulo, Banda Aceh, dan sejumlah pelabuhan perikanan di daerah. Seperti Pelabuhan Perikanan Kuala Idi, Aceh Timur, Ujong Serangga, Aceh Barat, dan lainnya.
Untuk pembangunan budidaya perikanan darat dan tambak, kata Aliman, pihaknya memfokuskan pada pengembangan komoditi yang sudah berjalan. Seperti budidaya ikan Bandeng, udang Vaname, dan lainnya.
Sementara itu mantan kepala DKP Aceh, Ir T Diuddin mengatakan, target dari pembangunan perikanan itu adalah meningkatkan kesejahteraan petani tambak dan nelayan.
Dikatakan, Aceh punya potensi perikanan yang sangat besar, baik darat maupun laut. Untuk mengamankan garis pantai Aceh yang sangat luas ini, pengawasan pantai perlu ditingkatkan, terutama dari pencemaran limbah industri.
Ungkapan sanada juga dilontarkan, Ir Endin dan Ardiansyah, mantan pejabat DKP Aceh. Mereka mengatakan, untuk mendapat hasil tujuan yang ingin dicapai, budidaya harus fokus pada beberapa jenis komoditi perikanan yang sudah familiar dengan petambak setempat.(her)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/perikanan-iipp.jpg)