Internasional
Petugas Keamanan Junta Militer Sudan Tindak Keras Demonstran, 34 Orang Tewas
Pasukan keamanan Sudan menembakkan gas air untuk membubarkan demonstran di ibu kota Khartoum, Kamis (18/11/2021).
SERAMBINEWS.COM, KHARTOUM - Pasukan keamanan Sudan menembakkan gas air untuk membubarkan demonstran di ibu kota Khartoum, Kamis (18/11/2021).
Polisi dikerahkan dalam jumlah besar di Khartoum utara. di mana para demonstran terus melakukan protes sepanjang malam, kata saksi mata.
Tindakan keras paling mematikan terhadap protes anti-kudeta sejak pengambilalihan militer bulan lalu terjadi pada Rabu (17/11/2021).
Setidaknya 15 demonstran tewas dalam protes, kebanyakan dari mereka di Khartoum utara, kata petugas medis.
Pasukan keamanan menembak mati sedikitnya 10 demonstran anti-kudeta dan melukai puluhan lainnya, kata petugas medis, Rabu (17/11/2021).
Hari paling berdarah sejak pengambilalihan militer pada 25 Oktober 2021.
Korban tewas, semuanya di Khartoum, terutama distrik utara.
Baca juga: Korban Demonstran Terus Bertambah di Sudan, Tujuh Orang Tewas di Rumah Sakit
Sehingga, menambah 34 korban tewas akibat kerusuhan sejak militer merebut kekuasaan, kata serikat dokter pro-demokrasi.
Demonstran turun ke jalan di seluruh ibu kota meskipun saluran telepon dan layanan internet telah terganggu sejak militer mengambil alih.
"Rakyat memilih pemerintahan sipil," teriak para demonstran.
Mereka juga meneriakkan slogan-slogan menentang pemimpin junta militer Sudan, jenderal top Abdel Fattah Al-Burhan.
Pasukan keamanan menembakkan gas air mata, melukai beberapa pengunjuk rasa lagi, kata saksi.
Mereka membantah menggunakan peluru tajam.
Serikat dokter mengatakan sebagian besar korban menderita luka tembak di kepala, leher atau dada.
Demonstrasi juga meletus di Port Sudan, kata seorang jurnalis AFP.
Baca juga: Junta Militer Sudan Bubarkan Komisi Pemberantasan Korupsi, Tutupi Bobrok Pencurian Miliaran Dolar
Mereka menentang kudeta yang menghentikan transisi demokrasi setelah penggulingan diktator lama Omar Al-Bashir pada 2019.
"Itu adalah hari yang sangat buruk bagi para pengunjuk rasa," kata Soha, seorang pengunjuk rasa berusia 42 tahun.
"Saya melihat seseorang dengan luka tembak di belakang saya dan ada banyak penangkapan" di Khartoum," tambahnya.
Upaya untuk membendung protes telah membuat ratusan orang ditangkap, termasuk aktivis, orang yang lewat dan jurnalis.
Kepala biro jaringan Qatar Al Jazeera ditangkap Minggu dan dibebaskan Selasa (14/11/2021)
Komite Sentral Dokter Sudan mengatakan pasukan keamanan juga telah menangkap orang-orang yang terluka di dalam rumah sakit Khartoum.
Asosiasi Profesional Sudan, payung serikat pekerja yang berperan dalam protes 2019, mengecam kejahatan besar terhadap kemanusiaan.
Mereka menuduh pasukan keamanan melakukan pembunuhan terencana.
Baca juga: Tentara Sudan Tabrak Seorang Penjahit, Pukul Tanpa Ampun dengan Tongkat
Sedangkan Abdel Fattah Al-Burhan telah menyatakan keadaan darurat usai menggulingkan pemerintah.
Burhan menahan kepemimpinan sipil, menggagalkan transisi ke pemerintahan sipil penuh dan menarik kecaman internasional.
Burhan menegaskan langkah militer bukan kudeta, melainkan dorongan untuk memperbaiki jalannya transisi pemerintahan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/demontran-anti-kudeta-militer-di-sudan.jpg)