Internasional
Ulama Syiah Irak, Moqtada Al-Sadr Minta Pecundang Tidak Ganggu Hasil Pemilu
Ulama Syiah berpengaruh Moqtada Sadr, pemenang besar Pemilu Irak bulan lalu minta pecundang tidak ganggu hasil pemungutan suara.
SERAMBINEWS.COM, NAJAF - Ulama Syiah berpengaruh Moqtada al-Sadr, pemenang besar Pemilu Irak bulan lalu minta pecundang tidak ganggu hasil pemungutan suara.
Seruannya muncul setelah ketegangan berminggu-minggu yang memuncak pada awal November 2021.
Seusai sebuah pesawat tak berawak bermuatan bahan peledak menghantam kediaman Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhemi.
Hasil akhir pemungutan suara legislatif 10 Oktober 2021 masih belum diumumkan.
Tetapi Aliansi Penaklukan (Fatah), cabang politik Hashed Al-Shaabi yang pro-Iran, mengalami penurunan kursi dari 48 menjadi sekitar 15.
Kelompok itu mengecam hasil pemilu dengan menyebut ada penipuan.
Hashed, jaringan paramiliter sekarang terintegrasi dalam pasukan reguler.
Baca juga: Pemerintah Irak Segera Pulangkan Warganya dari Perbatasan Polandia-Belarusia
Sadr, yang berkampanye sebagai seorang nasionalis dan kritikus Iran, menjadi pemenang besar, dengan raihan 70 dari 329 kursi.
Pada konferensi pers, dia berbicara kepada kekuatan politik yang menganggap diri sebagai pecundang dalam pemilihan ini.
Dia mengatakan kekalahan mereka seharusnya tidak membuka jalan menuju kehancuran proses demokrasi Irak.
"Apa yang mereka lakukan, hanya menonjolkan penolakan orang terhadap Anda,” ktanya.
Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan pesawat tak berawak di mana Kadhemi tidak terluka.
Itu terjadi dua hari setelah pasukan keamanan bentrok dengan pendukung partai-partai yang didukung Iran di dekat Zona Hijau.
Meskipun kalah dalam pemilihan, Hash akan tetap menjadi kekuatan politik.
Baca juga: Putra Mahkota Arab Saudi Beri Dukungan ke Perdana Menteri Irak, Usai Jadi Target Pembunuhan
Berbagai faksi di negara itu terlibat dalam negosiasi maraton untuk membentuk aliansi dan menunjuk perdana menteri baru.
Sadr, bagaimanapun, menegaskan kembali perlunya membentuk pemerintahan mayoritas.
“Pilihan kami, sebagai individu atau entitas, adalah sebagai pemerintah mayoritas atau oposisi," ujarnya.
Sejak pemilu, Sadr yang pernah memimpin milisi melawan pasukan pemerintah Amerika dan Irak, berulang kali mengatakan bahwa calon perdana menteri harus dari partainya.
Para ahli mengatakan dia mencoba membangun mayoritas parlemen dengan bersekutu dengan kelompok-kelompok di luar komunitas Syiah.
Pemerintah baru, yang terpilih dalam pemungutan suara dengan jumlah pemilih yang rendah, akan mengambil alih kekuasaan.
Tetapi, 'Negeri 1001 Malam' itu masih yang terperosok dalam korupsi dan krisis ekonomi.(*)
Baca juga: Paus Fransiskus Kutuk Upaya Pembunuhan Keji ke Perdana Menteri Irak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ulama-syiah-irak-moqtada-al-sadr.jpg)